“Saya kangen banget sama kamu, sayang…” aku tak bisa menahan suaraku yang mulai bergetar. “Kamu tidak tahu betapa setiap hari rasanya seperti penyiksaan karena saya sangat merindukan kamu…”
Dan kali ini, Raya mengangkat wajahnya. Namun, ia menatapku dengan tatapan datar yang menusuk. Tak ada kehangatan di sana. Tidak seperti Raya yang selalu kuingat selama ini.
“Om hanya rindu tubuhku, kan?” katanya pelan. “Padahal om punya banyak uang. Om bisa bayar perempuan lain untuk om tiduri. Aku ini hanya pelacur. Om bisa menggantikanku kapan pun.”
Mendengar ucapannya membuatku terdiam. Aku menatapnya tak percaya.
Bagaimana ia bisa berpikir seperti itu tentang dirinya?
“Raya… kenapa… jangan bicara seperti itu—”
“Om sendiri yang bilang bahwa aku ini hanya pelacur,” potongnya. “Apa yang terjadi di antara kita hanya sebatas karena uang.”
Jika dulu Raya yang berlutut meminta pertolongan, kini Adrian yang berlutut memohon maaf.
Chapter 47 dan 48 Raya-Adrian bisa dibaca duluan di KK!