vlvdvidraa

"Lo kenapa?" Nada suara June terdengar lebih tajam dari biasanya, pun lebih waspada.
          	
          	Ivanna langsung mengernyit, mendadak bodoh. "Apaan, sih?"
          	
          	"Lo nggak pernah nelpon gue kecuali urgent." June mendecak jengkel. "It feels dangerous when you call me first. Jadi lo kenapa?"
          	
          	Ivanna membeku. Sebentar… June benar juga. Selama mereka saling mengenal, Ivanna hampir tidak pernah menelepon pria itu lebih dulu kecuali soal kerjaan yang genting, setiap kasus mereka bertabrakan.
          	
          	"Lo lagi dimana?" tanya June lagi ketika Ivanna terlalu lama diam.
          	
          	"Di rumah, kok."
          	
          	"You sure, Ivanna?" Suara dari June terdengar sedikit bergerak, seperti seseorang sedang mengambil kunci mobil.
          	
          	Dan tiba-tiba Ivanna sadar. June pasti mengira sesuatu terjadi pada wanita itu.
          	
          	Dan hal seperti ini terasa seperti suatu kebiasaan, begitu pria tersebut berfirasat Ivanna sedang kenapa-napa, pasti setelahnya June akan segera menghampiri untuk memastikan kondisi.
          	
          	Wah... kok bisa selama hampir sepuluh tahun terakhir, Ivanna baru sadar kekhawatiran June?
          	
          	[PART 18 "OCEAN WAVES" TELAH UPDATE YAA, MY LOVE. LET'S CHECK IT OUT!!]
          	
          	https://www.wattpad.com/1632915798?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Levidraa
          	

kaylasandra_

@Levidraa yeayy, dari kemarin nungguin kakk :(
Reply

vlvdvidraa

"Lo kenapa?" Nada suara June terdengar lebih tajam dari biasanya, pun lebih waspada.
          
          Ivanna langsung mengernyit, mendadak bodoh. "Apaan, sih?"
          
          "Lo nggak pernah nelpon gue kecuali urgent." June mendecak jengkel. "It feels dangerous when you call me first. Jadi lo kenapa?"
          
          Ivanna membeku. Sebentar… June benar juga. Selama mereka saling mengenal, Ivanna hampir tidak pernah menelepon pria itu lebih dulu kecuali soal kerjaan yang genting, setiap kasus mereka bertabrakan.
          
          "Lo lagi dimana?" tanya June lagi ketika Ivanna terlalu lama diam.
          
          "Di rumah, kok."
          
          "You sure, Ivanna?" Suara dari June terdengar sedikit bergerak, seperti seseorang sedang mengambil kunci mobil.
          
          Dan tiba-tiba Ivanna sadar. June pasti mengira sesuatu terjadi pada wanita itu.
          
          Dan hal seperti ini terasa seperti suatu kebiasaan, begitu pria tersebut berfirasat Ivanna sedang kenapa-napa, pasti setelahnya June akan segera menghampiri untuk memastikan kondisi.
          
          Wah... kok bisa selama hampir sepuluh tahun terakhir, Ivanna baru sadar kekhawatiran June?
          
          [PART 18 "OCEAN WAVES" TELAH UPDATE YAA, MY LOVE. LET'S CHECK IT OUT!!]
          
          https://www.wattpad.com/1632915798?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Levidraa
          

kaylasandra_

@Levidraa yeayy, dari kemarin nungguin kakk :(
Reply

vlvdvidraa

Ivanna menopang dagu sambil memperhatikan gelas cay. Bentuknya ramping di tengah, melebar sedikit di bagian atas, persis seperti bunga tulip.
          
          Dia jadi teringat dulu June pernah menghabiskan hampir setengah jam menjelaskan sejarah tulip di Belanda hanya karena Eleanor iseng bertanya. Dan tentu saja waktu itu Ivanna menganggap laki-laki itu aneh.
          
          "Lo tau, nggak?" kata June waktu itu sambil duduk di rumput kampus. "Tulip tuh bunga paling overrated sekaligus paling keren."
          
          "Kalimat lo kontradiktif."
          
          "Makanya keren."
          
          "Please stop talking."
          
          Tapi meskipun Ivanna sempat menyuruhnya diam saat itu, sekarang dia justru mengingat percakapan itu sampai detail-detail kecilnya.
          
