Aku memilih berhenti sejenak.
Mengikat layar, menurunkan jangkar,
membiarkan perahu ini berayun pelan
di antara ombak yang belum kupahami.
Bukan karena lautku mengering,
melainkan karena angin tak selalu ramah
pada perjalanan yang dipaksakan.
Ada kalanya langkah harus melambat
agar arah tidak salah.
Belakangan, aku merindukan satu hal
kenyamanan yang dulu kutemukan
saat membaca.
Rasa hangat yang membuat waktu melunak,
hening yang tidak menuntut apa pun,
dan kehadiran cerita yang tidak memaksa
untuk segera selesai.
Maka aku berlayar.
Bukan untuk menjauh dari kata-kata,
melainkan untuk mencari teluk yang sama
tempat aku pernah berlabuh sebagai pembaca,
sebelum aku belajar menulis
dengan segala tuntutannya.
Di laut ini, aku belajar mendengar.
Desir kata yang ingin diperlambat,
ritme yang meminta jeda,
sunyi yang ternyata bukan kehampaan,
melainkan penunjuk arah.
Jika untuk sementara halaman ini sunyi,
anggaplah aku sedang membaca angin,
menakar bintang,
dan memastikan perahu pulang
tanpa luka.
Aku tidak meninggalkan cerita-cerita ini.
Aku hanya ingin kembali
dengan layar yang utuh,
dengan hati yang tenang,
dengan rasa yang sama
seperti ketika aku membuka buku
dan dunia terasa cukup.
Sampai angin kembali bersahabat,
aku akan berlayar perlahan.
Mencari kenyamanan itu,
lalu pulang.