gardeniaja_

          	
          	"Kamu memang datang sebagai seorang pasien di sana, mempertanyakan ketidakmungkinan dan menentang garis takdir-Nya. Tapi bagi-Nya, itulah sebuah prolog dari lukisan semesta yang membentuk garis takdir kisah kita, hingga ... ia menuntun kita untuk sampai di sini setelah perjalanan penuh liku, dan persimpangan yang rumpang,"
          	
          	"Ini kisah kita, Kaluna ...."
          	
          	Kaluna tertegun, dadanya berdesir hangat mendengar penuturan itu, Mata yang tadinya hanya mengagumi mural, kini perlahan berkaca-kaca menatap Xabiru yang berdiri begitu kokoh di sampingnya.
          	
          	Xabiru menyelipkan jemarinya ke sela-sela jemari Kaluna, menggenggamnya erat. "Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Kamu bukan hanya ibu dari Wildflower, bukan pula advokat yang selalu membela hak-hak mereka. Kamu adalah rumah, rumah bagi saya."
          	
          	Pria itu memundurkan langkahnya, lalu berjongkok tepat di hadapan Kaluna. Tatapannya mendongak tegak, terkunci sepenuhnya pada kedua bola mata Kaluna yang menyisakan binar haru. "Saya seorang dokter. Selama ini terbiasa dengan dunia klinis dan ribuan benang yang tersulam rapi, saya juga memandang dunia penuh luka yang tak pernah berujung. Lalu, kamu datang tanpa banyak kata memberi saya sebuah makna tentang kehidupan,"
          	
          	"Yang mana ... mau sekeras apapun ujiannya, selama di dalamnya terdapat seseorang yang kita perjuangkan, saya percaya manusia akan selalu menemukan cara untuk bertahan,"
          	
          	Xabiru menghela napasnya sesaat. "Saya Xabiru Nafreeza Tsabits Gumantoro dengan segala keterbatasan saya sebagai manusia, ingin menyampaikan satu hal yang selama ini tumbuh dalam diri ini. Saya ingin merayakan cinta ini bukan hanya dalam kata-kata, tetapi di dalam sebuah ikatan yang jauh lebih erat dan mengikat,"
          	
          	"So, will you marry me, Yustisia?"
          	
          	https://www.wattpad.com/1644197407

gardeniaja_

          
          "Kamu memang datang sebagai seorang pasien di sana, mempertanyakan ketidakmungkinan dan menentang garis takdir-Nya. Tapi bagi-Nya, itulah sebuah prolog dari lukisan semesta yang membentuk garis takdir kisah kita, hingga ... ia menuntun kita untuk sampai di sini setelah perjalanan penuh liku, dan persimpangan yang rumpang,"
          
          "Ini kisah kita, Kaluna ...."
          
          Kaluna tertegun, dadanya berdesir hangat mendengar penuturan itu, Mata yang tadinya hanya mengagumi mural, kini perlahan berkaca-kaca menatap Xabiru yang berdiri begitu kokoh di sampingnya.
          
          Xabiru menyelipkan jemarinya ke sela-sela jemari Kaluna, menggenggamnya erat. "Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Kamu bukan hanya ibu dari Wildflower, bukan pula advokat yang selalu membela hak-hak mereka. Kamu adalah rumah, rumah bagi saya."
          
          Pria itu memundurkan langkahnya, lalu berjongkok tepat di hadapan Kaluna. Tatapannya mendongak tegak, terkunci sepenuhnya pada kedua bola mata Kaluna yang menyisakan binar haru. "Saya seorang dokter. Selama ini terbiasa dengan dunia klinis dan ribuan benang yang tersulam rapi, saya juga memandang dunia penuh luka yang tak pernah berujung. Lalu, kamu datang tanpa banyak kata memberi saya sebuah makna tentang kehidupan,"
          
          "Yang mana ... mau sekeras apapun ujiannya, selama di dalamnya terdapat seseorang yang kita perjuangkan, saya percaya manusia akan selalu menemukan cara untuk bertahan,"
          
          Xabiru menghela napasnya sesaat. "Saya Xabiru Nafreeza Tsabits Gumantoro dengan segala keterbatasan saya sebagai manusia, ingin menyampaikan satu hal yang selama ini tumbuh dalam diri ini. Saya ingin merayakan cinta ini bukan hanya dalam kata-kata, tetapi di dalam sebuah ikatan yang jauh lebih erat dan mengikat,"
          
          "So, will you marry me, Yustisia?"
          
          https://www.wattpad.com/1644197407

gardeniaja_

Ia menunjuk dirinya sendiri. "Saya merebut? Kamu salah besar, Tuan. Justru ... Anda yang telah menyia-nyiakan kilauan emas yang mencintai Anda dengan tulus tanpa pamrih. But, you? Telah buta. Menganggap perempuan itu sebagai batu loncatan demi popularitas bukan untuk cinta."
          
