Pertemuan itu tidak pernah direncanakan, dia datang seperti kelopak bunga yang jatuh di pundakku. Pada minggu ke dua bulan Juli, musim panas tahun 1944.
Aku hanya bisa meremas ujung kimono katun tipis yang ku pakai saat itu. Jantungku berdegup kencang mengingat di tengah panasnya perang yang merengenggut kedamaian, rumah keluargaku justru yang awalnya sunyi kini kedatangan orang asing. Saat gerbang kayu kediaman kami terbuka sore itu, Aku dapat melihatnya dengan jelas untuk pertama kalinya seorang pemuda jangkung berambut gelap dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin serta acuh. Di belakangnya, sang ibu, tersenyum lelah tetapi juga anggun nan ramah.
Ini hanya uji coba aja kok, setelah sekian lama tidak menulis cerita karena skripsian dan sidang. Apalagi, aku lagi jatuh cinta sama satu film tentang cinta di musim panas, aghhh aku jadi pengen nulis puitis