⚠️SEBELUM MEMBACA LEBIH BAIK DI MASUKAN KE READING LIST ATAU DOWNLOAD DULU YA! JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM SEMUANYA!⚠️
⚠️TERDAPAT KATA KATA KASAR DAN ADEGAN KASAR YANG TIDAK PATUT DI TIRU⚠️
⚠️Terdapat kata kata kasar dan adegan yang tidak pantas ditiru dibeberapa part⚠️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SIANG itu, kantin utama SMA Lentera nampak seperti biasa—meja-meja panjang dipenuhi anak-anak dengan seragam rapi, gelas kopi dingin, dan obrolan setengah Inggris setengah Indonesia yang saling tumpang tindih.
Suara tawa, notifikasi ponsel, dan aroma parfum mahal bercampur jadi satu, menciptakan kebisingan yang terlalu biasa untuk benar-benar diperhatikan.
Aca baru saja keluar dari antrean minuman dengan satu gelas iced lemon tea di tangan dan earbuds yang masih menyumbat telinganya.
Kemeja putihnya rapi, lengkap dengan cardigan abu-abu, dan rambut yang terikat rendah dengan beberapa helai tipis yang lepas di sisi wajah.
Ia berjalan seperti biasa—tenang, lurus, dan terlalu tidak peduli pada sekelilingnya. Namun entah kenapa, karena itu, banyak pasang mata yang tertuju padanya.
Dari arah berlawanan, Sarah datang bersama dua temannya. Langkah mereka serasi, suara tumit mereka memantul di lantai mengilap, dan tawa mereka terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang jelas-jelas disengaja.
Aca melihat mereka. Lalu memilih untuk tetap berjalan dan tidak perduli.
Tetapi Sarah tetaplah Sarah—si gadis arogan yang tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia akan selalu membuka jalan untuknya—bahwa satu tatapan tajam, satu senyum tipis, atau satu nama belakang yang cukup besar sudah lebih dari cukup untuk membuat orang lain mundur.
Dan selama ini, memang begitu. Orang-orang terbiasa mengalah. Terbiasa diam. Terbiasa menelan harga diri mereka sendiri demi menghindari drama yang melibatkan Sarah dan lingkaran kecilnya yang sama berisiknya.
Sayangnya untuk Sarah, Aca bukan salah satu dari mereka. Aca tidak terlihat takut. Tidak terlihat malu. Tidak juga terlihat ingin menyenangkan siapa pun. Dan justru karena itu, Sarah makin tidak tahan.
"Oops."
Suaranya keluar tepat saat mereka berpapasan. Lalu, dengan gerakan yang terlalu halus untuk disebut kecelakaan, gelas es teh di tangan Sarah miring.
Cairan dingin berwarna keemasan itu tumpah lurus ke bagian depan kemeja Aca. Membasahi kain putihnya. Menyusup ke bawah kerah. Menetes ke rok. Sebagian bahkan memercik ke sepatu.
Dingin. Lengket.
Dan seketika, suara kantin menurun setengah tingkat. Bukan hening total. Tapi cukup untuk membuat kejadian itu terasa seperti lampu sorot yang dinyalakan di atas kepala Aca.
Dari meja pojok kantin, semuanya terlihat cukup jelas. Bahkan terlalu jelas.
Arsen yang awalnya tidak benar-benar memperhatikan, kini mulai menaruh atensinya pada gadis gadis itu.