55. End : Everything is Great

265 12 8
                                        

"Mommyy..."

Alya memutar bola matanya kesal mendengar panggilan nya kali ini.
Bukan suara Luna, tapi Sean yang memanggilnya dengan nada cara Luna memanggilnya.

"Don't call me like that!" Kesal Alya.

Sean masih saja bergelung di selimutnya sedangkan Alya sudah mandi dan rapi. Ia siap membawa Luna bermain ke taman sambil sekedar untuk menghirup udara segar pagi hari.

Tapi, lihatlah bayi besar dihadapannya itu! Sejujurnya, bayi besar itu sangat enak dipandang.
Sempat terpikir oleh Alya untuk membatalkan niatnya untuk pergi bersama Luna.
Tetapi, lagi dan lagi senyum aneh Sean padanya membuat Alya takut dan sebal secara bersamaan.

Sudah cukup dari jam 3 pagi ia melayani nafsu suaminya itu, ia tidak mau lagi berada dikungkungan kekar itu saat ini. Ya, untuk saat ini jangan, Alya!

"Tidak ada ciuman pamit?"

Alya berdengus dan menghentikan langkahnya yang sudah didekat pintu lalu berbalik.

"Kak, sebaiknya kamu bangun dan mandi. Bukankah tadi malam kamu bilang ingin mengunjungi klien pentingmu?"

Seakan teringat, mendadak Sean terbangun dan melihat jam di ponselnya. Padahal jam digital di atas nakas tidak mati.

Oh, rupanya ia melihat beberapa pesan atas nama William, orang kesayangannya. Yang sempat Alya lihat dengan lirikan malas.

Sean pun bangun dari tidurnya lalu ia memeluk Alya dan kecupan di bibir Alya pun tak terhindari. Pria itu langsung lari ke kamar mandi dengan bugilnya membuat Alya menggeleng-gelengkan kepalanya.

--------

Alya kembali menaruh Luna ke dorongan bayi tatkala ia melihat seseorang yang seperti sedang memata-matai nya.

Sosok itu bersembunyi dibalik tembok rumah besar di ujung jalan.

Bukannya tidak berani mendekat, namun ia sedang bersama Luna. Lebih baik ia menjauh dari tempat itu atau kembali ke rumah.
Ia harus segera menjauh dari taman itu.

Ia menaikki Luna ke kursi khusus anak di mobil lalu memasangi seatbelt. Setelah dipastikan aman, ia menutup pintu lalu merapikan dorongan anak itu dan memasukkannya ke bagian belakang mobilnya.

Saat ia selesai menutup pintu dan hendak berlari ke arah kemudi, sebuah batu mengenai kakinya. Alya mengaduh kesakitan sambil melihat batu apa yang dilemparkan. Ia menoleh ke belakang dan tidak mendapati siapapun dalam radius jarak terdekat.

Alya melihat batu itu berwarna merah. Dan warna merah itu mengenai kakinya. Seperti darah, tapi saat ia perhatikan dari baunya, itu seperti cat merah gelap yang baru.

Setelah itu, ia tidak peduli lagi. Ia berjalan ke kemudi dan berlalu dari taman itu.

------

"Al, kamu kok udah pulang?"
Kaget Sean melihat Alya yang sedang memarkirkan mobilnya.
Ia dan William baru saja akan berangkat kerja, tapi terhenti karena melihat kedatangan mobil Alya.

Alya turun dari mobilnya dan berteriak memanggil nanny baby sitter Luna. Alya tidak menjawab pertanyaan Sean, ia fokus ke tempat dimana Luna berada. Untuk ia berikan kepada baby sitternya.

"Al, hei! Ada apa?" Tanya Sean lagi sambil menghampiri Alya.

"Ada yang memata-mataiku, Kak."

Dengan perasaan terkejut Sean mengambil Luna ke dalam gendongannya sambil menatap Willy dengan dahi penuh kerutan.
"Will, bagaimana bisa?"
Tanya Sean mempertanyakan cara kerja Willy dan anak buahnya. Bagaimana bisa kejadian 3 tahun lalu terulang lagi, sedangkan semua orang yang berkemungkinan melakukan tindak kejahatan pada keluarganya sudah dihukum.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 05, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

STILL (Completed) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang