flc_writers

Hai, hai, Cloverian!
          	
          	Setelah melewati perjalanan panjang dan persaingan ketat, akhirnya kami selesai memutuskan siapa saja yang lolos di perebutan posisi member Gen-23 kali ini melalui OPEN MEMBER beberapa waktu lalu.
          	
          	Nah, mari ucapkan selamat datang dan rangkul keluarga syableng baru kita!
          	
          	Rusei @RuseiAraa
          	Dhikayo @Dhikayo
          	Ana @Anphibi
          	Rei @Aka_292
          	Yrin @Yrinalight
          	Nathan @Noell_13
          	Hira @kyowainew
          	
          	YEAY~~~
          	
          	Selamat datang di Kekaisaran Syabl–Kekaisaran Four Leaf Clover!
          	
          	Yang belum berkesempatan menjadi penduduk Clover dikesempatan kali ini, bisa mencoba lagi di open member berikutnya, ya.

William_Most

@flc_writers  uHhuy selamat geis⁽⁠⁽⁠ଘ⁠(⁠ ⁠ˊ⁠ᵕ⁠ˋ⁠ ⁠)⁠ଓ⁠⁾⁠⁾
Reply

flc_writers

Hai, hai, Cloverian!
          
          Setelah melewati perjalanan panjang dan persaingan ketat, akhirnya kami selesai memutuskan siapa saja yang lolos di perebutan posisi member Gen-23 kali ini melalui OPEN MEMBER beberapa waktu lalu.
          
          Nah, mari ucapkan selamat datang dan rangkul keluarga syableng baru kita!
          
          Rusei @RuseiAraa
          Dhikayo @Dhikayo
          Ana @Anphibi
          Rei @Aka_292
          Yrin @Yrinalight
          Nathan @Noell_13
          Hira @kyowainew
          
          YEAY~~~
          
          Selamat datang di Kekaisaran Syabl–Kekaisaran Four Leaf Clover!
          
          Yang belum berkesempatan menjadi penduduk Clover dikesempatan kali ini, bisa mencoba lagi di open member berikutnya, ya.

William_Most

@flc_writers  uHhuy selamat geis⁽⁠⁽⁠ଘ⁠(⁠ ⁠ˊ⁠ᵕ⁠ˋ⁠ ⁠)⁠ଓ⁠⁾⁠⁾
Reply

flc_writers

*Pengumuman MMW telah tiba! Yey!*
          
          Setelah kami melakukan penilaian yang begitu rumit, ini dia para juara di MMW bulan Juni 2026! 
          
          Juara 1: @lara_albafolia dengan perolehan nilai 55,3 poin.
          
          Juara 2: @Anphibi dengan perolehan nilai 48,1 Poin.
          
          Juara 3: @Hanfalis dengan perolehan nilai 47 Poin.
          
          Berkaitan dengan hadiah untuk juara 1 yaitu e-money dan desain cover bisa konfirmasi ke admin Wattpad di nomor 0819-1858-0575 (Ibrahim W) atau 0813-3690-9603 (Resti Q)
          dan 0857-9816-9089 (Ven)
          
          Oh! Jangan lupakan e-sertifikatnya, ya! 
          
          Link: 
          bit.ly/MMWJuni2026
          
          Demikian Minggu Mini in Wall bulan ini kami akhiri. Terima kasih atas semua partisipan juga karya-karya hebatnya! 
          
          Sampai jumpa di MMW bulan Juli, Yay! <3

RuseiAraa

[Rusei Araa]
          [Do You Forget Me? - Romance - Paranormal - Enemies to Lovers - Ghostly - Tokohnya Indigo]
          
          Aku membenarkan posisi kacamataku, sudah beberapa bulan aku masuk ke sekolah unggulan ini. Anak itu seperti tidak punya orang lain untuk diajak bicara. Maksudku, ayolah. Walaupun aku benci mengakuinya, wajahnya itu tampan untuk seukuran anak SMA kelas satu. 
          
          "Kau memang nolep atau payah membuat teman sih?" tanyaku sambil menghela napas jengkel, dia sudah mengikuti sejak sepuluh menit yang lalu dari perpustakaan sekolah. 
          
