Aku bahkan tidak tahu harus menyebut kisah mereka sebagai kisah cinta yang indah atau menyakitkan.
Sejak awal, cinta mereka telah diuji oleh begitu banyak hal, perbedaan, restu yang tak kunjung datang, keadaan yang memaksa mereka berpisah, hingga akhirnya takdir kembali mempertemukan mereka.
Aku pikir, setelah semua luka yang
mereka lalui, mungkin kali ini mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang pantas mereka dapatkan.
Ternyata, kebahagiaan itu hanya dipinjamkan sebentar.
Cinta mereka kembali diuji oleh sesuatu yang tak mampu dilawan siapa pun. Hingga pada akhirnya, maut menjadi satu-satunya hal yang mampu memisahkan mereka.
Aku bangga pada mereka. Pada cinta yang tetap bertahan meski berkali-kali dihancurkan oleh keadaan. Cinta yang mungkin tak selalu memiliki kesempatan untuk bersama, tetapi tak pernah benar-benar berhenti saling mencintai.
Penulis berhasil mengobrak-abrik hatiku dengan begitu sempurna, membuatku menangis, berharap, bahagia, lalu kembali patah hati. Namun, aku juga tak bisa sepenuhnya membenci akhir cerita ini, karena di kehidupan selanjutnya, mereka akhirnya mendapatkan apa yang sejak awal selalu mereka inginkan,
kesempatan untuk saling mencintai dan hidup bahagia bersama selamanya.
Mungkin di kehidupan pertama, mereka adalah cinta yang terlambat. Di kehidupan kedua, cinta yang terlalu singkat. Namun di kehidupan selanjutnya, semoga mereka menjadi cinta yang tak lagi harus berperang melawan keadaan.
Terima kasih kepada author yang telah merajut kisah ini dengan begitu dalam dan penuh rasa, sebuah karya yang membuat pembacanya ikut mencintai, berharap, patah hati, dan berduka bersama tokoh-tokohnya.
Dan untuk mereka berdua, terima kasih telah menunjukkan bahwa ada cinta yang begitu dalam, hingga bahkan kematian pun hanya mampu memisahkan raga, bukan perasaan.