Suatu hari Duri dalam perjalanan pulang usai membeli bibit bunga heather karena ia sedang ingin menanamnya di rumah. Namun saat ia sampai di depan pintu gerbang rumahnya ia kaget begitu mendapati seorang pria terkapar di depan rumahnya.
"Eh? Om kenapa?!" Duri pun menaruh belanjaannya ke tanah lalu mengguncangkan tubuh pria itu. "Om! Bangun, om! Om sakit?"
Duri khawatir karena setelah cukup lama mengguncangkan tubuhnya pria itu masih tidak bergeming. Karena tidak tega membiarkannya di luar ia pun memapah pria itu dan membawanya ke dalam.
"Aduh, tulangku rasanya patah semua." Keluh Duri setelah membaringkan pria itu di kasurnya.
Ia hendak mengganti baju pria itu karena kasihan melihat debu tebal yang menempel di baju pria itu. Namun saat membuka celana pria itu matanya membulat.
"Wah, besar sekali. Nggak kayak punyaku yang kecil." Duri memegang penis pria itu dengan mata berbinar.
Seiring waktu karena sentuhannya penis pria itu menjadi tegang. Duri justru semakin tertarik. Ia pun mencoba mengoral pria itu.
Namun karena memang dalam keadaan pingsan pria itu masih tidak sadarkan diri sampai memuntahkan cairan spermanya di mulut Duri yang langsung ditelan oleh Duri.
🍓
Malamnya
"Dimana aku? Lho, kenapa aku telanjang?" Saat tersadar pria itu kaget begitu mendapati tubuhnya hanya terbalut selimut dan parahnya ada cairan lengket yang sangat familiar baginya menempel di tubuhnya.
"Om di rumah aku!" Duri yang baru saja kembali ke kamar langsung berlari menghampiri pria itu. "Gimana perasaan om?"
"Aku nggak apa-apa. Makasih udah nolongin aku dan maaf udah ngerepotin. Tapi kenapa bajuku dilepas?"
"Baju om kotor tapi bajuku kekecilan buat om jadi aku biarin om telanjang aja."
"Oh, gitu." Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Nama kamu siapa?"
"Namaku Duri."
"Namaku Gempa. Em, kamu masih sekolah ya?"
"Nggak, udah kerja. Aku jualan bunga sama tanaman herbal. Nanti om mampir dong ke toko aku."
"Aku pasti bakal sering mampir." Gempa tersenyum.
"Oh, iya. Orang sakit harus makan dulu! Bentar, om. Aku masakin." Duri langsung berlari meninggalkan Gempa.
"Eh, tunggu!"
🍓
Hap
"Enak." Puji Gempa kemudian kembali menatap Duri. "Kamu tinggal sendirian?"
"Iya, ngomong-ngomong kenapa om bisa pingsan di depan rumah aku?"
"Darah rendahku kadang kumat."
"Oh, gitu." Duri mengangguk-angguk. Tak lama kemudian ia berkata. "Btw tadi aku nyicipin penis om. Penis om besar sekali ternyata."
Gempa pun tersedak kemudin terbatuk-batuk. Duri segera mengambilkannya air.
Setelah sudah reda Gempa berkata. "Kamu nggak boleh ngelakuin itu!"
"Tapi temen aku sering ngelakuin itu sama orang nggak dikenal tiap pergi ke bar. Karena penasaran aku cobain juga."
"Nggak, itu nggak boleh. Temen kamu salah. Hal semacam itu baru bisa dilakuin kalo udah nikah." Gempa melanjutkan makannya. Tak lama kemudian ia melirik Duri. Ia terpesona dengan keimutan Duri. Jarang sekali ia bertemu dengan uke berumur 20 tahunan yang masih polos. Setelah ia menghabiskan buburnya ia memegang tangan Duri. "Menikahlah denganku dan kamu bisa nyentuh aku kapanpun. Aku juga bakal bikin cabang buat toko bunga kamu."
Wajah Duri memerah. Tak lama kemudian ia mengangguk sambil tersenyum riang.
END
KAMU SEDANG MEMBACA
Blossom (REQUEST DI PROFILE)
FanfictionHanya beberapa cerita dengan kapal yang langka (pairing tidak dicantumkan di tag jadi setiap kemunculannya random) P.S: Maaf kalau ada kesalahan atau hal-hal yang tidak berkenan dari cerita ini. Terima kasih 🙏❤️
