Clarity : Alin & Galang
Galang Alandion. Murid laki-laki dengan jaket hitam kulit favoritenya. Semua orang mengenalnya sebagai pribadi dingin juga kasar. Hingga suatu hari ia dipertemukan oleh seorang gadis polos bernama Alin Dayana Nasution.
Alin D...
'Awal rasa baru, setelah sekian lama hati merasa semu tak bertamu'
-Alin Dayana Nasution-
•﹏•
"Kamu ngapain di sini?" tanya Alin gugup saat mendapati cowok berjaket hitam kulit yang sedang berbaring di brangkar Uks. Alin tidak pernah melihat cowok itu sebelumnya.
"Tidur," jawab cowok itu singkat lalu memejamkan matanya.
"G-gue mau piket," ujar Alin bersemu, bingung. "Alas bantalnya juga mau di ganti."
"Gak liat gue sebagai pasien?" Alin berkedip.
"Tapi kan, jam segini belum ada yang boleh—
Cowok itu berdecak. "Gak usah berisik bisa? kepala gue sakit," ketusnya hingga Alin bungkam sendiri.
"T-tapi—"
"Keluar," usir cowok itu lagi. Wajahnya sangat pucat, Alin jadi tidak tega. Mungkin dia benar-benar sakit.
"O-oh yaudah deh, selamat beristirahat dengan tenang," Alin berucap polos sembari menggaruk kepalanya. Entah kenapa tiba-tiba ia jadi takut begini.
"Lo doain gue cepet-cepet mati?" mata cowok itu terbuka lagi. Menatap tajam kearah Alin.
Alin sontak terkejut, gadis itu menggeleng cepat. "Enggak, enggak, bukan gitu—anu maksudnya—"
"Gue pamit," kata Alin lalu membuka pintu Uks dengan cepat dan pergi. Gadis itu berlari menuju kelasnya yang berada dilantai atas seolah di kejar-kejar hantu.
Cowok itu menaikkan sebelas alisnya, merasa lucu akan tingkah gadis itu barusan. Tanpa sadar, bibir pucatnya terangkat—membuat lengkungan manis seperti bulan sabit.
"Alin Dayana Nasution," gumamnya. Tadi ia tidak sengaja membaca nametag gadis itu sebelum ia ngacir keluar Uks.
•﹏•
"Lah cepet banget Lin," ujar Gita, teman sebangku Alin. "Tadi katanya ada jadwal piket Uks."
Alin yang ngos-ngosan akibat berlari kini mengatur napasnya. Duduk di bangku dan membuka botol air minum berkepala Panda yang selalu ia bawa dari rumah, meneguknya hingga tersisa setengah. Gita yang melihatnya sampai bingung sendiri.
"Enggak jadi," jawab Alin memasang raut kesal.
"Kenapa?" tanya Gita penasaran.
"Ada cowok serem di Uks," jawab Alin bergidik. Juga malu karena bersikap bodoh tadi. Seharusnya Alin pura-pura kalem saja dan mengerjakan tugas piketnya dengan cepat. Namun entah kenapa tadi tiba-tiba ia merasa gugup.
Gita kaget ditempatnya. "Lo anak indihome?" Alin melotot.
"Indigo maksudnya," ralat Gita.
Alin menggeleng. "Ya enggaklah, sejak kapan gue indigo?"
"Terus cowok serem, siapa?" Gita tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Yang ganteng di sekolah ini banyak tau Lin," protes Gita. "SMA Dirmaga terkenal sama murid-murid hitz, kalau lo lupa."
"Lo terlalu hiperbola, ngelebih-lebihin."
Gita berdecak. "Bukan ngelebih-lebihin tapi emang faktanya gitu tauuuuuu."
Alin memutar bola matanya malas. "Bodoamat ah!" ia mengambil buku tulis dari dalam tas. "Gue mau kelarin Pr Fisika dulu, liat punya lo dong Git," kekeh Alin. "Dikit doang kok, cuma nomer 3,4,5,6,7,8—
"ITU MAH SEMUA ANJROT!"
Alin menyengir tanpa dosa dengan jari membentuk huruf V.
"Sebagai sahabat yang baik, nih," Gita memberikan buku tugas fisikanya. "Cepetan, tugasnya dikumpul habis istirahat."
"Masih lama," kata Alin santai.
Gadis itu tertawa. "Fisika mah, gampang," ucapnya. "Gampang nyontek maksudnya."
"Bodo Lin, bodo."
•﹏•
Sepulang sekolah, Alin memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke Uks terlebih dahulu. Karena tugas piketnya yang tertunda akibat cowok yang tadi ia temui di Uks, akhirnya ia kembali ke tempat itu dan berniat menyelesaikan tugasnya sekarang dari pada besok diomeli habis-habisan oleh Buk Retno—kepala Uks yang terkenal cantik namun galak.
Sesampainya di Uks Alin mengernyitkan dahinya bingung lantaran ruangan itu terlihat sudah rapi dan wangi saat ia baru saja membuka pintu. Gadis itu melangkah masuk, memeriksa semua mulai dari kotak P3K serta obat-obatan di rak yang sudah tersusun rapi, lantai licin seperti sudah di pel juga sarung bantal yang baru diganti.
Lagi-lagi Alin mengernyitkan dahinya bingung sembari mengambil secarik kertas yang terselip di bawah bantal. Alin membacanya.
Udah gue bersihin. Jangan lupa bilang makasih, gue tunggu.
Galang Alandion.
Oke. Sekarang Alin gemetar sendiri ditempatnya.
•﹏•
Satu kata buat Alin?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu kata buat Galang?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.