"Beberapa perasaan memang lahir untuk menetap di ambang asa, bukan untuk dipaksa sampai ke garis nyata."
Bagi Fiorella Elara Faye, mencintai Aksara Arriza Akbar bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah kutukan manis yang ia bawa selama sepuluh tahun. Semuanya dimulai di sebuah aula sekolah saat pesantren kilat kelas sepuluh—sebuah tatapan di seberang barisan yang tak pernah benar-benar putus hingga mereka menginjak usia 29 tahun.
Mereka pernah sedekat napas, namun tanpa status yang jelas. Fiorella adalah saksi bisu saat Aksara melabuhkan hatinya pada perempuan lain, yang ironisnya adalah teman sekelasnya sendiri. Ia belajar memendam, belajar menjadi "muara" yang tenang meski arusnya menghancurkan di dalam.
Kini, sepuluh tahun telah berlalu. Fiorella masih sendiri, terjebak dalam orbit yang sama, menolak setiap hati yang datang karena baginya, ruang itu sudah penuh. Saat takdir membawa mereka kembali bersinggungan setelah bertahun-tahun, Fiorella dipaksa bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan ia akan menunggu di ambang harapan? Dan apakah Aksara akhirnya akan menyadari, bahwa selama ini, ia hanya perlu menoleh sedikit untuk menemukan tempatnya pulang?
https://www.wattpad.com/story/409941939?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=my_secondface