Gempita berlutut, bawa tangan Zero mendekat lalu cium lembut punggung tangan yang dingin itu.
"Selamanya, Zero?"
Zero tersenyum kecil begitu cincin perak melingkar di jari telunjuknya. Ada kilatan haru di netra hijaunya.
"Ya, Gempita—
Drip...
—Selamanya."
Darah menggenang di lantai. Dengan wajah pucat pasi, mata biru membola, mulut tak henti teteskan getah merah.
Dari jauh, manik hijau bergetar melihat badan yang tergeletak di lantai. Tubuh yang selalu beri dirinya kehangatan, kini dingin.
Zero tau, ia terlambat.
(ini random story eheh)