          "Jadi, berhentilah menganggap saya perebut."
          
          Xabiru hampir meninggalkan tempat ini, tetapi satu hal masih mengganjal di pikirannya. "Oh, termasuk tujuh tahun yang lalu. Anda kemana saja ketika perempuan itu menangis di IGD saya, hah? Tidak ada, kan? Lu cemen, Bro."
          
          Xabiru mengulas senyum tipis. Ia mengangkat tangan kirinya santai, mengacungkan ibu jarinya tegak lurus, lalu perlahan membalikkannya tepat di depan mata pria itu.
          
          "See? I've always been the winner, dan tinggalah Anda di sini membusuk bersama sisa-sisa kesombongan dan harga diri yang sudah tak bertuan,"
          
          Ia merapikan kerah kemejanya yang rapi, sengaja memperlambat gerakannya dan tampak begitu provokatif. Lalu, mengedipkan sebelah matanya sebelum berbalik badan.
          
          "See you, Narapidana."
          
          
          https://www.wattpad.com/1644517293

gardeniaja_

Kaluna menghentikan langkahnya, mendadak teringat sesuatu. Ia berbalik, mengambil sebuah jas putih yang menggantung di lemari. Xabiru mengernyit. 
          
          "Kok ada di kamu?"
          
          Perempuan itu tak menjawab, ia berjalan mendekat sembari mengangkat jas putih itu perlahan, lalu membentangkannya di hadapan pria tersebut.
          
          "Nunduk, Dok."
          
          Xabiru menurut, ia menundukkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan perempuan setinggi 147 cm itu. Dengan gerakan yang begitu telaten, Kaluna membantu mengenakan jas putih itu ke tubuh Xabiru. Jemarinya merapikan kerah, meluruskan lipatan lengan, lalu menepuk pelan bagian bahunya seolah memastikan tak ada sedikit pun kusut yang tersisa.
          
          "Nah, now you look so perfect, Doctor."
          
          Xabiru tersenyum, ia menegakkan tubuhnya dan sesaat melirik jas putih yang kembali melekat sempurna di dadanya. Lalu, menatap perempuan di hadapannya itu. "I've been waiting for this moment for so long."
          
          
          https://www.wattpad.com/1644167431

gardeniaja_

MENJELANG ENDING! 
          
          Ia memejamkan mata erat-erat, setitik air mata terjatuh tanpa ia bisa bendung. Lalu, ia merasakan sebuah lengan kekar mendekapnya dari belakang tanpa permisi. Aroma familier yang begitu maskulin seketika memenuhi indera pembaunya. Dekapan itu begitu erat, menyalurkan kehangatan yang kokoh dan perlindungan mutlak yang mampu menciptakan rasa aman.
          
          "Sudah kubilang, jangan pernah memendam sendirian lagi," bisiknya. Xabiru membenamkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu, menghirup aroma wangi sabun beraroma bunga yang begitu menenangkan saraf-sarafnya.
          
          "Enggak, nggak ada yang nangis. Ini tadi mataku kejatuhan bawang merah lima puluh biji," sanggah Kaluna. 
          
          Xabiru terkekeh pelan. Tawanya begitu dekat hingga getarannya terasa begitu jelas di punggung perempuan itu. "Lima puluh? Terus, mana bawangnya?"
          
          Kaluna mendengkus pelan, buru-buru menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. "Jangan dibahas."
          
          Xabiru mengangguk patuh, meski senyum tipis itu masih bertahan di wajahnya. "Baik, nggak saya bahas. Tapi ... lain kali kalau ada bawang sebanyak itu, panggil saya,"
          
          "Biar apa?"
          
          "Biar saya yang nangis duluan."
          
          https://www.wattpad.com/1643981351

gardeniaja_

Kaluna mengangguk, ia berjalan mendekati Xabiru dengan langkahnya yang anggun dan penuh kemenangan yang mutlak. Xabiru mendongak, menatap lekat wajah perempuan itu dan baru menyadari, jelaga masih terlihat menghiasi beberapa bagian kulitnya sebagai bukti fisik dari perjuangan hidup mati perempuan itu di luar sana. 
          
