tuanputriamber

Halo semuanya, aku mau menyampaikan sesuatu. Setelah cukup lama memikirkan ini, akhirnya aku memutuskan satu hal. Bahwa cerita Taste the Sin ini akan aku update setiap seminggu satu kali di hari Minggu. Kenapa? Karena bagiku pribadiku ini alurnya cukup berat, dan aku kewalahan kalau harus seminggu dua kali. Terlebih, sekarang kerjaanku di RL semakin banyak, jadi aku cukup pusing kalau terlalu ditekan. Yang paling penting, sejak awal ini adalah project aku yang paling santai. Sebab ini adalah karya yang paling aku cintai, yang menjadi rumah untuk pulang disaat hari-hariku berat. Jadi tentunya aku mau menyajikan yang paling baik diantara yang terbaik untuk para tokoh, karakter, dan terutama kalian semua sebagai pembaca.
          	
          	Jadi sekali lagi, mohon pengertiannya, ya. Aku masih berusaha dan belajar dalam menulis karya ini. Kalau dirasa terlalu lama dan mau berhenti dulu baca lalu mau dilanjut setelah tamat, aku persilahkan yaa. Intinya aku mau kita semua sama-sama nyaman, hehee.
          	
          	Terimakasih ya untuk yg sudah mengerti dan selalu support.
          	
          	Dan kalian harus tau, satu bab itu selalu lebih dari 2600 kata, jadi lumayan bikin puas harusnya, hehee.

tuanputriamber

Halo semuanya, aku mau menyampaikan sesuatu. Setelah cukup lama memikirkan ini, akhirnya aku memutuskan satu hal. Bahwa cerita Taste the Sin ini akan aku update setiap seminggu satu kali di hari Minggu. Kenapa? Karena bagiku pribadiku ini alurnya cukup berat, dan aku kewalahan kalau harus seminggu dua kali. Terlebih, sekarang kerjaanku di RL semakin banyak, jadi aku cukup pusing kalau terlalu ditekan. Yang paling penting, sejak awal ini adalah project aku yang paling santai. Sebab ini adalah karya yang paling aku cintai, yang menjadi rumah untuk pulang disaat hari-hariku berat. Jadi tentunya aku mau menyajikan yang paling baik diantara yang terbaik untuk para tokoh, karakter, dan terutama kalian semua sebagai pembaca.
          
          Jadi sekali lagi, mohon pengertiannya, ya. Aku masih berusaha dan belajar dalam menulis karya ini. Kalau dirasa terlalu lama dan mau berhenti dulu baca lalu mau dilanjut setelah tamat, aku persilahkan yaa. Intinya aku mau kita semua sama-sama nyaman, hehee.
          
          Terimakasih ya untuk yg sudah mengerti dan selalu support.
          
          Dan kalian harus tau, satu bab itu selalu lebih dari 2600 kata, jadi lumayan bikin puas harusnya, hehee.

tuanputriamber

cuplikan hari ini para princess  
          
          ****
          
          San Diego mengetatkan rahang, lalu melempar tatapan yang menghunus hingga ke ulu hati Celeste. "Tinggalkan aku dengan mereka, Celeste. Mereka adalah tamuku. Jadi demi perjuangan dan pengorbanan yang selalu aku lakukan untukmu selama ini, tolong tinggalkan kami. Aku memerintahkanmu dengan izin dari Il Signore Moreno," ujarnya sengit.
          
          Belum usai luapan emosi yang Celeste rasakan berkat pria asing ini, sekarang hatinya dipaksa mendengar sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. San Diego memanggilnya dengan sebutan nama, sesuatu yang hanya akan pria itu lakukan ketika tengah amat marah dan kesal terhadapnya. Tapi apa yang Celeste lakukan? Bukankah dia hanya membela? Apa pembelaan yang dia berikan barusan tidak cukup?
          
          Mulut Celeste terbuka. Ia menatap San Diego dengan sorot tidak percaya, seiring dengan bola matanya yang berkaca-kaca. Tubuhnya sedikit gemetar. Dia tidak takut atau sedih. Reaksi tubuhnya yang begini adalah simbol dari kemarahannya yang bersiap untuk meledak kapan saja. "Kau memintaku pergi demi mereka? Kau berani mengusirku dan memanggilku dengan namaku? Kau bahkan berani memakai izin dari ayahku untuk melawanku, putrinya sendiri?"
          
