Hai kak, izin promosi yaa. Terimakasih
"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya," jelas Alana
Tapi...
"Lo kenapa, Na?"
"Nggak bisa tidur," jawab Alana jujur.
"Kenapa? Perut lo sakit? Nggak nyaman?"
Alana menggeleng pelan.
Rayyan menaikkan alis. "Terus?"
"Gue susah tidur kalau nggak ada yang dipeluk."
Suara Alana sangat lirih, seakan itu rahasia paling besar yang Alana miliki seumur hidupnya.
Rayyan menghela napas panjang. "Gue nggak pernah punya guling, lagi. Bentuknya suka ngagetin kalau gue kebangun tengah malem."
Rayyan memiringkan badannya, satu tangan menyangga kepala, satu tangan lagi direntangkan condong ke arah Alana. "Sini."
Alana membuka mulutnya sedikit. "Nggak ada solusi lain?"
"Sini. Kayak nggak pernah meluk aja sebelumnya," balas Rayyan setengah bercanda.
Alana menoleh, memelototi Rayyan.
"Itu bukan di ranjang. Lagian lo yang meluk gue duluan disaat gue lagi nggak bisa mikir jernih," balas Alana, sedikit nyolot.
Rayyan terkekeh pelan. "Iya, iya, itu gue."
"Nggak pernah di ranjang katanya. Kalau gitu, gimana bisa lo hamil," gumam Rayyan lirih, tidak terdengar oleh Alana.
Alana menoleh, mengerutkan kening. "Ngomong apa?"
Rayyan menggeleng cepat. "Enggak. Gue nggak ngomong apa-apa."
https://www.wattpad.com/story/386163743?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=bylatifah