Ice adalah murid kelas 2 SMP yang memiliki pacar bernama Halilintar. Ia mencintai Halilintar namun cintanya justru disalahgunakan Halilintar untuk berlaku seenaknya padanya.
Saat Ice bertambah berat badan
"Dasar jalang! Berani-beraninya kamu ngaku pacarku pake badan model karung beras busuk gini!" Halilintar menjambak rambut Ice kemudian menendang Ice hingga terjatuh.
"Ma ... Maaf, Hali ... Hiks ... Ampun ... Sakit ...."
"Maaf maaf! Bukannya diet kamu malah ngepermaluin aku!" Halilintar melepas sabuknya kemudian memukuli Ice.
"Hiks ... Hali ... Uh, sakiiit ... Jangan pukul lagiiii ...." Ice hanya bisa mengatupkan kedua tangannya sebagai perlindungan diri namun tentu saja itu tidak begitu membantu karena hanya sebagian kecil area tubuhnya yang terlindungi kedua tangan yang gemetar itu.
Saat Ice sakit
"Padahal lagi sakit tapi kamu masih bisa ngebangunin adik kecilku ya." Halilintar yang tengah memeluk Ice dari belakang menyusupkan tangannya ke baju dan celana Ice.
"Hali, aku bener-bener lemes. Jatahnya besok aja ya."
"Diem kamu! Tinggal ngangkang aja susah amat sih!" Halilintar menerjang Ice kemudian menelanjanginya dan langsung memasukinya.
"Ah! Sakit! Haaah!"
Saat Ice memergoki Halilintar selingkuh
"Hali, siapa dia? Kenapa kamu meluk-meluk dia?" Ice yang baru datang ke rumah Halilintar kaget begitu melihat Halilintar sedang duduk di sofa bersama Solar yang bergelayut manja di dekatnya.
"Mau ikut campur urusan orang aja kamu. Mending kamu masak buat kita. Aku laper."
"Tentu aja aku berhak tahu! Aku pacar kamu! Suruh dia keluar!"
Halilintar mendecih. Ia mengecup pipi Solar sebelum bangkit dari sofanya kemudian menghampiri Ice dan menamparnya.
Plak!
"Berani-beraninya kamu ngebentak aku. Cepet masak ato kamu mau ngerasain gesperku lagi? Hah?!"
Hal itu terus terjadi sampai hampir setahun lamanya. Akhirnya sudah bisa dibayangkan bukan? Halilintar memutuskan Ice untuk memacari Solar.
Namun beberapa bulan setelah itu untungnya Ice mendapatkan pacar baru yang lembut dan ramah bernama Gempa.
Sudah 6 bulan mereka berpacaran dan Ice akui Gempa selalu memperlakukannya dengan baik juga romantis. Benar-benar mendambanya dan mencintainya.
Namun Ice masih merasa tidak tenang. Suatu hari saat ia menginap di rumah Gempa ia memutuskan untuk mengutarakan keingintahuannya untuk menuntaskan keresahannya.
"Sayang."
"Iya, sayang?" Gempa mengecup kening Ice.
"Apa aku nggak cantik?"
"Kamu punya semua yang aku butuhin, Ice. Kecantikan ... Ketulusan ...." Gempa membelai pipi Ice. "Lantas apalagi yang bikin kamu ragu?"
"Habis udah setengah tahun kita pacaran tapi kamu nggak pernah nyentuh aku." Ice beringsut di dada Gempa.
"Itu ...." Gempa menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan wajah memerah. "Aku sih nunggu kamu sampe keliatan udah siap betul aja. Aku nggak mau maksa kamu. Perasaan kamu jauh lebih penting daripada hal itu."
"Aku mohon jangan begitu." Ice mendongak. "Kalo kamu mau ya tinggal minta. Aku justru takut kalo kamu diem-diem aja."
"Kenapa kamu harus takut?" Gempa mengernyitkan dahinya.
"Aku takut kamu bakal mutusin aku kalo aku nggak bisa muasin kamu." Ice memeluk Gempa. "Aku takut banget, Gempa."
Bukannya tertegun Gempa justru terkesiap karena merasakan tubuh Ice gemetar. Ia pun membalas pelukan Ice dengan lebih erat.
"Kenapa kamu bisa mikir kayak gitu?"
"Dulu aku udah nurutin semua kemauan mantan aku bahkan meski itu menyakitkan buat aku tapi endingnya dia tetep pergi. Gimana jadinya kalo aku malah nelantarin kemauan kamu? Aku takut banget seriusan." Ice meremat baju Gempa.
"Jangan samain aku sama dia ... Dan emangnya kemauan semacam apa yang terasa menyakitkan buat kamu?"
Ice pun menceritakan semuanya. Gempa terperangah mendengar semua itu. Ia tidak menyangka pacarnya yang sebaik itu pernah berpacaran dengan orang sebrengsek itu.
Diciuminya wajah Ice berkali-kali dengan hati teriris. Setelah itu ia memegang pipi Ice sambil menatapnya dalam. Tampak kesedihan terpancar dari mata hazel Gempa.
"Aku nggak akan pernah main tangan sama kamu semarah apapun aku, Ice sayang. Justru aku bakal ngelindungin kamu dari orang-orang brengsek kayak mantan kamu itu."
Ice tersenyum. Tak lama kemudian Gempa mengecupi leher Ice hingga membuatnya sedikit tertegun. Ice pun membalas dengan mencium Gempa sebagai tanda bahwa ia siap. Setelah berciuman Gempa membelai rambut Ice sambil menatapnya dalam.
"Aku bakal tunjukin ke kamu gimana harusnya seks sepasang kekasih itu. Aku bukan seme yang abusif. Aku bakal ngeperlakuin ukeku dengan lembut seperti aku ngeperlakuin kamu selama ini ... Karena aku mau membuat kamu bahagia." Kemudian membuka kancing baju Ice.
END
KAMU SEDANG MEMBACA
Blossom (REQUEST DI PROFILE)
FanfictionHanya beberapa cerita dengan kapal yang langka (pairing tidak dicantumkan di tag jadi setiap kemunculannya random) P.S: Maaf kalau ada kesalahan atau hal-hal yang tidak berkenan dari cerita ini. Terima kasih 🙏❤️
