Aku menjadikan sedihmu
rumah bagi air mataku.
Setiap kau runtuh,
aku ikut patah—
diam-diam, tanpa hak untuk terlihat.
Aku hafal caramu terluka,
tapi asing pada caramu bahagia.
Aku tahu kapan kau ingin menyerah,
namun tak pernah tahu
siapa yang kau genggam
saat kau ingin bertahan.
Mencintaimu adalah menerima
bahwa aku selalu hadir
di musim hujanmu,
namun tak pernah diingat
saat matahari memilihmu.
Dan mungkin,
itulah bentuk cinta paling sunyi:
menjadi tempat pulang bagi sedihmu,
namun tak pernah cukup
untuk menjadi alasan bahagiamu.