kusukaceritaofficial

Hello Readers! Bab 20 sudah terbit nih.. Yuk simak cuplikannya:
          	**
          	Untuk sesaat, hanya terdengar suara hujan dan detak sendok di dinding cangkir.
          	
          	"Ibu pernah hamil... sebelum anak Ibu yang sekarang," kata Bu Rania akhirnya. "Waktu itu, Ibu masih kerja penuh di luar kota. Sibuk, ambisius, sering pulang larut. Waktu tahu sedang hamil, Ibu kaget. Bahagia, tapi bingung."
          	
          	Laras memandangnya dalam diam.
          	
          	"Ibu sempat mikir: bisa nggak ya merawat anak sambil tetap jadi perempuan yang produktif, aktif, punya nama. Tapi sebelum sempat jawab pertanyaan itu... janinnya lepas."
          	
          	Suara Bu Rania tetap tenang. Terlalu tenang. Seperti sudah lama menyimpan kesedihan itu di tempat yang sangat rapi.
          	**
          	Penasaran lengkapnya? Baca di Bab 20 yaa!
          	Happy reading :)
          	
          	https://www.wattpad.com/story/395451880

ol-biaa

@ kusukaceritaofficial  voteback 2 bab terakhir ku yah
Reply

kusukaceritaofficial

Hello Readers! Bab 20 sudah terbit nih.. Yuk simak cuplikannya:
          **
          Untuk sesaat, hanya terdengar suara hujan dan detak sendok di dinding cangkir.
          
          "Ibu pernah hamil... sebelum anak Ibu yang sekarang," kata Bu Rania akhirnya. "Waktu itu, Ibu masih kerja penuh di luar kota. Sibuk, ambisius, sering pulang larut. Waktu tahu sedang hamil, Ibu kaget. Bahagia, tapi bingung."
          
          Laras memandangnya dalam diam.
          
          "Ibu sempat mikir: bisa nggak ya merawat anak sambil tetap jadi perempuan yang produktif, aktif, punya nama. Tapi sebelum sempat jawab pertanyaan itu... janinnya lepas."
          
          Suara Bu Rania tetap tenang. Terlalu tenang. Seperti sudah lama menyimpan kesedihan itu di tempat yang sangat rapi.
          **
          Penasaran lengkapnya? Baca di Bab 20 yaa!
          Happy reading :)
          
          https://www.wattpad.com/story/395451880

ol-biaa

@ kusukaceritaofficial  voteback 2 bab terakhir ku yah
Reply

kusukaceritaofficial

Bab 19 sudah terbit yaa, Readers!
          
          Spolier dikit:
          
          Julian melirik Laras dari sudut matanya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi memilih diam beberapa saat.
          
          "Kamu tahu, Ras..." ujarnya akhirnya, suaranya nyaris tenggelam dalam suara jangkrik malam, "...aku pernah mikir kamu itu keras. Jauh. Nggak pengen didekati."
          
          Laras menoleh sedikit, tidak tersinggung. Hanya menunggu.
          
          "Tapi ternyata... kamu cuma lagi sibuk bertahan. Dan sekarang aku lihat, kamu bukan keras—kamu rapuh. Tapi rapuh yang jujur. Dan itu... luar biasa."
          
          **
          Penasaran kelanjutan hubungan Laras & Julian? Yuk, baca kisahnya!
          
          Happy reading :)
          https://www.wattpad.com/story/395451880

kusukaceritaofficial

Laras terdiam. Pertanyaan itu seperti membuka ruang yang terlalu lama ia kunci. Ia kembali menulis, kali ini lebih pelan:
          
          Aku lelah
          Tapi kamu selalu bilang kita harus kuat
          Aku ingin tidur
          Tapi kamu paksa aku bangun lebih pagi dari matahari
          
          Aku ingin menjerit
          Tapi kamu suruh diam
          Aku ingin lari
          Tapi kamu bilang kita harus bertahan
          
          Aku ini kamu
          Tapi kenapa kamu tidak pernah dengar?
          
          **
          
          Siapa yang nyesek baca monolog Laras?
          Baca lengkapnya di  Bab 15 - Seni Itu Bukan Panggung Sempurna
          
          https://www.wattpad.com/story/395451880

kusukaceritaofficial

Memperkenalkan, "Julian Aryasatya". Siapa sosok laki-laki ini? Dan apa hubungannya dengan Laras?
          
          Yuk, baca kelanjutannya!
          
          Bab 14 - Julian, dan Cara Duduknya yang Tenang
          
          "Hei, kamu yang dari Magelang, ya?"
          
          Laras menoleh cepat. Seorang laki-laki berdiri di ambang pintu, mengenakan kaus panjang abu-abu dan celana training gelap. Rambutnya agak gondrong, diikat asal dengan karet rambut. Di tangannya ada kamera analog yang digantungkan di leher.
          
          Laras hanya mengangguk, kaku.
          
          "Aku Julian," katanya santai, lalu duduk agak jauh di sisi lain beranda tanpa meminta izin. Gerakannya tenang, tidak mengusik. Ia mengambil posisi duduk bersila, lalu mulai mengamati taman seolah tidak ada yang lebih penting di dunia selain cahaya kuning lampu di antara dedaunan.
          
          https://www.wattpad.com/story/395451880

kusukaceritaofficial

"Semua orang di sini datang dengan sesuatu yang patah," lanjut Bu Rania. "Tugas kita bukan menambal luka orang lain. Tapi menjaga agar tempat ini cukup lembut... supaya setiap orang bisa belajar sembuh dengan caranya sendiri."
          
          Laras menunduk. Tangannya gemetar. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak buru-buru menyembunyikan air mata yang muncul. Dibiarkannya saja mengalir. Bu Rania tidak menyela, tidak memberi sapu tangan, tidak merangkul. Ia hanya duduk di sana, hadir sepenuhnya.
          
          Dan itu lebih dari cukup.
          
          "Terima kasih, Bu," suara Laras nyaris tak terdengar.
          
          Bu Rania tersenyum. "Terima kasih juga... karena sudah tetap di sini."
          
          - Baca kisah lengkapnya di Bab 13 - Kalau Kamu Lelah, Istirahat Saja -
          https://www.wattpad.com/1547517627-perempuan-yang-tak-lagi-mengalah-bab-13-kalau-kamu?utm_source=web&utm_medium=twitter&utm_content=share_reading&wp_uname=kusukaceritaofficial
          
          https://www.wattpad.com/story/395451880

kusukaceritaofficial

Laras melangkah pelan ke tengah ruangan. Semua mata menatap, tapi tak ada tekanan.
          
          Ia berdiri.
          
          Tubuhnya diam.
          
          Napasnya pendek.
          
          Kemudian matanya basah.
          
          Laras tidak tahu kenapa, tapi dari seluruh latihan hari itu, bukan gerak, bukan suara, yang keluar hanyalah air mata. Ia berdiri di sana, gemetar, dan menangis dalam diam. Tangis yang tidak histeris, tidak pecah, tapi seperti air rembesan dari dinding yang sudah terlalu lama retak.
          
          ***
          
          Baca selengkapnya di sini ya! :)
          https://www.wattpad.com/story/395451880