Aku mengingat kembali saat usia tujuh tahun, saat itu aku menunggu kehadiran Demian di dekat gerbong kereta api, rel kereta pada waktu itu dijalankan dengan kecepatan tinggi di atas rentangan baja. Saat kereta itu sudah menjauh untuk bumel ark, Demian diseberang sana melambaikan tangannya, dia tinggi, umurnya dua tahun lebih tua dariku. Kala itu, Demian berlari melangkahi rentangan baja, dia membawa dua butir telur rebus dalam mantel hitam lusuhnya.
Demian memberikannya padaku, namun kubalas dengan kedua alis yang bertaut kebingungan.
"Untuk apalagi kali ini?"
"Lempar telur ini ke pohon apel diseberang rumah Peter." Demian melempar telur itu di telapak tangannya sambil berjalan.
Senyuman terukir dengan tulus, saat itu aku bukan orang pelit untuk menampakkan senyuman. Aku merangkul tubuh besar Demian. Kami terus membicarakan hal tidak penting, sesekali akan tertawa saat tahu kami layaknya orang bodoh.
"Kemarin aku pergi ke reinhor, kau tahu? Dia baru mengeluarkan kaset seri kedua Salacious Diablo! Sepuluh sen jika ingin meminjam. Itu terlalu mahal bukan?"
"Benarkah? Aku penasaran, apakah Troy berhasil dalam misinya pergi ke Deep Blue Sea? Juga, saat Varshon memutuskan pertemanannya pada burung Beo hijau, dia malah dihadapkan pada ketiga monster. Menurutmu apa dia akan mati begitu saja?"
"Beo Hijau?" Demian tertawa kecil, tawanya merdu, ada perasaan tenang saat menatapnya dalam jarak sedekat ini, "maksudmu, Sean? Waktu itu dia kabur bukan? Varshon juga memilih untuk membakar oven, sehingga dua monster yang mengikutinya terbakar." aku mengangguk setuju. Demian melanjutkan, "jadi menurutku kemungkinan Varshon belum mati, dia sempat loncat." Demian menirukan gaya pemeran film favorit kami saat adegan melompat, dengan berdiri di sebuah batu besar, lalu melemparkan diri begitu saja, sempat sedikit terguling jika bukan aku yang menahan. Lagi-lagi kami menertawakan kebodohan satu sama lain.