          "Kau terlambat, Advokat Kaluna," bisik Xabiru, seulas senyum tipis di sudut bibirnya tak mampu menyembunyikan binar lega yang kini menyala di kedua matanya.
          
          Kaluna hanya menanggapi dengan kerlingan mata yang dingin, sarat akan arti sebelum akhirnya kembali menatap Syahdan yang kini mati kutu dibuatnya. "Dia akan tersiksa seumur hidupnya," desisnya. Lalu menatap Xabiru kembali, "Kita menang, Dok."
          
          Tanpa banyak kata, dengan cepat Xabiru menghambur maju. Ia langsung merengkuh erat tubuh Kaluna dalam dekapan hangatnya yang sarat akan kasih sayang dan rindu yang tak lagi bisa terbendung. Kedua lengannya melingkar protektif, seolah ingin memastikan bahwa perempuan di pelukannya ini nyata, bukan sekadar halusinasi yang membuat Kaluna menghilang lagi.
          
          "Aku di sini," bisik Kaluna lirih, tepat di dekat telinga Xabiru.
          
          
          https://www.wattpad.com/1643725235

gardeniaja_

Ia melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Kaluna bisa mencium aroma familiar yang menguar dari parfum pria itu. Mata mereka bertemu---mata yang sama yang pernah menatapnya penuh cinta dan memuja bak dewi kecantikan yang tak ada tandingnya---kini, mata itu menyiratkan kebencian yang begitu mendalam terhadapnya. "Dan, sekarang kita berdua di sini. Sama-sama bekerja di ... dunia keadilan, dan kudengar ... kamu mundur sebagai penasihat hukum pembunuh itu, pilihan yang bijak, Kaluna,"
          
          Kaluna mengerutkan keningnya, seakan tak percaya apa yang ia dengarkan itu. "Keadilan? Maksudmu? Keadilan yang penuh permainan yang kamu kendalikan itu, Pak Jaksa?"
          
          Tangannya terangkat, mencengkeram pelan kerah pria itu. "Kamu nggak pantas bicara keadilan, Syahdan."
          
          Syahdan tak terkejut, ia juga tak berniat memberikan sebuah perlawanan untuk memberontak. Justru, pria itu menundukkan sedikit---menyejajarkan wajahnya dengan Kaluna hingga perempuan itu bisa menangkap kilatan dingin di balik sepasang manik matanya. "Lalu siapa yang pantas, Kaluna? Kamu? Kamu saja membela pembunuh demi cinta monyetmu itu. Atau, saya yang mengeksekusi hukum sesuai aturan main?"
          
          
          https://www.wattpad.com/1642794164

gardeniaja_

Penyidik itu mengerutkan keningnya, sebelum akhirnya memajukan tubuhnya meletakkan kedua tangannya ke atas meja. "Dan Anda masih bisa tersenyum setenang ini, Dokter? Pasien Anda meninggal dunia kurang dari dua puluh empat jam setelah meminum resep yang Anda berikan,"
          
          "Saya? Saya tersenyum karena Anda sedang membangun asumsi tanpa dasar hukum yang kuat, Pak Penyidik," jawab Xabiru tenang. Suaranya rendah, tetapi mengisi kesunyian ruang interogasi. "Anda penyidik, kan? Mengapa Anda bertindak seolah-olah tak pernah disumpah atas seragam Anda? Dan ... saya pikir, saya tidak perlu repot-repot menjelaskan itu semua. Buang waktu."
          
          "Tindakan fundoplikasi laparoskopi yang saya lakukan berjalan sempurna, pasien stabil dan tidak ada indikasi komplikasi lain. Lalu, rawat jalan sesudahnya juga menunjukkan perbaikan yang signifikan, saya pastikan itu. Berita acara operasi, laporan anestesi hingga indikator vital pasien saat discharge menyatakan beliau stabil. Semuanya jelas, tercatat legal di rekam medis," suaranya tegas tak terbantahkan. 
          
          https://www.wattpad.com/1641686939

gardeniaja_

Mata Kaluna mengerjap lambat, seakan otaknya berusaha mencerna informasi tersebut. Bayangan sosok Xabiru yang selalu tenang, dingin, dan penuh kendali, tiba-tiba menghilang oleh gambaran pria yang panik setengah mati demi dirinya.
          
