Engkau adalah sahabatku, bahkan lebih. Dia adalah yang diburu, datang padaku. Sekedar melepas lelah dan sembunyi untuk berlari lagi.
Dia adalah yang terbuang, mengetuk pintuku. Penuh luka dipunggungnya, merah hitam. Dia menjadi terbuang setelah harapannya dibuang.
Bapaknya pegawai kecil, kelas sendal jepit. Yang kini didalam penjara, sebab bela anaknya. Untuk buah hati tercinta, selesaikan sekolah.
Sahabatku gantikan bapaknya, coba mencari kerja. Namun yang didapat cemooh, harga dirinya berontak. Lalu dia tetapkan hati, tuk hancurkan sang pembuang.
Air putih aku hidangkan, aku dipersimpangan.
Ku hitung semua lukanya, seribu bahkan lebih. Sejuta, lebih.
Pagi buat dia berangkat, diam-diam. Masih sempat selimuti aku, yang tertidur. Aku terharu, do'a ku untukmu.
Sebutir peluru tertinggal, dibawah bantalnya. Kuberi tali jadikan kalung, laku kenakan. Tuk sekedar mengingat mu kawan yang akan terus berlari.
Selamat jalan kawan, selamat renangi air mata.
Hey sahabat yang terbuang, engkau sahabatku. Tetap sahabatku.