Sampai suatu malam, Aira buka galeri lama dan nemu dua foto,
— Foto sama Aka yang penuh dengan raut wajah bahagia.
— Foto blur waktu Rafian secara nggak sadar motret Aira ketawa.
Dan detik itu Aira baru sadar, bukan Aka yang dia cari, bukan kenangan romantis yang dulu dia rasakan dengan Aka.
Tapi yang dia cari adalah cara Rafian melihatnya seperti Aira itu cukup, seperti dia layak dicintai tanpa harus jadi apa-apa dulu.
“Bodoh banget… ternyata bukan Aka ya.”
Ternyata rindu ini bukan untuk lelaki yang dulu pandai mengikat Aira dengan ribuan kalimat manis, melainkan untuk lelaki yang jarang berbicara, tapi sepasang matanya selalu mampu menjadikan dunia tempat paling aman untuk pulang.