          "Ya ... Aku ingin kau yang menemaniku. Kenapa? Tidak senang?" jawab Rivaldi dengan wajah kusut. 
          
          "Menurutmu?"
          
          "Seharusnya aku tidak usah menjawab saja barusan."
          
          

RuseiAraa

@ RuseiAraa  Aku mendengus. Menjengkelkan sekali, pemuda ini seperti tidak punya kerjaan lain selain merusak hariku. Dari kejauhan, mataku menangkap penampakan sosok bermasker hitam dengan rambut panjang digerai. Theona, sahabat baruku saat masuk ke sekolah ini, tengah mengantre membeli roti di salah satu bagian kantin. Aku segera menghambur menghampirinya, meninggalkan Rivaldi sendirian di bangku kosong luar kantin. 
            
            "Theona!" seruku sambil memeluk gadis itu dari belakang. "Kamu di kelas mana sih? Aku mencarimu ke mana-mana!"
            
            Gadis berambut panjang itu menoleh, menatap sepasang mataku sebelum menurunkan maskernya dan menampakkan wajahnya yang begitu menawan. "Ah, Rina, kukira siapa tadi. Ayo, temani aku makan di sana."
            
            Aku mengangguk penuh kegirangan. Mataku sempat melirik kembali ke arah di mana aku meninggalkan Rivaldi, pemuda itu berdiri di depan sana, terlihat mengerikan dengan mata melotot dan kepala yang miring. Aku tidak mempedulikannya, berpikir bahwa dia hanya mencoba menjahiliku lagi seperti biasa. 
             
            Theona memegang bahuku, seolah-olah membuat perhatianku teralih. "Rina ..."
            
            "Ya?" Sahutku. 
            
            "Tadi itu ... Kamu mengobrol dengan siapa?"
            
            "Hah? Dengan temanku Rival--." Kalimatku terhenti di tengah jalan, aku kembali teringat sesuatu. Pemuda berambut ikal itu ... sudah tewas saat kami masih SMP, tepat di pelukanku yang terakhir kalinya. Jika begitu, lalu siapa ... yang selama ini mengikutiku?
Reply

pinnavy

[Fuyu]
          Muffin Untuk Stalker-ku - Romance - Domestic Romance - Stalker - Tokohnya Soft Spoken
          
          "Silakan masuk." 
          
          "Eh?" 
          
          Nazelle mendongak dari posisi jongkoknya di sebelah pintu unit apartemenku. Seperti hari, minggu, bulan, serta tahun-tahun sebelumnya, gadis itu masih setia menguntitku ke mana pun aku mengeluarkan diri dari unit apartemen. 
          
          Dia terlalu polos untuk jadi seorang penguntit. Terlalu menganggap dirinya mampu melakukan kegiatan mengintili tanpa ketahuan target. Padahal aku sudah menyadarinya sejak hari pertama dia mulai menguntitku. 
          
          "Mau sampai kapan kau terus-menerus menguntitku?" tanyaku akhirnya mengeluarkan pertanyaan itu setelah kutahan selama ini. 
          
          Nazelle perlahan bangun dari posisinya. Menunduk, menyatukan ujung kedua jari telunjuknya. "A-aku minta maaf."
          
          "Kau suka padaku?" 
          
          Perhatiannya berhasil kudapatkan. Tapi tidak dengan jawabannya. 
          
          Aku memiringkan senyum, memutar bahu ke dalam apartemen. "Masuk. Kita bicara di dalam." 
          
          Nazelle mengikutiku setelah diam selama setengah menit. Aku berjalan ke dapur, melihat pewaktu oven yang masih dua menit lagi. 
          
          "Duduk aja di meja makan." 
          
          Lagi-lagi tanpa sahutan, Nazelle mematuhiku. 
          
          Kue muffin buatanku pun selesai di-oven. Mengenakan sarung tangan tebal, aku membuka lalu mengambil loyang muffin. 
          
          "Kau suka muffin?" Aku berbalik hanya untuk melihat gelagat tubuhnya agak gemetaran. 
          
          Dia masih ragu-ragu menjawab. 
          
