Satu-satunya alasan aku menulis "Unforgottable You" adalah agar aku dan kamu tetap abadi—setidaknya dalam sebuah cerita.
Aku mengingat semuanya... samar, tapi cukup jelas, seolah-olah kenangan itu menggantung di dalam hatiku namun tak pernah benar-benar pergi.
Saat aku mulai membuat kerangka cerita, mencoba memanggil seluruh ingatan tentang kita, aku -Jatuh.
Setiap tulisan yang pernah kamu kirimkan, setiap obrolan larut malam yang membuatku tertawa tanpa alasan—semuanya kembali dalam ingatanku.
Tidak, aku tidak hanya kembali mengingatnya. Tapi aku-kembali ke masa itu—ke masa di mana aku, dan kita, begitu bahagia.
Sekarang, menulis tentang cerita kita justru menjadi hal paling sulit yang pernah aku lakukan. Bukan karena aku lupa, bukan karena kenangan itu memudar. Tapi karena aku terlalu mengingatnya. Terlalu dalam. Dan setiap kata yang kutulis tentangmu, tentang kita, menyeretku jatuh lebih dalam lagi ke dalam perasaan yang dulu pernah -dan masih- ku rasakan.
Maaf.