Hujan || Hanya cerita singkat
“Aku takut hujan,” katanya suatu hari, suaranya kecil, seperti anak yang tak ingin langit runtuh terlalu dekat.
Seorang laki-laki disebelahnya tersenyum waktu itu, lalu menjawab ringan, seolah hujan hanyalah kabar biasa, “Aku akan menjadi payungmu.” Dia tidak pernah tahu seberapa jauh kalimat itu akan hidup.
__
Laki-laki itu tidak pernah menyangka bahwa janji sederhana bisa bertahan lebih lama dari usia manusia. Hujan selalu datang dan pergi, dan dia selalu ada menyaksikannya, diam, teduh, tanpa banyak kata.
Tahun-tahun berlalu setelah perempuan itu pergi.
Rumah menjadi lebih sunyi, langit terasa lebih luas, dan hujan tak lagi ditakuti, hanya diingat. Anaknya tumbuh dengan cerita tentang seorang ibu yang mencintai senja dan takut hujan, dan seorang ayah yang jarang berbicara, tetapi selalu menepati sebuah janji.
Suatu hari hujan turun deras, langit runtuh tanpa peringatan. Anak itu mencari ayahnya, ingin memberitahu bahwa hujan turun begitu lebat hari ini, seolah takut ayahnya lupa membawa perlindungan.
Namun ayahnya sudah lebih dulu pergi. Dia berdiri di depan sebuah nisan dengan tanah basah di sekelilingnya, menggenggam payung yang terbuka bukan untuk dirinya, melainkan untuk seseorang yang tak lagi bisa berkata takut.
Sebab cinta, ternyata, tidak berhenti saat seseorang pergi. Dia hanya berubah bentuk, menjadi payung yang tetap terbuka, meski hujan tak lagi bisa dirasakan bersama.
Tamat.
26 Desember 2025