sayang, entah sampai kapan kita akan berjarak karena ulah sang waktu, aku di sini akan selalu menantimu datang bila telah ditentukan, bahkan jika akhir telah datang.
sayang, aku tahu jika suatu takdir akan menghalangiku untuk kembali bersatu padamu, takdir menyedihkan jika berbicara tentang sebuah kesempatan.
sayang, meski takdir berhendak demikian, akan selalu ada tempat di beranda memoriku yang telah memasang wajahmu dengan erat. akan kubawa ukiran wajahmu sampai akhir hayat.
sayang, entah sudah keberapa kali aku selalu mengagumimu layaknya bulan di tengah malam. entah hati ini akan bisa bertahan atau bahkan melarikan diri ke tempat di mana semuanya beristirahat ketika menatap parasmu yang hanya ada di angan-angan.
sayang, bisakah aku menyambutmu dengan ucapan selamat datang? ataukah engkau lebih suka bila labium merahku bertutur dengan kata selamat tinggal?
kembalilah, datanglah, kemarilah, sayang.