          Satu penyesalan wanita itu selama 6 tahun terakhir hanyalah tidak pernah mengaku pada June, bahkan kepada dirinya sendiri, bahwa di hari kelulusan laki-laki itu sejujurnya Ivanna ingin memeluknya dengan erat.
          
          [PART 17 "OCEAN WAVES" TELAH UPDATE, PEEPS. LET'S CHECK IT OUT, YEAH!!]
          
          https://www.wattpad.com/1633078784?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Levidraa

SheiSagara

@Levidraa yeayy thanks kak udah update, aku sengaja byk nabung part hehe
Reply

vlvdvidraa

"Astaga, gue baru kepikiran. Kenapa gue resign, ya? Gue kan bisa minta cowok gue PHK gue aja biar gue dapet pesangon."
          
          Laka menoleh sambil menyeringai. "Impulsifnya kapan berubah, Edith?"
          
          SIALLLL!!
          
          Jadi ini, nasib Eva sekarang? Sok-sokan mutusin resign dan berlagak bahagia karena nggak punya beban kerja lagi, padahal aslinya ada opsi yang lebih baik?
          
          Sial seribu sial!
          
          Ini mah percuma punya pacar bos tapi nggak bisa dimanfaatin!
          
          [PART 50 "ALL THAT WE LEFT UNSAID" TELAH UPDATE... YUHUU, LET'S CHECK IT OUT!!]
          
          Yukk lihat gimana mbak pacar menyesal sudah sok-sokan resign dengan alasan takut kurang profesional pacaran sama atasan, tapi dia malah nangis sendiri akhirnya...
          
          https://www.wattpad.com/920465645?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Levidraa

vlvdvidraa

Berlin menajamkan netranya. "Lo nggak mungkin ACC pengajuan cuti dia kalo nggak tau alesannya, Se. Bohong lo aneh."
          
          "Gue ACC dia karena tiga tahun ini dia workaholic mampus, kalo. Jatah cuti nggak pernah dipake. Lembur nggak pernah ngeluh. Gue bahkan mau berbaik hati ngasih dia keringanan buat masuk siangan aja kalo lagi nggak ada project." Sean menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.
          
          Di seberang meja, Maura mulai terlihat tertarik. Persis seperti reporter yang baru mencium aroma skandal.
          
          "Oke, sekarang gue yang penasaran sama lo, Lin," kata wanita itu sambil meletakkan ponsel. "Kenapa sih, lo kayak emak yang kehilangan anaknya? Wajar kali Glen mau healing dari orang-orang kayak lo semua. Gue kalo jadi dia, udah dari jaman Jepang gue kabur."
          
          Masalahnya bukan karena Berlin nggak percaya dengan segala alasan Glen pergi sementara waktu. Masalahnya karena wanita itu memang sedang mencari sesuatu untuk dipercaya.
          
          Dia... takut Glen menjauh karena hal yang buruk.
          
          [PART 16 "ALL THAT REMAINS UNSAID" TELAH UPDATE YAA, PEEPS. LET'S CHECK IT OUT!!]

vlvdvidraa

Ivanna menutup menu dengan keras. Hal itu jelas membuat June mengangkat sebelah alis. "Menunya nyakitin perasaan lo?"
          
          "Enggak."
          
          "Terus kenapa dibanting?"
          
          Ivanna auto mendecak pelan. "Lo bisa nggak, sekali aja, nggak berkomentar tentang gue?"
          
          June terlihat ingin membalas, tetapi pelayan keburu datang. Akhirnya dia hanya mendesah pelan dan urung untuk menyahuti kesinisan Ivanna. Dan tangannya segera menarik piring wanita itu begitu dia sadar, ada beberapa parsley di atas makanannya—jelas Ivanna akan mengamuk karena tidak menyukai itu.
          
          "Woi!"
          
          "Gue cuma ngambilin parsley lo. Jangan berlagak kayak gue ngabisin ini makanan, deh." June melirik sekilas. "Gue lagi gabut, makanan gue belum dateng."
          
          Sesederhana itu jawabannya. Sebelum akhirnya dia mendorong kembali piring tersebut ke hadapan Ivanna. Tidak ada parsley yang tersisa. Tidak satu lembar pun. Dan sukses membuat jantung Ivanna terasa jatuh ke perut.
          
