cuplikan bab malem ini guysss
***
San Diego mendekatkan tubuh, membuat perbedaan yang nyata diantara tinggi badan keduanya, di mana Celeste hanya setinggi dadanya saja. Sementara itu, Celeste semakin mendekatkan pistolnya ke arah San Diego, tidak segan-segan melesatkan peluru jika kunci kamar mandinya tidak bisa dia dapatkan kembali. "Cepat kembalikan kunci kamar mandiku. Bagaimana jika aku ingin buang air? Buang air besar? Atau sesuatu seperti mengganti pembalut? Kau tidak bisa menahanku selamanya seperti ini di sini. Jika aku buang air di sini, apa kau akan membersihkannya?"
"Itu menjijikkan, Principessa, dan kau tidak perlu mengganti pembalut karena ini bukan tanggalmu. Tapi aku tidak mau mengambil resiko." Ia menunduk, lantas menaikkan handuk yang nyaris terjatuh itu. Membetulkannya kembali hingga mengikat tubuhnya dengan kuat. Sangat berhati-hati hingga tidak mengenai kulit tubuh perempuan itu. "Lain kali kau harus belajar memakai handuk sendiri." Ia menatap wajah Celeste. "Jika yang ada di hadapanmu adalah pria lain dan bukan aku, apa kau akan tetap membiarkannya terjatuh begitu saja?"
Celeste tidak tersinggung. Ia justru menurunkan pistol yang sejak tadi ia acungkan, lalu melemparnya ke lantai dengan kesal. Jelas dia tahu senjata itu tidak dilengkapi dengan peluru. Moreno- sang ayah- tidak mengizinkan senjata berpeluru di dalam mansion ini. "Aku benci kau. Benci! Benci! Benci!"
"Kau memang harus membenciku."