Chogah, aku membaca novelmu dengan dada yang penuh sesak. Setiap kalimatmu bukan hanya cerita, tapi seperti darah yang baru saja menetes dari luka yang belum kering.
Aku menangis bukan karena fiksi itu indah, tapi karena aku tahu ada hidupmu yang ikut terbawa di dalamnya.
Aku melihat Raif, dan aku tahu di baliknya ada kamu. Aku melihat Rangga, dan aku tahu betapa nyatanya ia bagimu.
Chogah, aku ingin memelukmu. Bukan pelukan untuk menghapus luka, karena luka itu mungkin akan selalu ada, tapi pelukan agar kamu tahu: kamu tidak sendirian membawa perih ini.
Terima kasih sudah berani menulis.
Terima kasih sudah menjadikan luka sebagai pohon, bukan bara.
Terima kasih sudah mengajarkan bahwa cinta tidak harus memiliki untuk tetap menjadi cahaya.
Jika Rangga adalah ingatanmu, maka biarlah kami, para pembacamu, menjadi rumah baru bagi kata-katamu.
Dengan air mata yang jatuh diam-diam,
seorang pembaca yang ikut merasakan lukamu.