"La, gue paham. Emang ngga mudah buat naruh kepercayaan terhadap orang lain, setelah merasakan di kecewain oleh orang yang kita percaya,"
Gadis itu menatap tak tentu arah-- seolah tengah menghindari kontak mata dengan pemuda di sampingnya. Bibirnya tanpa sadar mengerucut hingga pipinya kian membulat.
Membaca gestur tubuh gadis imut itu sudah membuat pemuda itu langsung mengerti.
"La, dunia emang ngga akan pernah bisa jadi ramah buat kita yang udah kehilangan jati diri," tatapan gadis itu dengan spontan menatap tepat pada manik yang terus terfokus padanya itu.
"Er, cape. Salah ngga sih kalau aku benci sama mereka?" tanya gadis itu di sela tangis dan isakannya.
Pemuda yang tak lain Xavier itu menggeleng pelan, tatapannya menghunus lurus kearah penjual yang berada di antara jajaran penjual lain.
"Ngga ada yang salah dengan pilihan kamu ini. Bagaimana pun juga, luka sekecil apapun itu, jika kamu belum siap memaafkan. Kamu berhak untuk menaruh amarah di dalamnya,"
https://www.wattpad.com/story/387179420?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_reading&wp_page=reading&wp_uname=pena9abut