nagawana

Niatnya memberi,
          	jalannya belum rapi.
          	Berhenti sebentar,
          	bukan gagal,
          	hanya ingin memastikan:
          	yang dimakan bermanfaat,
          	yang diurus tidak berubah arah.

nagawana

Mereka mencapku sebelum sempat berbicara.
          Kiri, berbeda, sok tahu, semuanya dilempar begitu saja.
          Padahal mereka tak pernah tahu:
          pemikiranku lahir dari tanya,
          puisiku lahir dari perasaan,
          kritikku lahir dari kepedulian.
          Mereka hanya melihat apa yang berbeda,
          tapi tak pernah mau melihat apa yang ada di dalamnya.

nagawana

Aku diam bukan karena tak tahu. Aku diam karena sudah terlalu sering bertanya, dan yang kudapat bukan cahaya baru, tapi tembok yang memojokkan. Maka aku memilih memelihara pikiranku sendiri, daripada membiarkannya dilukai oleh jawaban yang tak pernah mendengar.

nagawana

Satu lenyap, seratus tiga puluh lima pergi,
          Tapi jejak dan tanya takkan pernah mati.
          Kabut boleh tebal menutupi jalan,
          Ingatan tetap hidup, takkan hilang kapan.
           
          Bukan amarah yang kita bawa,
          Tapi kesadaran yang tumbuh nyata.
          Selama masih ada yang bertanya,
          Lingkaran gelap pasti bisa terputus nanti.

nagawana

Aku mencintaimu dalam luka yang kau torehkan,
          menjunjung rasa di atas segala lara.
          Melihatmu bahagia di balik kecewa,
          setiap duka justru kurasakan maknanya.
           
          Di titik terendah, aku bersyukur:
          kau masih ada, di dunia yang sama
          langit yang menaungi kita,
          tanah yang kita pijak bersama.

nagawana

Hari ini kembali mengulang pola yang sama:
          bangun dari tidur, bergegas bekerja,
          pulang lagi di waktu yang hampir sama 
          rutinitas yang terasa datar, membosankan,
          seperti halaman buku yang isinya itu-itu saja.
           
          Namun di sela-sela langkah yang berulang,
          mata dan telinga masih menangkap suara negeri:
          berita yang saling silang, janji yang tak kunjung nyata,
          narasi yang berubah arah seiring angin berhembus,
          hingga kita hanya bisa bertanya dalam hati:
          Ke mana sebenarnya negeri ini hendak dibawa?
           
          Antara hidup yang harus terus berjalan,
          dan hati yang tak bisa menutup mata 
          itulah kenyataan yang harus kita jalani.

nagawana

Ke mana kau gulirkan sisa ruang jiwamu?
          Berhenti pada satu frasa, atau kau gulirkan untuk merajut makna?
           
          Aku tahu kau berani… aku tahu!!
          Tapi di mana kau simpan keberanianmu itu?
          Ia tak pernah tampak di mataku.