          "Aku tidak punya waktu untuk dramamu saat ini." Ia merogoh ponsel untuk menghubungi seseorang. "Akan aku minta Cello mengantarmu pulang."
          
          "Drama?" Celeste membuka mulut, matanya yang sudah melebar nyaris meloncat keluar dari tempatnya. "Kau bilang aku drama? Hei, tua, berani sekali kau mengatai aku seperti itu. Jika kau memang tidak berniat menemaniku sejak awal kenapa kau harus mengejekku dan mempermalukan aku di sini?"
          

tuanputriamber

cantik banget ya San, sampe ga ngedip gitu, wkwk
          
          ***
          
          "Bellissima," puji San Diego. Tidak sedikitpun ia berpaling dari perempuan di depannya ini.
          
          Kedua sudut bibir Celeste tertarik ke atas mendengarnya. Ia mengibaskan rambutnya ke belakang sembari bergaya centil. "Tentu saja, memangnya kapan aku tidak cantik? Bahkan sejak di dalam kandungan, dokter yang merawatku sudah mengatakan aku cantik. Kau tahu kenapa aku tidak pernah mengikuti kontes kecantikan, Lean?"
          
          San Diego menggeleng, "Tidak, kenapa memangnya?"
          
          "Karena aku merasa tidak enak pada kontestan yang lain. Mereka akan kalah bahkan sebelum sempat bertemu dengan para juri. Karena sejak aku menginjakkan kaki di ruang audisi, sejak saat itu juga aku yang akan jadi pemenangnya."
          
          Begitulah Celeste. Perempuan itu selalu memiliki seribu satu cara untuk terlihat bahagia dan baik-baik saja. Ia tidak pernah memusingkan masalah apapun yang ada dalam hidupnya. Dan ajaibnya, energi positif itu selalu menular pada San Diego. Hingga tanpa sadar pria itu akan mengajak Celeste bicara jika keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
          
          Sekarang misalnya.
          

tuanputriamber

oh, how lucky Celeste 
          
          ***
          
          Namun sebelum semuanya menjadi lebih jauh, San Diego menahan tangan Celeste dan membawanya ke bawah. Ia kembali menyuapkan makanan pada perempuan itu, yang kali ini diterimanya. "Kau tidak sedang dikurung, hanya sedang menjalani konsekuensi atas tindakanmu."
          
          "Aku melakukan apa? Hanya pergi keluar sebentar, itupun bersama dua pelayanku," katanya sambil mengunyah.
          
          "Telan dulu," ujar San Diego sambil mengusap pipi Celeste yang menggembung. "Memangnya kau mau ke mana? Kau bisa mengajakku, kan?"
          
          Perempuan itu tiba-tiba menunduk sambil memainkan jemarinya. Entah kenapa suasana hatinya terasa menurun drastis. "Belakangan ini kau sangat sibuk dengan urusan kantor. Jadi aku pikir kau tidak ada waktu untukku lagi. Aku jadi harus melakukan semuanya sendirian selagi kau tidak ada."
          
          San Diego tertegun. Jadi itu alasannya Celeste tidak pernah mengajaknya lagi? Perempuan itu merasa tersisihkan sepertinya. Secara refleks San Diego menyentuh wajah Celeste dengan lembut seolah takut menyakitinya. Ia usap lembut wajah itu hingga Celeste menikmatinya dengan memejamkan mata.
          
          Hal itu membuat senyuman tipis San Diego perlahan terbit. "Principessa, kau akan selalu menjadi prioritasku, kau tahu itu, kan? Bahkan sesibuk apapun jadwalku, kau akan selalu menempati urutan pertama di sana. Kau bisa mengajakku ke manapun seperti dulu. Tidak ada yang berubah di antara kau dan aku. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi, oke?"

tuanputriamber

cuplikan bab hari inii 
          
          ***
          
          Pria itu kembali membuat ekspresi datar, sebelum memberi perintah pada tim alpha yang beranggotakan enam orang- termasuk pilot itu. "Kita ke kediaman Cattaneo sekarang. Masalah di CR Group sudah aku serahkan pada Cello."
          
          Mereka mengangguk, mempersilahkan San Diego duduk di kursi VIP mereka. Namun tak lama, ponsel San Diego berdering, memperlihatkan nama si pemanggil yang ternyata adalah Elio tersebut. "Semua baik-baik saja, kan? Mereka tidak sampai menyerang ke sana?"
          
