Percayalah, malam yang manapun takkan pernah menjadi sahabat untuk orang itu.
Penghangat ruangan, kopi panas, selimut tebal dan bahkan suhu tubuhnya menyerah untuk mengusir dingin malam hari terlebih bulan Juni sampai Agustus nanti.
"ah sial"
Ada hal yang membuatnya takut dibanding udara dingin malam itu, menatap langit.
Suara adu sentuh dedaunan di beberapa pohon mengusiknya, mengejeknya, membuat korban menyeringai sinis.
"hee.. ya ya aku tahu aku tahu, besok aku akan menyuruh orang untuk memo- menebangmu maksudku, jadi bersenang - senanglah di hari terakhir kalian, ck".
Ya, kau benar bukan soal suhu atau udara malam ini saja yang sengaja menggodanya, kerabat alam lainnya pun sama saja tak pernah ramah padanya.
Bising kendaraan lebih sedikit tenang dibanding siang hari.
"hey tidurlah, apa kalian tidak lelah hah? Sudah jam berapa ini? Beristirahatlah kalian! Aku butuh ketenangan hey manusia! Diamlah, ya aku tahu kalian tidak mendengarku jadi biarkan saja aku berteriak seperti ini ok!"
Manusia, bukankah kau sendiri manusia huh?
Kembali mengamati langit, hal yang paling dia benci tapi selalu berhasil menariknya selalu berhasil memaksanya menatap hamparan legam itu.
Ah, lihatlah.. Angin malam mulai memakannya hahaha melahapnya perlahan, bukankah itu lucu? Hahaha.
Lagi - lagi, lagi - lagi dia membiarkan tubuhnya dikoyak oleh gelita ahad.