          "Terus, gimana setelah itu, Kak?" tanya Kaluna lagi.
          
          "Ya, langsung dobrak pintu kamar Lo, lah!" Bella gemas sendiri melihat respon Kaluna yang terlihat datar dan biasa saja. "Makannya, pas gue nyusul ke sini, gue liat beliau udah meluk Lo. Nggak erat sih, tapi woilah seorang Dokter Xabiru meluk orang, cewek lagi! Mana ekspresinya ituloh, Kal, demi apapun dia takut banget!"
          
          Memang benar, dikala ketakutan menggertak dirinya, satu hal yang masih melekat dalam benaknya bahwa pria itu datang tanpa dipinta---menjadi ketenangan yang datang tatkala badai telah usai. 
          
          "Dia sebegitunya, ya? Padahal ... kita kenal belum lama,"
          
          Bella mendengus pelan, lalu meletakkan kaleng wafer di atas meja nakas dengan ketukan yang cukup sengit mewakili emosinya. Ia menatap Kaluna lekat-lekat, seolah tak habis pikir dengan ketidakpekaan sahabatnya itu.
          
          "Dengerin gue, Kal," kata Bella, nadanya mendadak serius tanpa kehilangan cara bicaranya yang ceplas-ceplos, dan suaranya yang nyaring. "Cowok kayak Dokter Xabiru itu gengsinya selangit woi, wong berkelas gitu. Lo pikir dia bakal lari-lari kayak atlet marathon dan mempertaruhkan kakinya buat dobrak pintu kamar Lo, cuma buat orang yang katanya belum kenal lama?"
          
          https://www.wattpad.com/1641431534

gardeniaja_

          Selang beberapa saat, kabut mulai menghilang. Kaluna membuka matanya, sosok pria misterius tadi berhasil menghilang dari pandangannya berganti dengan wajah yang begitu familier---wajah yang selalu mampu menghadirkan ketenangan setiap kali badai menerpa kapalnya.
          
          Pria itu langsung berlutut di depannya, mencengkeram kedua bahu Kaluna dengan guratan panik yang tak bisa ia sembunyikan lewat sepasang manik matanya.
          
          "Are you okay, Kaluna?!"
          
          Kaluna mengerjap beberapa kali, seolah memastikan ap apa yang dilihatnya bukanlah sekadar mimpi maupun ilusi. "Dokter Xabiru?"
          
          "Yeah, it's me. Look at me, Kalu, are you hurt? Apa yang dia lakukan padamu?"
          
          Kaluna masih tidak menjawab, sementara pandangannya memedar ke segala penjuru ruangan seakan penyusup itu bisa muncul kapan saja di hadapannya. Ia menggeleng.
          
          "Hey, hey, look at me, Kalu. Kamu aman, saya di sini dan tak akan membiarkan dia menyentuhmu lagi,"
          
          https://www.wattpad.com/1640936355

gardeniaja_

"Maaf, Pak, selamat sore. Bapak cari apa, ya?" Tanya satpam, sedikit waspada dengan pria asing di depannya terlebih gelagaknya yang tak biasa tampak mengobservasi menjadikan Wildflower sebagai objek penelitiannya.
          
          Pria itu menoleh, ia menyunggingkan senyum hangat yang tampak begitu tulus tipikal seorang akademisi yang disegani dan mengabadikan hidupnya pada ilmu pengetahuan. "Saya?"
          
          "Melihat masa depan dari keadilan jika tidak dirampas oleh ... kekuasaan."
          
          Jawabannya yang retoris membuat ia tertegun, baru kali ini Wildflower kedatangan orang yang langsung mengatakan sebagaimana yang selama ini Kaluna perjuangkan.
          
          "Dan, saya dengar ... di sini adalah jawaban atas begitu ketidakadilan. Rupanya, kabar itu benar, di sini mereka bebas bersuara tanpa rasa takut yang menghantui," Pria itu memberi jeda sejenak untuk menarik napasnya. Angin sore berembus pelan membuat senyum hangat di wajahnya semakin dalam yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang dingin dan sarat akan arti. 
          
          Ia terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar begitu tenang tetapi menyimpan intensitas yang berbahaya. "Tapi justru itulah yang membuat tikus-tikus keluar dari tempat persembunyiannya."
          
          https://www.wattpad.com/1640637978