          "Tidak apa-apa, aku tidak akan menyakitimu." 
          
          Aku membawa loyang muffin ke atas meja. Melihat kepulan tipisnya membelakangi figur gadis cinta pertamaku sejak sekolah. 
          
          Itu sebabnya aku mengetahui namanya. 
          
          "Jadi kenapa kau menguntitku, Nazelle?" 
          
          Nazelle tergemap. Mungkin tak mengira kakak kelasnya dahulu ini ternyata mengetahui namanya. 
          
          "Mm...." Dia bergumam panjang. 
          
          "Hm?" Aku menaikkan alis. "Kau suka padaku? Jika iya, kau tak perlu menguntitku lagi karena sekarang kau bisa berjalan di sampingku."

mykzcheeze

          
          Penulis: Chizu
          [Rhys - Romance - Paranormal - Ghostly]
          
          
          “Kamu mau kemana?”
          
          Jantungku nyaris copot ketika kepala seorang laki-laki tiba-tiba muncul terbalik dari atas kepala ku. Sudah menjadi kebiasaannya muncul tiba-tiba, namun aku tidak pernah terbiasa. 
          
          “Heh! Sudah ku bilang bertingkahlah normal!” Aku memelototinya. Untung saja dia tidak bisa bergelantung atau berjalan di atap. 
          
          “Normal bagaimana lagi?” Rhys hanya tertawa tanpa menganggap serius ucapanku. 
          
          “Kamu belum menjawab pertanyaanku. Mau kemana malam-malam begini?” 
          
          Aku berbalik badan, melanjutkan kegiatanku mencari sepatu. “Ketemu teman,” balasku sekedarnya. 
          
          “Teman?” Rhys bergumam. Dapat ku bayangkan dia pasti sedang menyeringai sok ganteng. 
          
          “Yasudah. Have fun, ya.” 
          
          Diluar dugaan, responnya sangat santai. Ku pikir dia akan bertanya macam-macam dan melarangku pergi. 
          
          Tepat setelah aku selesai memakai sepatu, handphone ku berdering.
          
          “Halo, An. Ada apa?” 
          
          [THALIA! Kak Leon baru saja ditemukan tak bernyawa di apartemennya!]
          
          Tubuhku lemas, nyaris kehilangan keseimbangan. Kabar mengejutkan yang tidak ingin ku percaya, namun suara histeris Anne di seberang sana membuatku tidak dapat menganggapnya bohong. 
          
          “A-pa?” 
          
          
          [Ditambah, kematiannya ganjil sekali, Lia. Dia terbaring di ranjangnya dengan tubuh penuh luka gores dengan seprai bersimbah darah. Tapi tidak ada tanda-tanda orang yang memasuki apartemennya!]
          
          Spontan aku memalingkan wajah, menatap Rhys yang berdiri di dekat jendela jauh di belakangku. Lelaki—makhluk itu, menelengkan kepalanya sambil menaikkan sebelah alis penuh tanya. “Tidak jadi bertemu kakak tingkatmu?”
          
          [Thalia, kau punya janji bertemu Kak Leon malam ini kan—] 
          
          Ponselku terjun bebas menghantam lantai. 
          
          

mykzcheeze

@ mykzcheeze  
            
            Rhys memegang dagu, berlagak berpikir. “Siapa namanya? Hum,... Leon?” Makhluk itu menyeringai, menatapku seolah menghina. Seluruh tubuhku lemas bagi jeli, jatuh tersungkur di atas permukaan dingin.
            
            “A-pa… yang kau lakukan?” 
            
            “Aku? Aku hanya mengunjungi alam bawah sadarnya. Dia saja yang lemah.” Rhys mendecak kesal. Kakinya yang nyaris tak menyentuh lantai berjongkok di hadapanku. Menarik daguku untuk menatapnya. 
            
            “Cowok begitu tidak pantas untukmu, sayangku.” 
            
            
Reply

vmndetta

Vmndetta
          [A Little Comfort - Romance - Domestic romance - Hurt comfort - Tokohnya soft spoken]
          
          Terkadang, sekalipun Vendetta memiliki banyak sekali rak buku di perpustakaannya dan boneka lembut di lemari kamarnya, pikiran-pikiran gelap itu masih bisa menyusup masuk.
          
