harakanaka

Menulis Men(Dian)g bukanlah sekadar menyusun kronologi dari apa yang pernah terjadi. Menulis cerita ini adalah upaya menelusuri labirin ingatan yang sengaja dibangun oleh pelakunya.
          	
          	Selama ini, kita mengenal kisah Yanuar dan Dian melalui kacamata Safi, yang menyusun ceritanya berdasarkan pengakuan-pengakuan Dian. Kita juga sempat melihat dunia melalui sudut pandang Yan, yang sengaja ia poles sedemikian rupa agar tampak sebagai laki-laki paling berkorban—seperti yang Dian minta untuk ia ceritakan, demi menjaga sisa martabat yang tersisa.
          	
          	Namun, dalam Mendiang, saya tidak ingin menyajikan versi yang "diinginkan" oleh tokoh-tokohnya. Saya ingin membedah apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai kain batik sogan dan pintu motel melati itu.
          	
          	Kalian mungkin akan menemukan ketidakkonsistenan dalam narasi ini. Kalian akan bertanya, mana yang sebenarnya bohong? Jawabannya sederhana: keduanya.
          	
          	Dian berbohong untuk menutupi rasa malu dan harga dirinya yang hancur, sementara Yan berbohong untuk mempertahankan citra sebagai laki-laki baik yang tak pernah ternoda. Dalam memoar ini, saya mencoba menanggalkan topeng-topeng itu. Di sini, saya tidak lagi menuliskan apa yang mereka katakan, melainkan apa yang mereka sembunyikan.
          	
          	Selamat datang di versi yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Versi yang jujur, menyakitkan, dan mungkin, jauh lebih kelam dari apa yang pernah kalian bayangkan.
          	
          	https://www.wattpad.com/story/407128063-men-dian-g

harakanaka

Menulis Men(Dian)g bukanlah sekadar menyusun kronologi dari apa yang pernah terjadi. Menulis cerita ini adalah upaya menelusuri labirin ingatan yang sengaja dibangun oleh pelakunya.
          
          Selama ini, kita mengenal kisah Yanuar dan Dian melalui kacamata Safi, yang menyusun ceritanya berdasarkan pengakuan-pengakuan Dian. Kita juga sempat melihat dunia melalui sudut pandang Yan, yang sengaja ia poles sedemikian rupa agar tampak sebagai laki-laki paling berkorban—seperti yang Dian minta untuk ia ceritakan, demi menjaga sisa martabat yang tersisa.
          
          Namun, dalam Mendiang, saya tidak ingin menyajikan versi yang "diinginkan" oleh tokoh-tokohnya. Saya ingin membedah apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai kain batik sogan dan pintu motel melati itu.
          
          Kalian mungkin akan menemukan ketidakkonsistenan dalam narasi ini. Kalian akan bertanya, mana yang sebenarnya bohong? Jawabannya sederhana: keduanya.
          
          Dian berbohong untuk menutupi rasa malu dan harga dirinya yang hancur, sementara Yan berbohong untuk mempertahankan citra sebagai laki-laki baik yang tak pernah ternoda. Dalam memoar ini, saya mencoba menanggalkan topeng-topeng itu. Di sini, saya tidak lagi menuliskan apa yang mereka katakan, melainkan apa yang mereka sembunyikan.
          
          Selamat datang di versi yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Versi yang jujur, menyakitkan, dan mungkin, jauh lebih kelam dari apa yang pernah kalian bayangkan.
          
          https://www.wattpad.com/story/407128063-men-dian-g