GEISHARA

22 5 0
                                    

"Ra, tadi ada yang cari kamu, tuh. Lumayan lama lagi tunggu kamu datang, dia duduk di lobi," ujar Letisia sambil menunjuk ke arah lobi yang diikuti oleh ekor mata milik Geishara. "Ganteng lagi, Ra," sambung Letisia yang kemudian di jawab dengan senyum simpul dari wanita yang biasa di panggil Ara, diambil dari tiga kata terakhir dari namanya.

Ara memerhatikan punggung lelaki yang katanya sudah lama menunggu kedatangannya itu, ia sudah bisa menebak kedatangannya untuk apa, dengan langkah gontai Ara kemudian mendatanginya.

"Hai, maaf sudah nunggu lama, ya?"

Mendengar suara yang sudah lama dikenalnya, sontak saja lelaki itu berdiri menyambut kedatangan wanita yang sejak tadi ia tunggu.

"Nggak, kok," balasnya dengan senyum semringah lalu Ara kembali mempersilakannya duduk.

"Maaf, tadi aku makan siang di luar..., aku nggak tahu kalau kamu mau mampir."

"Nggak apa-apa, Ra. Aku yang salah karena tidak mengabari kamu. Jadi, bagaimana Ra?"

Ara terdiam sejenak, bagi lelaki ini adalah jeda yang cukup panjang untuk menjawab pertanyaannya.

"Maaf..., aku nggak bisa, Barra," ujar Ara dengan suara yang setengah berbisik dan tatapan menyesal terarah pada lelaki yang dipanggilnya Barra dan lelaki itu tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya.

"Aku kurang apa, Ra?" tanyanya lemah. Barra hanya ingin tahu apa yang sebenarnya membuat ia tidak spesial di mata gadis ini karena selama ini perhatian Barra hanya tercurah untuk Ara.

"Kamu nggak kurang apa-apa, Barra ..."

Barra menggeleng berkali-kali, tidak ... bukan ini jawaban yang aku ingin dengar dari kamu. Bukan. Tolong, jawab dengan jujur Ara, Please..., batin Barra. Ara melihhat kekecewaan itu semakin pekat akhirnya Ara memilih untuk berkata yang sebenarnya.

"Barra, bagiku kamu hanya sekedar sahabat. Aku sayang padamu sebagai sahabat, Barra."

Pil pahit rasanya sudah masuk kerongkongan Barra, penolakan Ara-pun seharusnya sudah bisa diprediksi olehnya, seharusnya tidak perlu sesakit ini apalagi sampai kecewa berlebihan seperti sekarang ini namun, tetap saja hatinya patah sekarang dan yang lebih menyedihkan lagi, wanita yang dicintainya setengah mati ini telah mencintai orang lain.

Barra semakin tidak rela rasanya membayangkan kalau wanita ini mencintai pria itu sebagaimana ia mencintainya.

"Kamu masih mengejarnya? Sudah menyatakan isi hatimu padanya?" pertanyaan Barra ini sontak saja membuat wajah Ara yang sedari tadi menunduk karena tak enak hati menjadi lurus menatap Barra, rasa terkejut sekaligus tidak suka atas pertanyaan Barra berkilat hebat lewat sinar matanya. Ara mengembuskan napasnya dengan kasar, ia jengkel dengan pertanyaan Barra, seolah pertanyaan itu layaknya silet yang mengiris hatinya perlahan.

"Aku nggak suka dengan pertanyaanmu."

"Ra, lihatlah kita. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, tidak pernah sedikitpun aku melukaimu dengan sikapku tapi, kamu mencintainya sehebat itu, meski dia teramat dingin padamu," kali ini Barra frustasi.

"Cukup. Aku nggak mau dengar."

"Okay, aku mengerti. Maaf sudah membuatmu tak nyaman. Aku pamit."

Barra segera bangkit lalu melangkah pergi meninggalkan Ara yang masih memasang wajah jengkel. Selepas Barra berlalu dari hadapannya, ada rasa kecut dalam hatinya, Ara tahu kalau kalimat Barra yang terakhir adalah fakta yang tidak pernah bisa disangkalnya.

***

Ara termenung di meja kerjanya menatap kosong ke layar komputer yang sejak tadi ia abaikan. Pikiran Ara masih saja mengingat kejadian dua hari lalu antara dirinya dan Barra, kalau dipikir, kata-kata Barra semakin lama semakin benar juga nyata hanya saja, Ara masih enggan beranjak... entah karena dia terlalu bodoh bertahan mencintai lelaki yang memiliki gelar tembok dan batu atau Ara masih sangat yakin kalau lelaki yang ditaksirnya itu memiliki sisi hangat yang tidak diketahui banyak orang.

Kumpulan CerpenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang