Sean membuka matanya dan mengkerutkan dahinya kala melihat Alya yang tertidur di kursi penunggu pasien dengan tangan yang menggenggam telapak tangannya erat.
"Aku sudah memintanya untuk tidur di sofa, tapi dia selalu menangis panik dan tidak mau melepas tanganmu."
Sean menoleh ke arah dimana Willy sedang duduk di salah satu sofa kecil dengan laptop di pangkuannya.
Sean tersenyum. Ia tahu Alya pasti sangat panik dengan keadaannya. Ia sangat bersyukur, Alya mendengar ucapannya sebelum ia tidak sadarkan diri untuk tidak terlalu panik.
"Apa ia mengeluh perutnya keram?" Tanya Sean dengan suara seraknya.
"Hanya sekali. Saat kau baru saja tiba di RS. Tapi, dokter langsung memeriksanya di tempat, karena Alya menolak diberi tindakan."
Kerutan di dahi Sean kembali muncul.
"Apa dia dan kandungannya baik-baik saja?"
Willy mengangguk. "Tenang saja. Jika hasilnya tidak baik, aku tidak akan membiarkan dia tidur tidak nyaman seperti itu."
"Sudah lama ia seperti ini? Badannya akan sakit, nanti."
"Dia baru tertidur. Semalaman ia tidak tidur. Aku menemaninya sambil menyelesaikan beberapa pekerjaan disini."
"Thanks." Ucap Sean tulus. Ia bersyukur memiliki sahabat sekaligus rekan kerja yang pengertian seperti Willy.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku malah sedikit jengkel dengan sifat Alya-mu itu. Dia benar-benar menyusahkan jika sudah menangis. Dia sangat histeris saat aku mencoba memisahkannya darimu."
Sean terkekeh geli. "Well, memang hanya aku yang bisa menanganinya." Ucapnya bangga.
Tapi menurut Willy, Sean benar-benar tahan untuk menghadapi sifat keras Alya dan manjanya. Ia malah berdoa agar tidak dipertemukan dan berurusan dengan orang yang bersifat seperti Alya. Itu sangat mengerikan. Lebih baik ia berurusan dengan dua orang seperti Sean, daripada dua orang seperti Alya.
"Ya, ya, ya. Semoga umur pernikahan kalian panjang hingga hari tua. By the way, mengenai kasus ini, sepertinya kita malah menemukan kemudahan."
Sean menoleh pada Willy karena sedari tadi sibuk menatap wajah Alya yang tertidur pulas.
"Tunggu! Bagaimana dengan Tania? Apa dia benar-benar terlibat dengan pria itu?"
Willy mengangguk. "Revan, dia dokter junior juga. Rekan Alya. Mungkin kau sudah pernah melihatnya."
Sean mengangguk yakin. "Ya. Aku tidak menyangka, dia mendekati Alya untuk tujuan kejinya."
"Lebih tepatnya, balas dendam. Dia adalah anak Romy."
"Siapa Romy?"
"Aku dan Arnold sudah menuntaskan penyelidikan ini selagi kau tidur. Romy adalah sekretaris andalan Tuan Robbert. Dia berkhianat dan membawa kabur uang Robbert. Robbert memenjarakannya hingga sekarang. Aku tidak menyangka, anaknya mendendam sampai sejauh ini."
"Apa hubungannya dengan Tania?" Tanya Sean bingung kenapa Tania, gadis yang ia kenal baik itu terlibat dalam hal seperti ini.
"Arnold sudah menginterogasinya. Tania bilang ia harus berbicara pada kalian berdua secara langsung. Tapi, fakta yang baru kami temukan adalah Donita dan Romy ternyata memiliki hubungan masa lalu. Dan itu terjadi, di belakang Robbert."
"What?" Kaget Sean.
"Sepertinya, Robbert sudah mengetahui ini. Maka dari itu, ia lebih memilih hidup bersama Ericka."
"Kau yakin?"
"Revan sendiri yang menjelaskan semua awal ia mendendam. Ayahnya memang mengembalikan uang Robbert, tapi Robbert tetap menjebloskan Romy ke penjara."
KAMU SEDANG MEMBACA
STILL (Completed)
Roman d'amourFollow Author dan kasih Voment ya, kalau berkenan. Hehhee - - - Natalya Robberts, gadis imut yang biasa dipanggil Alya ini selalu dimanja seluruh keluarga sejak kecil. Tak memiliki saudara kandung alias semata wayang, mungkin itulah yang membuatnya...
