Di bawah langit yang muram,
kita berdiri, berjarak diam,
tangan ingin menggapai,
namun takdir berkata lain.
Di relung hati yang remuk,
rindu menjelma pilu,
namamu terukir dalam waktu,
tapi takdir menulis kisah baru.
Kau adalah hujan di musim kemarau,
aku adalah bumi yang haus,
namun awan memaksa jauh,
takdir menahan jatuhmu di tanahku.
Kita adalah dua bintang,
yang cahayanya saling mencari,
namun garis semesta membelokkan arah,
menjauhkan, memisahkan, membisukan.
Cinta ini bukan salahmu, bukan salahku,
hanya langit yang menulis berbeda,
hanya waktu yang memilih jalan lain,
dan kita harus merelakan, meski tak rela.
Tapi ingatlah, dalam sunyi,
namamu abadi dalam denyut nadiku,
dan jika takdir tak bisa disuap,
aku akan mencintaimu,
dalam diam, dalam sabar, dalam doa.