Mata Kaluna mengerjap lambat, seakan otaknya berusaha mencerna informasi tersebut. Bayangan sosok Xabiru yang selalu tenang, dingin, dan penuh kendali, tiba-tiba menghilang oleh gambaran pria yang panik setengah mati demi dirinya.
"Terus, gimana setelah itu, Kak?" tanya Kaluna lagi.
"Ya, langsung dobrak pintu kamar Lo, lah!" Bella gemas sendiri melihat respon Kaluna yang terlihat datar dan biasa saja. "Makannya, pas gue nyusul ke sini, gue liat beliau udah meluk Lo. Nggak erat sih, tapi woilah seorang Dokter Xabiru meluk orang, cewek lagi! Mana ekspresinya ituloh, Kal, demi apapun dia takut banget!"
Memang benar, dikala ketakutan menggertak dirinya, satu hal yang masih melekat dalam benaknya bahwa pria itu datang tanpa dipinta---menjadi ketenangan yang datang tatkala badai telah usai.
"Dia sebegitunya, ya? Padahal ... kita kenal belum lama,"
Bella mendengus pelan, lalu meletakkan kaleng wafer di atas meja nakas dengan ketukan yang cukup sengit mewakili emosinya. Ia menatap Kaluna lekat-lekat, seolah tak habis pikir dengan ketidakpekaan sahabatnya itu.
"Dengerin gue, Kal," kata Bella, nadanya mendadak serius tanpa kehilangan cara bicaranya yang ceplas-ceplos, dan suaranya yang nyaring. "Cowok kayak Dokter Xabiru itu gengsinya selangit woi, wong berkelas gitu. Lo pikir dia bakal lari-lari kayak atlet marathon dan mempertaruhkan kakinya buat dobrak pintu kamar Lo, cuma buat orang yang katanya belum kenal lama?"
https://www.wattpad.com/1641431534