          "Tidak ada yang menyerang kediaman Cattaneo, Signore. Tapi-"
          
          "Tapi apa?" San Diego mendesak, memotong kalimat tangan kanannya itu. Perasaannya sudah mulai tidak enak.
          
          "Kami kehilangan dia- Signora anda."
          

tuanputriamber

Cuplikan bab malam ini 
          
          
          "Astaga... kau... mau membunuhku, ya?" Celeste bertanya dengan terputus-putus. Sebanyak mungkin ia berusaha menghirup pasokan oksigen di sekitarnya. "Lain kali jika ingin membungkam mulutku, jangan gunakan tanganmu! Tanganmu itu kasar dan kotor. Bagaimana jika wajahku yang halus seperti pantat bayi ini menjadi bertekstur seperti katak?"
          
          "Contohnya?"
          
          "Kau bisa gunakan mulut dan bibirmu. Setidaknya tidak akan ada orang yang kehabisan napas karena berciuman, kan?"
          
          "Principessa." San Diego menatap Celeste dengan tajam. Tidak pernah terpikir dalam kepalanya bahwa Celeste akan mengatakan hal seperti itu, meski isi kepalanya memang tidak pernah bisa ditebak.
          
          Bahkan empat pelayan yang ada di kamarnya pun hanya bisa terdiam sambil menunduk mendengar ucapan nona mereka.
          
          "Apa? Meskipun perokok, setidaknya aku yakin bibirmu jauh lebih steril dari pada tanganmu. Kau tidak bekerja menggunakan bibirmu, kan?" tanya Celeste.
          

tuanputriamber

cuplikan bab malem ini guysss
          
          ***
          
          San Diego mendekatkan tubuh, membuat perbedaan yang nyata diantara tinggi badan keduanya, di mana Celeste hanya setinggi dadanya saja. Sementara itu, Celeste semakin mendekatkan pistolnya ke arah San Diego, tidak segan-segan melesatkan peluru jika kunci kamar mandinya tidak bisa dia dapatkan kembali. "Cepat kembalikan kunci kamar mandiku. Bagaimana jika aku ingin buang air? Buang air besar? Atau sesuatu seperti mengganti pembalut? Kau tidak bisa menahanku selamanya seperti ini di sini. Jika aku buang air di sini, apa kau akan membersihkannya?"
          
          "Itu menjijikkan, Principessa, dan kau tidak perlu mengganti pembalut karena ini bukan tanggalmu. Tapi aku tidak mau mengambil resiko." Ia menunduk, lantas menaikkan handuk yang nyaris terjatuh itu. Membetulkannya kembali hingga mengikat tubuhnya dengan kuat. Sangat berhati-hati hingga tidak mengenai kulit tubuh perempuan itu. "Lain kali kau harus belajar memakai handuk sendiri." Ia menatap wajah Celeste. "Jika yang ada di hadapanmu adalah pria lain dan bukan aku, apa kau akan tetap membiarkannya terjatuh begitu saja?"
          
          Celeste tidak tersinggung. Ia justru menurunkan pistol yang sejak tadi ia acungkan, lalu melemparnya ke lantai dengan kesal. Jelas dia tahu senjata itu tidak dilengkapi dengan peluru. Moreno- sang ayah- tidak mengizinkan senjata berpeluru di dalam mansion ini. "Aku benci kau. Benci! Benci! Benci!"
          
          "Kau memang harus membenciku."
          

tuanputriamber

cuplikan malam ini guysss  
          
          ***
          
          "Bukan hanya satu-" Celeste mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah yang akan ia katakan ini adalah sesuatu yang amat rahasia. Padahal di dalam Restaurant ini hanya ada dirinya, San Diego, dan pria aneh di depannya. "- aku punya tiga puluh lima pacar."
          
          "Tiga puluh dua," San Diego mengoreksi. "Kau sudah putus dengan yang satu, jangan dilebih-lebihkan."
          
          "Aku tidak mengada-ada. Aku dapatkan tiga saat menunggumu mengobrol dengan pria aneh ini di basement tadi."
          
          San Diego berkedip beberapa kali, matanya melebar karena tidak menyangka Celeste akan sefrontal ini mengatai seseorang yang ada di depan mata. "Principessa, tidakkah kau merasa terlalu mudah? Itu sangat tidak sesuai dengan background yang kau miliki."
          
          "Aku memang murahan," ujar Celeste dengan sorot angkuh, lalu memandang Sergio. "Jadi pikirkan baik-baik sebelum menerima tawaran bodoh Leandro untuk menjadi suamiku."