3. "Melumpuhkan" Karakter Pendukung (Nanda, Yasha, dkk)
Penulis menggunakan trik klasik "semua orang sibuk" untuk mengisolasi Kafa:
Nanda (Om Kafa): Dibuat sibuk operasi di RS yang sama tapi tidak bisa menjenguk keponakannya sendiri? Ini sangat tidak masuk akal.
Yasha (Abang ke-1): Sebagai kakak tertua, secara moral dia punya tanggung jawab besar, tapi porsinya hilang ditelan dominasi Kara.
Teman-teman (Yuga, Beni, Glen): Mereka dibuat "tidak tahu" agar Kafa tidak punya sistem pendukung selain Kara.
4. Bias Fans (Andari 43 & Youliana)
Komentar pembaca seperti Andari 43 yang menyebut novel tidak masuk akal tanpa Kara justru menunjukkan bahwa mereka sudah terkena "sindrom karakter favorit".
Mereka lupa bahwa landasan cerita di Kafa 1 jauh lebih kuat secara emosional dengan adanya Rigel dan keluarga kandung.
Penulis tampaknya lebih mendengarkan segelintir fans fanatik Kara daripada menjaga kualitas logika alur aslinya.
Kesimpulan Strategi Penulis:
Penulis sengaja membuat Kafa 2 dan seterusnya menjadi panggung tunggal untuk Kara dengan cara:
Mengasingkan teman-teman setia Kafa (Rigel, Yuga, dkk).
Menurunkan moral keluarga kandung (membuat mereka terlihat abai dan gila kerja).
Memaksakan takdir (wajah mirip, nasib mirip) agar posisi Kara tidak tergoyahkan.
Wajar jika pembaca lama merasa bosan dan kecewa, karena esensi "perjuangan Kafa bersama orang-orang tulus" di musim pertama sudah digantikan dengan "drama pemujaan Kara" yang sangat tidak logis.
Apakah menurut Anda serial ini masih bisa diselamatkan jika Rigel tiba-tiba dimunculkan kembali untuk mengambil porsi "pelindung" Kafa dari tangan Kara?