Capture (1)

4.7K 197 5
                                        

"Engh..."

Suara serak seseorang yang baru terbangun memecah keheningan ruangan kecil itu. Di atas sebuah ranjang sederhana, seorang pemuda perlahan membuka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada langit-langit rumah yang tampak berlubang.

Dahinya berkerut bingung.
Kenapa atapnya bolong? Apa selama aku pingsan terjadi angin topan? batinnya.

Belum sempat ia menemukan jawabannya, pintu yang semula tertutup rapat tiba-tiba terbuka. Seorang pria bertubuh gemuk masuk sambil membawa senyum ramah.

"Hei, akhirnya kau bangun juga. Aku akan menyiapkan makanan dulu."
Pria itu hendak berbalik, tetapi suara lemah dari atas ranjang menghentikan langkahnya.

"Kau... siapa?"
Pria gemuk itu menoleh, lalu tersenyum semakin lebar.

"Kenapa menatapku seperti itu? Perkenalkan, namaku Wang Pangzi. Kau boleh memanggilku Pangzi, Tuan Gendut, atau Wang Gendut. Terserah mana yang membuatmu nyaman. Tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam."

"Ah, namaku Wu Xie. Senang bertemu denganmu."
Wu Xie membalas senyumnya dengan ramah.

"Wu... Xie?" Mata Wang Pangzi membelalak.
"Apa kau berasal dari keluarga Jenderal Wu?"

"Iya. Kebanyakan orang memanggilku Tuan Muda Ketiga."

Wu Xie perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Baginya, berbicara sambil tetap berbaring kepada pemilik rumah adalah tindakan yang tidak sopan. Sejak kecil, ia diajarkan bahwa sikap dan tata krama adalah hal yang paling utama.

"Pelan-pelan saja bangunnya." Wang Pangzi terkekeh. "Aku benar-benar tidak menyangka orang yang kuselamatkan ternyata anggota keluarga Wu. Sepertinya hari keberuntunganku benar-benar datang. Dewa memang masih berpihak kepadaku."

" bagaimana aku bisa berada di sini?" tanya Wu Xie.

"Semalam aku sedang berpatroli di sekitar sungai. Tidak sengaja kulihat kau tergeletak di atas batu besar. Wajahmu pucat sekali, bibirmu sudah membiru, dan pakaianmu compang-camping. Awalnya kukira kau salah satu makhluk itu. Tapi entah kenapa kakiku terus melangkah mendekat untuk memeriksamu."

Wu Xie terdiam sejenak.
"Benarkah...? Sekarang aku mulai ingat kenapa waktu itu aku bisa jatuh ke sungai."
Pandangannya menerawang jauh.

Flashback...

"Menyebalkan! Kenapa aku tidak boleh keluar dari rumah ini?" gerutu Wu Xie sambil mondar-mandir di dalam kamarnya.

"Paman benar-benar keterlaluan. Jangan-jangan mereka memang berniat mengurungku sampai tua. Seharusnya aku disambut meriah saat pulang, bukan malah diperlakukan seperti tahanan." :(

Semakin dipikirkan, semakin bingung ia dibuatnya.
Saat masih kecil, ia bebas bermain ke mana saja bersama teman-temannya. Ia bahkan sering berpetualang dan menginap di luar rumah. Namun semuanya berubah ketika usianya menginjak remaja. Tanpa alasan yang jelas, ia dipaksa belajar di Jerman.
Selama bertahun-tahun ia hanya bisa menahan rasa rindu pada tanah kelahirannya.
Namun saat akhirnya kembali...
Negara yang ia kenal sudah berubah.
Bukan... bukan negaranya yang berubah.

Manusianya.

Mereka berkeliaran seperti zombie dalam film-film yang pernah ia tonton. Banyak kota hancur, jalanan dipenuhi kehancuran, dan ketika pesawatnya mendarat, ia justru dijemput oleh tentara bersenjata.

Apa sebenarnya yang terjadi selama aku pergi...?

Wu Xie mengembuskan napas panjang. Kepalanya terasa penuh dengan berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

"Aku harus mencari tahu semuanya."
Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamar. Langkahnya menyusuri lorong rumah keluarga Wu hingga tiba di taman belakang.

HERO  ( Sedang Di Revisi) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang