Kalau kalian memberikan timbal balik pada cerita-cerita ku, aku bakal semangat untuk update bab selanjutnya.
***
Sebulan telah berlalu. Kehidupan Jennie dan Taeyong masih seperti awal menikah. Taeyong. Lelaki itu, masih mendendam marah kepada Jennie dan keluarganya. Sakit hati telah dibohongin dan tipu membutakan hati pria Lee itu.
Perilaku Taeyong terhadap Jennie tak pantas disebut suami, lelaki itu bahkan sering bermain tangan tiba-tiba melihat Jennie. Seperti malam itu, Taeyong yang tiba-tiba pulang dengan pakaian berantakan dan bau alkohol dari mulut datang ke kamarnya Jennie. Menarik gadis itu dengan kasar dan menampar serta menjambak kuat rambut Jennie.
Jennie hanya menangis sejujurnya ia sangat amat tertekan dengan perilaku Taeyong setiap minum selalu berprilaku buruk padanya. Tapi ia tak bisa berbuat banyak ayah dan ibu selalu berharap dengan lelaki itu.
Malam ini Jennie terbangun. Tenggorokan kering. Jennie berjalan ke arah dapur, sepi. Iya karena para perkerja sedang beristirahat di papilium belakang. Jennie meneguk segelas air ketika melihat suaminya dengan seorang wanita yang Jennie tidak tau sedang berciuman di depannya.
Jennie, wanita itu tak memperdulikan itu. Ia sudah bisa melihat Taeyong membawa wanita berbeda-beda tiap malam. Walaupun nyatanya hati kecilnya sakit melihatnya tapi ia tak mau jika Taeyong, tahu bahwa Jennie sudah mulai menyukainya. Taeyong akan sangat marah kepadanya.
Dengan cepat Jennie naik ke atas menuju kamarnya. Mengunci pintu dan menangis dalam diam. Dirinya benci selalu seperti ini.
***
Pagi harinya. Jennie telah menyiapkan makanan untuk Taeyong dan wanita yang sedang dikamar Taeyong. Bi Irma bahkan seluruh pembantu di penthouse ini sudah mengetahui nya. Mereka diam. Tak ada yang berani melawan Taeyong. Mereka berharap semoga tuannya cepat sadar akan tindakannya.
"Nona baik-baik saja?" Jennie mengangguk sembari membantu Irma menyiapkan sarapan pagi.
"Sebaiknya nona istirahat biar saya saja yang menyiapkan ini semua."
"Tak apa bi. Aku masih bisa."
"Mata nona." Ucap bi Irma ketika Jennie menghadap kearahnya.
"Oh ini. Mungkin kelelahan, semalam tugasku sangat banyak." Jelas Jennie. Mungkin orang lain akan percaya tapi mereka yang berkerja dirumah ini tau.
Semenjak tinggal bersama Taeyong. Jennie banyak berbohong pada orang sekitarnya.
Seorang wanita sexy turun dari tangga. Disusul Taeyong dibelakangnya. Kedua manusia itu berjalan dengan mesra ke arah meja yang Jennie telah siapkan makannya.
Jennie memalingkan wajahnya. Ketika sang wanita dengan gemas ngecup bibir Taeyong. Taeyong tertawa menikmati sentuhan wanita itu.
"Baby.. berhenti aku ingin pulang." Ucapnya wanita itu cemberut.
"Baiklah jangan cemberut lagi. Aku akan mengantarmu." Wanita itu menggeleng. Lalu mengecup bibir Taeyong sebentar. "Aku sudah memesan taksi, bukannya kau bilang ada urusan mendesak di kantor."
Mendengar itu Taeyong langsung terdiam apa yang disampaikan wanita di depannya ini bener.
"Baiklah tapi setelah kau sampai di rumah kabari aku." Wanita mengangguk.
Taeyong dan wanita itu berjalan keluar. Taeyong mengantar wanita itu yang telah ada taksi di depannya. Kemudian lelaki itu kembali masuk dan langsung ingin kembali ke atas sebelum Jennie memanggilnya.
"Taeyong..," Taeyong mengeram. Wanita itu selalu saja membuat emosi naik.
"Aku sudah –"
"Diam. Berhenti bicara. Aku muak dengan suaramu."
"Tapi –" ucapan Jennie terhenti ketika tangan Taeyong ingin menamparnya. Jennie memejamkan matanya sembari menutup pipi dengan kedua tanganya.
"Bi Irma. Bi Irma!!" Panggil Taeyong kuat. "Cepat singkirkan wanita ini dari hadapanku."
***
Keadaan Jennie cukup buruk dengan lingkaran mata hitam di sekitar mata. Bibir pucat. Tubuh semakin kurus membuatnya semakin memprihatinkan.
"Jennie, kau baik-baik saja?"
Untuk kesekian kalinya Jennie mengangguk.
"Ada apa? Bukannya kau bilang jika ada masalah dari kita harus saling membantu."
Jennie tersenyum. "Aku baik. Mungkin akibat terlalu semangat untuk ujian sertifikasi."
"Iya. Jangan lupa kesehatan mu Jennie." Jennie menggangguk.
Jaehyun tersenyum lagi-lagi wanita ini berbohong apanya. Sebenernya ia baru mengetahui jika Jennie telah menikah seminggu yang lalu. Awalnya Jaehyun jelas tak percaya ia lebih memilih untuk tak mempercayai ucapan Rose dan Lisa yang selalu tak suka Jennie. Tapi ketika suatu mendesak hatinya untuk mengikuti Jennie dia mengetahui nya.
Betapa hancurnya hatinya. Tetapi ini juga bukan salah Jennie. Ia tak pernah tau jika Jaehyun menyukainya, mungkin akan berbeda Jika saja Jaehyun memberitahu perasahannya.
Lelaki yang mempunyai dimple smile itu mengetahui pernikahan Jennie yang terpaksa. Ia hanya ingin Jennie bercerita dengannya. Mengeluh kepadanya. Bersandar padanya. Jaehyun selalu memperhatikan Jennie. Wanita itu lebih banyak melamun.
"Jennie. Aku hanya ingin bilang. Jika kau tak sanggup berhenti. Lepaskan. Jangan memaksa dirimu. Aku selalu ada untukmu Jennie."
"Terima kasih ucapan Jaeh. Tapi maksud mu apa? Melepaskan apa? Apa yang perlu aku lepaskan?" Ucap Jennie seolah tak mengerti ucapan sahabatnya.
Jaehyun tersenyum. Mengusap kepala Jennie. "Sudah habiskan makananmu. Aku perhatikan kau semakin kurus akhir-akhir ini."
***
Seminggu ini Jennie lebih banyak di luar dan melakukan aktifitas di rumah sakit. Iya. Sebentar lagi ujian Sertifikasi dokternya akan dilaksanakan. Jennie terus melakukan bimbingan pada dokter senior yang dulu sempat berada pada waktu ia koas di salah satu rumah sakit.
Setelah selesai ia keluar dari rumah sakit itu, berjalan ingin memesan taksi melalui ponselnya. Ketika adik lelaki dengan segaram sekolah berdiri di depan gerbang rumah sakit.
"Jeno?" pemuda itu menoleh. Tersenyum ke arah Jennie dan memeluknya.
"Kak," Jeno memeluk erat tubuh Jennie. Ia sangat amat merindukan Kakaknya ini.
"Bagaimana Jeno tau kakak disini?" Tanya Jennie.
"Aku selalu menghubungi kakak. Dan tak ada jawaban sama sekali. Akhirnya aku ke kampus dan menemukan kakak sedang berada di rumah sakit ini."
"Kak.., apakah Taeyong memperlakukan kakak dengan baik." Jennie menoleh sebentar ke arah adiknya. Jeno pasti mengkhawatirkannya selama ini.
"Maafkan karena lupa memberimu kabar. Kak Taeyong baik dengan kakak."
"Kalau begitu kenapa ia memberikan Kakak pulang dengan taksi."
"Jen. Kau tau orang kaya itu sibuk, banyak yang harus dikerjakan."
"Seberapa pun sibuknya aku jika orang yang ku sayang akan aku jemput." Jennie tersenyum kecut mendengar perkataan Jeno.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Baik."
"Malam ini aku akan ikut dengan mu kak. Aku benci mereka karena menyembunyikan keberadaan kakakku."
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Shadow Bride
Fanfiction[Warning 20+] Jennie terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Dengan tekanan dari kedua orang tuannya dan juga keluarganya Jennie terpaksa menyetujui itu. Hidup pernikahan Jennie dibawah tekanannya dari suami yang tak pernah me...
