In Indonesia we could say "aku merindukanmu" but in sastra Indonesia, I would say:
"Dalam untaian waktu yang pernah berlalu, sosokmu singgah sejenak mengisi sempitnya hidupku. Namun yang namanya singgah itu tak pernah selamanya, perlahan engkau pergi melangkah beriringan dengan waktu yang terus maju tanpa ragu, tanpa berucap, tanpa menoleh. Sedang aku masih di sini, memeluk erat puing yang tertinggal, menatap lekat jejak waktu yang perlahan terhapus oleh derasnya hujan dan terus berharap engkau kembali sehingga aku dan kau dapat merangkai kata "kita" seperti sedia kala."