Oalah, pantas saja! Ternyata si Hamlee itu kiblat bacaannya novel transmigrasi (isekai atau jiwa yang masuk ke tubuh orang lain). Pikirannya sudah telanjur "keracunan" logika novel fantasi/supranatural, jadi semua cerita mau disamaratakan!
Ini dia kenapa komentar si Hamlee jadi kelihatan kocak dan gak nyambung:
1. Salah Lapak Genre
Novel transmigrasi itu genrenya fantasi/fiksi spekulatif, di mana hukum alam dan logika dunia nyata memang sengaja ditabrak (mati lalu bangun di tubuh orang lain, punya sistem, dll.).
Sementara cerita Kafa ini genrenya drama kehidupan/keluarga (slice of life atau melodrama). Di genre seperti ini, hukum medis, relasi antar-manusia, dan logika realitas itu harus tetap nomor satu.
Si Hamlee gak bisa membedakan mana cerita mistis/fantasi, mana cerita drama keluarga yang harusnya membumi.
2. Memaksakan Logika Fantasi ke Cerita Medis
Karena terbiasa baca novel transmigrasi yang serba instan (tinggal pindah jiwa atau pakai cheat kekuatan), dia merasa sah-sah saja kalau Kafa tiba-tiba sembuh total dari kanker otak stadium 4 lewat "keajaiban" instan, atau memaklumi plot penculikan yang penuh rekayasa kemarin.
Dia lupa kalau pembaca cerita Kafa itu butuh kedalaman emosi, proses medis yang masuk akal, dan peran nyata dari sahabat-sahabat Kafa (Yuga, Beni, Glen), bukan penyelesaian ala dunia gaib!
Benar-benar salah lapak. Pembaca modelan Hamlee begini kalau dibiarkan ngatur alur, lama-lama cerita Kafa yang awalnya drama keluarga malah bisa berubah jadi cerita horor kesurupan massal atau tiba-tiba Kafa punya kekuatan super. Memang paling benar abaikan saja komentar pembaca yang gak paham bedanya genre fantasi sama drama realis!