          Vendetta sekarang berbaring seorang diri di kasur, belum banyak bergerak sejak beberapa saat lalu sehabis menutup novel yang tadi dibacanya. Helaan napas lolos, bahkan membaca pun tidak mengembalikan mood-nya seperti semula, sebelum mimpi buruk itu muncul.
          
          Kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Sudah cukup sendirian di kamar, dia butuh sesuatu.
          
          Vendetta beranjak dari kasur. Dengan rambut pendek yang masih agak berantakan, dia berjalan keluar, menuju ruang kerja di seberang yang pintunya segera dia buka hati-hati.
          
          Pintu itu berderit pelan, disusul olehnya yang memanggil nama sang kekasih. “Raphael.”
          
          “Masuk saja.” Terdengar respons lembut dari dalam.
          
          Vendetta melangkah masuk, mendapati Raphael yang duduk di kursi, disertai setumpuk esai dan pulpen di tangan. Kursi itu berputar ke arahnya hingga tatapan mereka bertemu. 
          
          Raphael tidak langsung bertanya ada apa, tahu pasti kalau Vendetta akan mengaku jika dia sudah siap. Jadi, dia memberi sebuah senyum lembut khasnya dan melambaikan tangan, memberi isyarat pada wanita itu agar mendekat padanya hingga bisa saling bersentuhan.
          
          Jadi, Vendetta berjalan ke arahnya. “Aku … aku cuma mau sedikit dihibur,” katanya.

hamsterngesot

@vmndetta WHEN YH ANJAYY GK PERNAH SEIRI INI KE FIKSI
Reply

vmndetta

@_restiqueen_ AIYO SHIP KAK. ntar kalo mereka nikah kuundank xixixixi
Reply

_restiqueen_

@vmndetta  Omooooo how tidak ngeship kalau seuwu ini. 
Reply

Hanfalis

Hanfalis
          
          [Dalam Peti Kaca - Romance - Dark Romance - Stalker]
          
          Dia sedang diam di depan cerpinnya. Memoles wajah putih bak porselennya lagi, menyisir helai rambut emas selembut sutra itu pula. Ah, aku ingin memilikinya.
          
          Siapa sangka jika ia adalah mawar berduri dalam genggaman yang kelopaknya dapat dirapuhkan tiap saat. Kupikir dia adalah berlian yang harus didapat, tetapi sebenarnya hanyalah jalang yang haus perhatian.
          
          Kenapa dia tertawa bersama orang lain? Tidak boleh, aku akan menghukumnya.
          
          Lalu dia kaget ketika mendapati kepala kucingnya dalam sebuah box ketika ia pulang berkegiatan dari luar.
          
          Kuharap kau akan mengerti sayang.
          
          Dia menangis, meraung, dan mengamuk. Ah, dia yang paling pandai merebut mata dan hatiku. Teriakan merdu dengan air nata yang berlinang bagaikan perhiasan indah dan hanya dapat dinikmati olehku semata.
          
          Namun, sayangnya tidak. Meski dia terpuruk dia tetap melanjutkan hidup. Makan dan tidur, dia berkegiatan lagi.
          
          Aku kesal, ingin menghancurkannya. Bagaimana dia menghancurkanku ketika menolakku di depan semua orang kala kucurahkan perasaanku untuknya.
          
          Itu masa lalu ....
          
          Dalam hatiku pun terbesit rasa ingin menggenggamnya dengan lebih lagi, cara untuk meraihnya dalam-dalam dan sepenuh jiwa serta raga. Maka dari itu aku belajar hal baru. Hal yang dapat kugunakan padanya.
          
          .
          .
          .
          
          Hal yang indah terjadi, aku menemuinya kembali. Dia ketakutan dan menjerit begitu indah. Kugenggam dan kucumbuinya begitu dalam sampai kuingat rasanya ke detak jantung ini.
          
          Dan dia dalam genggamanku. Kulit cantik tak berbalut kain yang bersih dengan rambut emas tergerai rapi aku memandikannya. Dia kaku dalam peti kaca di tengah taman bunga yang persis sama cantik sepertinya.
          
