HAPPY 10TH ANNIVERSARY, BLACKPINK
10 tahun. Aku masih ingat BLACKPINK HOUSE. Rumah pink di Hongdae. Sofa abu-abu. Macaron yang gagal. Ramyeon dari panci yang sama. Tawa yang tidak pernah berhenti.
Di situlah aku jatuh cinta. Untuk pertama kalinya. Dan tidak pernah berhenti.
Nini. Yang paling susah dibangunin. Tapi di balik mata lelah itu, yang paling perhatian. Sekarang headliner Lollapalooza, seorang diri. Tapi bagiku, kau tetap Nini yang duduk di sofa abu-abu, bilang "aku lelah," dan aku ikutan nangis.
Rosie. Kamar pink. Gitar di tengah malam. Bernyanyi pelan karena susah tidur. Kau bilang nyanyi itu terapi. Kau mengajariku bahwa kesedihan itu indah. Dan kau pulang. Selalu pulang.
Lili. Yang paling nakal. Jatuh sambil nari, lalu ketawa lebih keras. Las Vegas, World Cup, segalanya kau raih. Tapi kau tetap ingat dari mana kau berasal. "I never forget where I started."
Jichu. Yang paling dewasa. Masak kimchi fried rice, mastiin semua kenyang sebelum kau makan sendiri. Pelindung yang selalu ada, bahkan saat kau sendiri lelah. "Aku tidak bisa menyanyi," katamu dulu. Lihatlah sekarang.
YG kasih 40 kursi dari jutaan hati. Umumin dua hari sebelum H-day. Seorang BLINK bahkan pecahkan pintu kaca gedung YG karena kecewa.
Aku nggak setuju kekerasan. Tapi aku ngerti.
10 tahun. Cuma 40 kursi. Kata-kata itu nyakitin.
Tapi kalian memilih untuk hadir. Rosie pulang dari LA. Lili dari Vegas. Nini atur ulang jadwal. Jichu hadir.
Bukan karena YG. Bukan karena kontrak.
Karena kalian BLACKPINK. Dan BLACKPINK nggak pernah ninggalin satu sama lain.
10 tahun bukan tentang angka.
Ini tentang bagaimana aku menangis dengar Stay. Tentang bagaimana Lili bikin aku tertawa. Tentang bagaimana Nini bikin aku bangga. Tentang bagaimana Jichu selalu jadi pelindung. Tentang bagaimana Rosie bikin aku percaya bahwa suara bisa menyembuhkan.
Terima kasih untuk Nini, Jichu, Rosie, dan Lili.