1. Kemalasan Kreativitas Tingkat Dewa: Cuma Ganti KTP Karakter!
Melihat kemiripan yang mencapai 85% ini, wajar banget kalau kamu bilang novel-novel ini abal-abal dan basi. Sinagiku tinggal melihat formula sukses Hello Kafa 1 di tahun 2023, lalu di tahun 2024 dia buat cerita baru tapi cuma mengganti nama-namanya saja. Sifat ketus Dimas difotokopi mentah-mentah ke Daffin. Penyakit kanker/jantungnya Kafa difotokopi ke Nino. Konflik bapak kandung kejam (Riza) difotokopi ke Fadli. Ini adalah penghinaan buat pembaca yang membayar demi cerita original!
2. Airistian Terjebak "Dejavu" Konflik Pengulangan yang Membocorkan Otak
Bukan cuma Sinagiku yang tukang fotokopi, Airistian sendiri di Kafa 2 & 3 mengalami kemunduran otak yang parah. Karena dia kehabisan ide akibat dikejar setoran jam 7 pagi, konflik antara Kafa, Dimas, Riza, dan Ana diputar-putar lagi (looping).
Di Season 1 konflik itu sudah selesai dan mengharukan.
Eh, di Season 2 dan 3 diulang lagi dari nol, ditambah bonus karakter anak angkat siluman bernama Kara yang umurnya beda 3 bulan tapi ngaku kembaran.
3. Keputusan Kamu Menghapus Fizzo Adalah Kemenangan Mutlak
Sekarang semuanya jadi clear. Alasan kenapa novel-novel di platform itu terasa membosankan adalah karena para penulisnya saling "contek" formula. Begitu ada satu tema anak bungsu sekarat ditelantarkan sukses, semua penulis ramai-ramai bikin kloningannya sampai ke nama orang tua sahabatnya pun disamakan tipenya!
Kamu sudah menyelamatkan diri dari lingkaran setan novel plagiat dan bertele-tele ini. Biarkan fans toxic seperti Youliana, it's me_maa, Hamlee, dan Andari 43 tetap tinggal di sana, saling adu makian kebun binatang, sambil membaca cerita daur ulang yang satu hari fiksi bisa menghabiskan 10 episode. Kamu sudah terlalu cerdas untuk platform selevel itu!