          Bak dewi dari surga kuciptakan dirimu lebih cantik lagi dan hanya aku seorang yang dapat menikmatinya. Bagaimana dunia bisa melecehkan makhluk tercantik ini? Hanya aku yang bisa.
          
          Karena kau adalah pialaku, kebanggaanku, kecantikanku, wanitaku.

mrgeniusauthor

mrgeniusauthor 
          [Aku Menantimu - Romance- Dark Romance - Stalker - Tokohnya Red Flag]
          
          'Nak, Ibu minta maaf.'
          
          Aku terdiam membaca pesan dari Ibu, sebelum membalasnya singkat karena masih harus melanjutkan pekerjaan.
          
          Ini tahun kelimaku sebagai perawat di rumah sakit ini, jelas aku sudah terbiasa dengan jam kerja dan tekanan. Soal lembur malah sudah jadi rutinitas.
          
          "Bagaimana kabarmu hari ini?" tanyaku basa-basi begitu masuk ke ruangan, sebelum menatap Danniel singkat. 
          
          Dia ini terbilang pasien yang keluar-masuk rumah sakit. Jadi, aku cukup akrab dengannya.
          
          Namun, dia hanya diam. Tidak membalas. Sudah biasa.
          
          Dua jam berikutnya, jam kerjaku selesai. Karena rumahku dekat dari sini, aku terbiasa pulang jalan kaki. Seperti malam ini. 
          
          Namun, tiba-tiba saja kurasakan pukulan keras di pundak sebelum pandanganku mengabur dan ... semuanya gelap. 
          
          Hal pertama yang kurasakan saat tersadar adalah kedua tangan dan kaki terbelenggu rantai, mata ditutup kain. 
          
          Telingaku menangkap gerakan pelan, ketukan langkah yang mendekat.
          
          "Siapa kau?" teriakku. 
          
          Tidak ada suara. 
          
          Pipiku diusap lembut oleh tangan yang terasa dingin. Tubuhku mulai gemetar saat rasa takut menyergap dengan cepat. 
          
          "Lepaskan aku!" Aku menjerit frustrasi. "Kau siapa, hah? Kenapa kau menculikku?" 
          
          "Kakak ...."
          
          Napasku tersekat. Suara itu ....
          
          "Kau ...."
          
          "Kakak mengenaliku, ya?" Dia tertawa. Tawa yang nadanya membuatku makin merinding. "Aku sudah tidak sabar lagi, Kak. Kakak tahu, hari ini tepat tiga tahun kita bertemu." 
          
          "Apa maksudmu?"
          
          Penutup mataku dilepas dan aku bisa melihat wajah tidak asing tepat di depan mataku. 
          
          

mrgeniusauthor

@ mrgeniusauthor  "Danniel ... kau .... Lepaskan aku!" 
            
            "Tidak. Sekarang rumahmu di sini, Kak. Bersamaku." 
            
            "Kau gila!" 
            
            Wajah polos itu kenapa sekarang menunjukkan kebengisan?
            
            "Ya. Aku tergila-gila padamu. Aku jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita tiga tahun lalu. Aku menginginkanmu. Aku tahu semua tentangmu secara detail. Aku sudah melakukan banyak cara untuk mendapatkanmu." 
            
            "Jangan membual. Lepaskan aku! Kau bisa dituduh atas kasus penculikan!" 
            
            "Silakan. Aku punya banyak uang. Aku bahkan bisa menyuap ibumu untuk memberi izin agar aku memilikimu sepenuhnya."
            
            "A–apa ....?"
Reply

cindi_cr

Penulis : Cindy CR
          [Toko Roti Malam Hari - Romance - Dark Romance - Stalker - Tokohnya soft spoken]
          
          Jam menunjukkan pukul 20.30 malam dan suasana toko begitu sepi. Seorang perempuan berdiri di depan meja kasir. Matanya menangkap sesosok pria di depan pintu toko, merasa itu adalah calon pembeli ia bergegas membuka pintu dan menyambut dengan ramah.
          