          [PART 16 "OCEAN WAVES" UDAH UPDATE YAA, MY LOVE. LET'S CHECK IT OUT!!]

vlvdvidraa

"Sejak kapan Glen Darmapaksi berani ngajuin cuti?" Nada suaranya terdengar benar-benar bingung. Bukan dramatis. Bukan bercanda. Melainkan bingung sungguhan.
          
          Seolah konsep Glen mengambil liburan adalah sesuatu yang secara biologis mustahil.
          
          "Kita kenal dia delapan tahun," lanjut Berlin sambil menghitung dengan jari. "Dalam delapan tahun itu, dia pernah kerja pas demam, kerja pas libur nasional, kerja pas lagi di luar negeri, bahkan kerja waktu lagi kondangan."
          
          Eva mulai menahan senyum.
          
          Berlin melanjutkan, "Sekarang tiba-tiba dia ngilang dari Jumat kemarin. Sampe hari ini, udah kehitung empat hari. HP mati. Instagram deactive. WhatsApp centang satu. LinkedIn juga nggak aktif."
          
          Denzel akhirnya mendongak. "Lo cek LinkedIn dia juga?"
          
          Berlin langsung membeku.
          
          Sean menutup laptopnya. Karena kalau tidak, dia takut ketahuan tertawa.
          
          Kan... Berlin tuh mana bisa hidup tanpa Glen, sih, meski mereka berdua chaos bukan main dan hobinya berantem mulu kayak anak yang nggak bisa dibilangin.
          
          [PART 15 "ALL THAT REMAINS UNSAID" UDAH UPDATE YAA, MY LOVE... LET'S CHECK IT OUT!!]
          
          https://www.wattpad.com/751153811?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Levidraa

vlvdvidraa

Sean jadi khawatir Eva bisa pergi semudah itu karena merasa nggak begitu penting hidup bersama Sean.
          
          "Udah, ah. Stop melodrama. Dua tahun terakhir lo biasanya nyebelin ke gue, nggak kayak gini." Eva merinding bukan main dan segera menjauh, balik ke kompor.
          
          Beneran, deh.
          
          Si patung lilin gorila itu berubah 180° dan jadi agak menyeramkan. Biasanya juga Sean dulu suka ngasih pekerjaan nggak manusiasi dan bikin Eva stress saja. Mana pernah Eva kepikiran bakal disayang-sayang begini sama itu makhluk!
          
          [PART 49 "ALL THAT WE LEFT UNSAID" UDAH UPDATEEEE!! LET'S CHECK IT OUT, MY LOVE]
          
          https://www.wattpad.com/920468447?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Levidraa

vlvdvidraa

"Tadi siang… Alya chat lo, ya?"
          
          Glen berkedip beberapa kali dengan lambat. Tapi dia biarkan rasa penasaran Berlin menggantung.
          
          "Balikan?" tanya Berlin lagi, bersikap selayaknya orang yang habis mendengar informasi cuaca di berita. Biasa saja. Nggak ada yang mengesankan.
          
          "Enggak."
          
          "Oh." Wanita itu mengangguk samar. "Nice."
          
          Glen mengernyit tipis, nggak paham. "What do you mean by nice?"
          
          Berlin mengangkat bahu cuek. "Nggak kenapa-napa. Gue cuma—" Dia berhenti sebentar, memilih kata. "—gue kira lo bakal ribet kalo balikan sama mantan setelah nggak ketemu hampir tiga tahun."
          
          Bohong... Berlin pembohong andal!
          
          PART 14 "ALL THAT REMAINS UNSAID" UDAH UPDATE, MY LOVE... LET'S CHECK IT OUT, YEAHH!!
          
          https://www.wattpad.com/751083910?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Levidraa

vlvdvidraa

"Ya udah gue anterin aja. Ngenes amat hidup lo." Ivanna berjalan melalui June yang masih fokus menatap ponselnya, berniat memesan taxi online. "Makan dulu. Perut gue keroncongan."
          
          "Nggak mau. Makan aja sana sendiri."
          
          "Jangan nipisin kesabaran gue. Gue mau bales budi, lho!"
          
          "Gue nggak mau lama-lama sama lo." June bersikap bodo amat, sebelum akhirnya mengaduh kesakitan karena dilempar sandal oleh Ivanna tepat mengenai kepalanya.
          
          Dasar Kanigara si kutu kupret!
          
          [PART 14 "OCEAN WAVES" SUDAH UPDATE, PEEPS. LET'S CHECK IT OUT!!]