Heart Out, 02.

806 137 19
                                    

Hari Kamis, hari yang cukup melelahkan untuk Ashel karena mata pelajaran hari Kamis sangat menguras tenaga nya. Dia berharap bisa segera pulang ke rumah dan merebahkan dirinya di kasur kesayangannya.

Ashel melangkah keluar dari area sekolah dan mengedarkan pandangannya ke pedagang kaki lima di sekitar depan sekolahnya. Namun ia langsung mengurungkan niatnya untuk jajan, dia harus menabung agar bisa membeli iPad baru.

"Tahan ya, Shel. Sabar-sabar," monolog Ashel.

Akhirnya Ashel berjalan menuju parkiran mobil yang berada tepat di depan sekolahnya. Tempat parkir itu memang khusus untuk murid-murid SMA 48 yang membawa kendaraan mobil, kalau parkiran motor ada di sebelahnya.

Begitu Ashel sudah masuk ke dalam mobilnya ia menaruh tas sekolahnya di jok yang kosong, dia sedikit menyandarkan badannya ke jok mobil. Helaan nafas keluar dari mulutnya. Ashel melirik ke atas memperhatikan langit sore yang berwarna abu-abu menandakan bahwa hujan akan turun.

"Ujan lagi?" Monolog Ashel yang masih memandang langit sore.

Memang sudah dua hari ini hujan terus mengguyur Jakarta, Ashel menyukai hujan namun kadang ia membencinya apalagi kalau Ashel lupa membawa payung.

Drrt drrt.

Ponsel Ashel bergetar menandakan ada pesan baru yang masuk. Ashel merogoh tas sekolahnya mengambil ponselnya.

Ashel menekan tombol yang ada di sisi atas ponselnya agar layar ponselnya menyala, tangannya bergerak mengusap layar ponsel kemudian menekan aplikasi twitter.

Ternyata ada pesan baru dari Zee.

Zee.

|Ashel udah gua add ya

Okay! Makasih Kak Zee|
Seen.

"Nih orang emang tipe orang yang cuek ya," gumam Ashel masih menatap layar ponselnya.

Sadar hujan akan turun Ashel tangan nya langsung bergerak memutar kunci mobil dan menginjak pedal gasnya, lalu mobil yang Ashel naiki itu pun keluar dari area parkiran.

Ashel bukan tipe orang yang mempermasalahkan kalau pesannya dibalas singkat dan berujung hanya dibaca oleh sang penerima pesan, namun seseorang yang bernama Zee ini cukup menarik perhatian nya.

Ashel menggelengkan kepalanya berkali-kali mencoba untuk tidak memikirkan Zee. Ya, tidak penting juga kan dia memikirkan Zee yang notabene nya seseorang yang ia kenal melalui sosial media?

Hujan turun deras membuat Ashel sedikit berhati-hati dan menurunkan kecepatan mobilnya, sesekali ia menghela nafas karena membayangkan kemacetan yang akan segera menghadang nya.

"Males juga sih kalau pulang sekarang ... mampir ke cafe tante dulu deh," monolog Ashel dengan senyum sumringah nya.

Ashel memutar setir mobilnya menuju cafe milik tante nya itu, bisa dibilang cafe milik tante nya Ashel itu cukup terkenal dan ramai didatangi oleh pengunjung. Umumnya pengunjung yang datang adalah anak sekolahan, mahasiswa, atau beberapa pegawai kantor yang sedang beristirahat.

Cafe yang terlihat sangat hangat dari luar, ditambah alunan musik yang membuat semua orang semakin betah berada di dalam cafe.

Ashel memarkirkan mobilnya lalu berlari kecil menuju pintu masuk cafe, rintik hujan masih cukup deras namun Ashel lebih memilih menerobos nya tanpa menggunakan payung, alhasil rambut Ashel sekarang sedikit basah dan bajunya juga terkena hujan.

Suara bel langsung terdengar begitu Ashel mendorong pintu cafe, pegawai cafe menyapa Ashel ramah begitu pula Ashel.

"Eum ... mba coffee latte nya satu ya, sama kentang gorengnya juga satu," ujar Ashel yang kini sedang memesan makanan dan minuman nya.

Pegawai cafe mengulang kembali pesanan Ashel memastikan agar tidak terjadi kesalahan, selesai memesan Ashel berjalan ke dalam cafe. Matanya bergerak mencari tempat duduk yang nyaman, Ashel tidak begitu suka keramaian jadi ia memilih duduk di sudut ruangan tepat di sebelah jendela.

"Ujan nya deres juga ya," monolog Ashel seraya menggosok kedua telapak tangan nya.

"Permisi, satu coffee latte dan kentang goreng atas nama Ashel."

Suara berat menghampiri Ashel yang sedang termenung menatap ke arah luar jendela, Ashel reflek menoleh ke samping kirinya kemudian tersenyum sambil sedikit mengangguk.

"Iya benar," jawab Ashel sambil menarik gelas berisi coffee latte nya mendekat.

Mata Ashel bergerak menatap pelayan yang mengantarkan pesanan nya, kemudian tatapan nya turun menuju dada si pelayan dan membaca tanda pengenal yang ada di sana.

"Azizi?" Ucap Ashel pelan namun dapat didengar oleh Zee.

Sementara si lebih tua hanya mengangguk, tidak ada senyuman di wajahnya. Benar-benar wajah triplek, datar.

"Kak Zee kerja di cafe tante?" Tanya Ashel dengan nada yang antusias.

Zee mengerutkan dahinya, jujur ia sedikit terkejut. "Loh lu keponakannya tante Cindy?"

Ashel mengangguk beberapa kali. "Iya, gua keponakannya."

Zee tertawa pelan sampai dua lubang di pipinya terlihat, membuat Ashel sempat salah fokus melihat kedua lesung pipi Zee.

"Keren ya, yaudah silahkan dinikmatin minuman sama makanan nya. Gua harus balik kerja lagi," pamit Zee yang berjalan meninggalkan meja Ashel.

Setelah kepergian Zee dari mejanya, gadis kelahiran bulan Januari itu tertawa pelan mengingat tingkah lakunya Zee.

Tangan Ashel bergerak mengangkat gelas minuman nya kemudian meneguk coffee latte nya perlahan.

"Apasih gak jelas banget," monolog Ashel sambil tertawa pelan.

Tanpa Ashel sadari moment yang terhitung hanya 5 menit itu membuatnya tersenyum selama berada di cafe.

Jari lentik nya bergerak cepat membuka notes yang ada di handphone nya itu. Ashel memang suka sekali menulis atau sekedar coret-coret di notes, itu lah cara Ashel mengekspresikan apa yang sedang ia rasakan.

"Azizi Asadel, Zee, Azizi. Namanya bagus." Ashel mengangkat pandangannya dari handphone menuju jendela.

"Namanya unik juga."

Sore itu diakhiri dengan Ashel yang sedikit kagum dengan kejadian sebelumnya, bagaimana mungkin dia bisa bertemu Azizi di cafe milik tantenya? Yah, rencana Tuhan memang tidak ada yang tau, ya.

Heart out, to be continue ...

Ps: Hello, apa kabar semuanya? Hehehe i'm back!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 31, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Heart Out.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang