Indra kembali menutup notebooknya untuk kesekian kali. Otaknya buntu. Tugas makalah yang diminta dosen linguistik membuat ia hanya bisa mengacak-acak rambutnya yang ikal. Terkadang ia menoleh ke arahku. Aku tak peduli. Sampai ia meminta bantuanku pun, aku tak akan menghiraukannya. Karena ia masih terjaga saja sudah membuatku muak untuk harus menemaninya.
Aku tak akan bisa pergi atau tidur jika mata Indra masih terbuka. Indra memang hanya seorang parasit bagiku. Sampai-sampai aku tak ingin menganggapnya teman, meskipun hanya dia yang selalu ada di sampingku. Yah, mau bagaimana lagi. Meski awalnya bukan kehendakku aku terus berada di sampingnya, namun lama kelamaan aku nyaman dengannya.
Kamar kos Indra dan aku memang cukup pengap. Hanya ada satu pintu dan jendela. Jendelanya pun menghadap ke lorong depan kamar. Di dinding yang berseberangan dengan luar tidak ada jendela, hanya ada ventilasi yang berupa dua lubang kecil. Di kamar ini juga tak ada satu pun penyegar ruangan sejenis AC ataupun kipas angin.
Dulu memang Indra memiliki satu kipas, namun kubanting kipas itu hingga rusak. Penyebabnya tak lain karena Indra yang mengusik ketenanganku. Ia begitu berisiknya mencoba mengeja bacaan Al-Qur'an dengan tidak lancar. Aku tidak suka. Makanya sejak saat itu ia sudah tidak memegang alkitabnya lagi.
Namun demikian Indra sangat sabar menghadapiku. Begitupun aku yang selalu sabar menghadapinya. Terkadang aku kasihan dengannya. Ia hidup jauh dari orangtua.
Orangtuanya kadang datang mengunjungi kami. Aku sangat tidak menyukai mereka. Berlagak perhatian mempertanyakan kesehatan Indra. Sampai melarang Indra berbicara denganku karena dianggap aku mengganggunya,Tetapi ada satu hal yang selalu membuatku tertawa ketika mereka bertandang kemari. Mereka selalu menjejalkan obat-obatan tidak penting ke mulut Indra.
Alasannya karna Indra skizofrenia, katanya. Mereka berharap Indra bisa tenang dan gampang tertidurketika meminum obat-obatan tersebut. Padahal, yang membuat Indra gampang tertidur adalah karenaku. Cukup dengan kurangkul pundaknya, Indra biasanya akan tertidur.
"Besok pagi, aku harus bangun pagi. Ku harap kamu bisa membangunkanku." Ucapnya pada jam beker biru dengan motif doraemon yang merupakan jam curian dari kamar adiknya.
Aku terkikik geli. Selama aku hidup bersamanya dalam kos-kosan ini, tak pernah ia terbangun karena jam beker kunonya. Aku malah yang selalu mematikan jam beker tak berguna itu ketika berdering. Indra pun menoleh mendengar tawaku. Wajahnya terlihat garang, mungkin ia merasa tersinggung, atau terganggu.
"Ah, sial! Pusing sekali." Kata Indra. Tangannya mencoba meraba-raba atas meja, mencari satu botol berwarna putih yang berisi obat-obatannya. Aku membantunya, membantu menahan obat itu agar tak dimakan Indra.
"Jangan makan obat ini!" bisikku. Sepertinya dia mengerti. Tangannya berhenti meraba obat.
Ku rangkul pundaknya dengan kedua tanganku. Entah mengapa hal ini sebenarnya membuatku lebih bertenaga. Sepersekian detik kemudian Indra menggerakkan bahunya dan mulai meletakkan badannya di ranjang. Ia pun terlelap.
Cukup mudah memang membuatnya tertidur. Mungkin ia sudah nyaman denganku, tapi itu yang membuatku tak suka direpoti teman selemah dia. Indra sering sekali tak becus melakukan segala sesuatu. Ia juga sangat ceroboh. Aku sampai seakan-akan hanya memiliki pekerjaan untuk merawatnya. Meski merepotkan, namun aku suka.
Untuk itu aku tidak suka ia terkadang acuh dariku.
Hal yang mengherankan dari Indra yakni, dengan kondisinya yang begitu payah, ia masih bisa sibuk menyukai seorang wanita. Kerap kali bahkan Indra meminta pendapatku tentang gadis yang ia sukai, Mira.
Memang cantik, tapi aku tidak menyukainya. Mira terlalu baik pada Indra, membuat apa yang dilakukanku selama ini menjadi terlihat tak berguna bagi Indra. Namun, wajah Indra yang lumayan tampan memang tidak mengherankan jika beberapa wanita meliriknya. Aku cemburu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dia milikku
Short StoryParasit begitu meresahkan! apalagi ketika ia menganggap yang lain lah yang menjadi parasit. Indra merasa ia menjadi parasit bagi orang lain karena keanehan dan kecerobohannya. Sampai Mira datang mengubah semuanya. Namun, ada yang tak suka akan kedek...