Benar, tidak terikat dengan siapa pun adalah keputusan terbaik saya saat ini.
Saya tidak harus bertanggung jawab atas perasaan orang lain, tidak harus patah hati, atau memaksakan berbagai cara agar sebuah hubungan terus berlanjut. Saya mengakui, mungkin saya belum cukup berani mengambil kesempatan itu—melihat banyak faktor yang, bagi saya, terasa mengerikan di usia 20-an ini.
Saya hanya ingin menemukan jati diri saya sendiri. Bahkan ketika sedang menghadapi masalah, saya belajar untuk tidak melimpahkannya pada orang lain . Kita selalu bisa mengomunikasikannya dengan baik-baik, dan orang lain tidak layak menerima energi negatif yang bukan miliknya.
Ketika teman-teman di kampung saya bertanya apakah saya sudah menemukan calon suami, saya hanya tersenyum dan menjawab: *tidak.* Saya tidak sedang mencari seseorang untuk sekadar dinikahi, tapi mencari rekan tim yang tangguh, baik hati, komunikatif, dan kooperatif—seseorang yang siap menghadapi banyak hal bersama-sama dengan visi misi yang jelas juga bertanggung jawab. Tapi mereka hanya tertawa seolah saya adalah lulucon bodoh dan bilang " kamu terlalu kebarat baratan "
justru tak ada yang salah dari itu, kami jelas berbeda. mereka memilih terikat hanya untuk mengusir kesepian nya, ingin di urusi keperluan nya, ingin selalu di mengerti tanpa mau mengerti, dan yang paling jauh ingin memenuhi hasrat biologis mereka secara gratis dan pada akhirnya menelantarkan anak anak mereka begitu saja.
saya tak ingin kelak orang yang saya cintai harus mengalami yang saya alami. hanya itu.