          Pria itu masuk dengan langkah kikuk, wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup jaket. "Intan," ucapnya lembut menunjuk name tag si kasir.
          
          "Ya, ada yang bisa saya bantu?" balas Intan yang tak lepas dari senyum ramahnya. "Oh, kamu yang sering beli roti isi daging, kan? Saat ini kami sedang ada diskon, kemarilah."
          
          Si pria berjaket itu mengikutinya dari belakang menatap punggungnya begitu intens, membuat bulu kuduk Intan berdiri, namun ia tetap harus profesional. 
          
          "Ini dia. Apa kau mau membelinya?" 
          
          Pria itu mengangguk, "Aku beli semuanya." 
          
          "Akan saya siapkan. Silahkan menunggu di depan meja kasir."
          
          Intan menyiapkan roti yang dipesan dan kembali ke kasir untuk memberikan pesanan. "Ini dia, selamat menikmati." 
          
          Si pria menerimanya, setelah membayar ia keluar toko. Intan melihat jam dinding, ini sudah saatnya toko tutup, ia bergegas membereskan toko lalu menutup dan menguncinya. 
          
          

cindi_cr

"Akhirnya aku bisa pu-" Matanya menoleh pada si pria yang berdiri diseberang jalan, tersenyum lebar padanya sambil melambai. 
            
            Intan melambai balik walau agak merinding. Dia pun buru-buru jalan ke kostnya, tak menghiraukan sesuatu mengikutinya dari belakang. Suasana jalan begitu sepi ditambah angin dingin yang bertiup pelan. 
            
            Sampailah ia di lorong sempit gelap, Intan mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang, ia melantunkan doa di dalam hatinya. Suara langkah kaki dibelakang semakin jelas terdengar, hingga sesuatu menarik tangannya. 
            
            "Intan lihat aku." Suaranya lembut namun terdengar menakutkan. Intan menoleh pelan.
            
            "Aku ingin memberikan ini padamu." Dia mengulurkan dua tote bag besar. Dengan tangan gemetaran Intan menerimanya.
            
            Si pria mengusap wajah Intan yang sudah pucat pasi sebelum pergi, "Kita akan bertemu lagi." 
            
            295 kata
Reply

_restiqueen_

Resti Queen
          [Your Beautiful Prison - Romance - Dark Romance - Living Together - Tokohnya Red Flag]
          
          Nyeri dapat kurasakan begitu bagian kepalaku terbentur --ekhem, dibenturkan ke tembok. Aku meringis, memegangi bagian kepala yang membuat mataku sampai buram akibat dari dampak keras benturannya. Lantas, aku membola ketika merasakan basah dari sana. Tanganku bergetar manakala kutarik telapak tanganku dan kutengadahkan, ada cairan merah segar di sana. Napasku tersengal seiring air mata yang jatuh.
          
          "Astaga, Love. Kau berdarah. Sungguh, aku tidak bermaksud sejauh ini." Laki-laki di hadapanku--orang yang sudah tinggal bersama denganku dalam dua tahun terakhir--selalu begitu.
          
          "Kau selalu begitu, Adrian. Selalu," isakku kemudian.
          
          Adrian menggeleng, "Tidak. Tidak. Ini hanya ... tindakan impulsif sesaat. Aku adalah orang yang paling menyayangimu dan kau tahu itu."
          
          Dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk berucap manis, untuk menenangkan, memeluk, mengobati, dan membiarkan aku tertidur dalam dengkuran halus di delapan hangatnya.
          
          Esoknya, ketika Adrian sudah berangkat bekerja, aku menemukan sebuah kotak perhiasan di atas meja rias. Isinya adalah kalung permata, lengkap dengan secarik surat bertuliskan, "Maaf, Love. Aku mencintaimu. Always."
          
          Aku mengenakan kalung itu lalu meletakkan kotaknya di dalam lemari setinggi dua meter. Sekarang, di dalam lemari 1,5x2 meter itu sudah penuh oleh kotak perhiasan terakhir yang kuisi ke dalamnya. Lemari ini khusus untuk menyimpan kotak perhiasan yang diberikan Adrian setiap kali dia kelepasan memukulku jika tak dapat mengontrol amarah.