tuanputriamber

cuplikan bab hari inii 
          	
          	***
          	
          	Pria itu kembali membuat ekspresi datar, sebelum memberi perintah pada tim alpha yang beranggotakan enam orang- termasuk pilot itu. "Kita ke kediaman Cattaneo sekarang. Masalah di CR Group sudah aku serahkan pada Cello."
          	
          	Mereka mengangguk, mempersilahkan San Diego duduk di kursi VIP mereka. Namun tak lama, ponsel San Diego berdering, memperlihatkan nama si pemanggil yang ternyata adalah Elio tersebut. "Semua baik-baik saja, kan? Mereka tidak sampai menyerang ke sana?"
          	
          	"Tidak ada yang menyerang kediaman Cattaneo, Signore. Tapi-"
          	
          	"Tapi apa?" San Diego mendesak, memotong kalimat tangan kanannya itu. Perasaannya sudah mulai tidak enak.
          	
          	"Kami kehilangan dia- Signora anda."
          	

tuanputriamber

cuplikan bab hari inii 
          
          ***
          
          Pria itu kembali membuat ekspresi datar, sebelum memberi perintah pada tim alpha yang beranggotakan enam orang- termasuk pilot itu. "Kita ke kediaman Cattaneo sekarang. Masalah di CR Group sudah aku serahkan pada Cello."
          
          Mereka mengangguk, mempersilahkan San Diego duduk di kursi VIP mereka. Namun tak lama, ponsel San Diego berdering, memperlihatkan nama si pemanggil yang ternyata adalah Elio tersebut. "Semua baik-baik saja, kan? Mereka tidak sampai menyerang ke sana?"
          
          "Tidak ada yang menyerang kediaman Cattaneo, Signore. Tapi-"
          
          "Tapi apa?" San Diego mendesak, memotong kalimat tangan kanannya itu. Perasaannya sudah mulai tidak enak.
          
          "Kami kehilangan dia- Signora anda."
          

tuanputriamber

Cuplikan bab malam ini 
          
          
          "Astaga... kau... mau membunuhku, ya?" Celeste bertanya dengan terputus-putus. Sebanyak mungkin ia berusaha menghirup pasokan oksigen di sekitarnya. "Lain kali jika ingin membungkam mulutku, jangan gunakan tanganmu! Tanganmu itu kasar dan kotor. Bagaimana jika wajahku yang halus seperti pantat bayi ini menjadi bertekstur seperti katak?"
          
          "Contohnya?"
          
          "Kau bisa gunakan mulut dan bibirmu. Setidaknya tidak akan ada orang yang kehabisan napas karena berciuman, kan?"
          
          "Principessa." San Diego menatap Celeste dengan tajam. Tidak pernah terpikir dalam kepalanya bahwa Celeste akan mengatakan hal seperti itu, meski isi kepalanya memang tidak pernah bisa ditebak.
          
          Bahkan empat pelayan yang ada di kamarnya pun hanya bisa terdiam sambil menunduk mendengar ucapan nona mereka.
          
          "Apa? Meskipun perokok, setidaknya aku yakin bibirmu jauh lebih steril dari pada tanganmu. Kau tidak bekerja menggunakan bibirmu, kan?" tanya Celeste.
          

tuanputriamber

cuplikan bab malem ini guysss
          
          ***
          
          San Diego mendekatkan tubuh, membuat perbedaan yang nyata diantara tinggi badan keduanya, di mana Celeste hanya setinggi dadanya saja. Sementara itu, Celeste semakin mendekatkan pistolnya ke arah San Diego, tidak segan-segan melesatkan peluru jika kunci kamar mandinya tidak bisa dia dapatkan kembali. "Cepat kembalikan kunci kamar mandiku. Bagaimana jika aku ingin buang air? Buang air besar? Atau sesuatu seperti mengganti pembalut? Kau tidak bisa menahanku selamanya seperti ini di sini. Jika aku buang air di sini, apa kau akan membersihkannya?"
          
          "Itu menjijikkan, Principessa, dan kau tidak perlu mengganti pembalut karena ini bukan tanggalmu. Tapi aku tidak mau mengambil resiko." Ia menunduk, lantas menaikkan handuk yang nyaris terjatuh itu. Membetulkannya kembali hingga mengikat tubuhnya dengan kuat. Sangat berhati-hati hingga tidak mengenai kulit tubuh perempuan itu. "Lain kali kau harus belajar memakai handuk sendiri." Ia menatap wajah Celeste. "Jika yang ada di hadapanmu adalah pria lain dan bukan aku, apa kau akan tetap membiarkannya terjatuh begitu saja?"
          
          Celeste tidak tersinggung. Ia justru menurunkan pistol yang sejak tadi ia acungkan, lalu melemparnya ke lantai dengan kesal. Jelas dia tahu senjata itu tidak dilengkapi dengan peluru. Moreno- sang ayah- tidak mengizinkan senjata berpeluru di dalam mansion ini. "Aku benci kau. Benci! Benci! Benci!"
          
          "Kau memang harus membenciku."
          

tuanputriamber

cuplikan malam ini guysss  
          
          ***
          
          "Bukan hanya satu-" Celeste mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah yang akan ia katakan ini adalah sesuatu yang amat rahasia. Padahal di dalam Restaurant ini hanya ada dirinya, San Diego, dan pria aneh di depannya. "- aku punya tiga puluh lima pacar."
          
          "Tiga puluh dua," San Diego mengoreksi. "Kau sudah putus dengan yang satu, jangan dilebih-lebihkan."
          
          "Aku tidak mengada-ada. Aku dapatkan tiga saat menunggumu mengobrol dengan pria aneh ini di basement tadi."
          
          San Diego berkedip beberapa kali, matanya melebar karena tidak menyangka Celeste akan sefrontal ini mengatai seseorang yang ada di depan mata. "Principessa, tidakkah kau merasa terlalu mudah? Itu sangat tidak sesuai dengan background yang kau miliki."
          
          "Aku memang murahan," ujar Celeste dengan sorot angkuh, lalu memandang Sergio. "Jadi pikirkan baik-baik sebelum menerima tawaran bodoh Leandro untuk menjadi suamiku."