Chapter 1

2 0 0
                                    

Kau seperti angin yang melintas di tengah malam
Tiba-tiba pintu hatiku terbuka begitu saja,
Saat kulihat senyum mengembang di wajahmu
Aku diam dan tertunduk malu. Namun, ada hangat yang merayap seketika
Mungkin kau tidak pernah tahu,
Sejak itu aku mulai menulis banyak hal tentang bagaimana
Perasaanku padamu.

Di hari-hari selanjutnya sering kali aku merasa sedih
Saat tak kutemukan sosokmu hadir di hadapanku
Begitu juga sewaktu hujan turun dengan deras
Aku berharap bertemu denganmu, menyapaku
Lalu kita bernaung di bawah payung yang sama
Melangkah melewati genangan air yang mengalir
Di bawah kaki kita. Sembari bercerita tentang masa lalumu
Sampai hujan benar-benar reda

Meski aku tahu semua hanya mimpi
Namun, dalam diamku yang panjang aku berharap
Kelak kau mengizinkan aku untuk menjadi bunga sakura
Yang abadi dan akan menetap selamanya di hatimu.

_____

Di kehidupan kita, masa dan musim datang dan pergi dengan cepat. Menorehkan banyak jejak cerita, tawa juga air mata. Seperti ketika tumbuhnya sebuah perasaan, hati  di penuhi bunga-bunga. Semarak, bermekaran seolah tidak akan digugurkan oleh angin."

Turun dari angkot aku melesat, menerobos gerimis tipis yang sedari tadi mengguyur. Berlari cepat menuju gedung pusat perbelanjaan yang Teh Mila maksud, di sebuah kawasan elite Jakarta Selatan. Mungkin salahku, menyeberangi jalan tanpa memperhatikan lalu lintas atau memang sedang apes. Baru saja akan melangkah di zebra cross setelah memencet tombol pada tiang rambu untuk pejalan kaki. Tiba-tiba terdengar suara klakson berdecit panjang. Lengkingannya menyakitkan telinga. Aku terkesiap, kakiku gemetar. Sebuah sedan hitam berhenti mendadak tepat di sebelah kananku. Bagian depan kendaraan itu nyaris menyentuh tulang pergelangan tangan. Membuatku spontan berteriak kencang. Membuat semua perhatian terpusat padaku. Beberapa orang datang menghampiri. Menanyakan apa yang terjadi. Beberapa lagi menarik tanganku menjauh dari sedan itu, menunjukkan rasa simpati. Sementara rambu untuk pejalan kaki masih berdecit-decit, menghitung mundur. Membiarkan orang-orang yang akan menyeberang lewat terlebih dahulu.

Tak lama kulihat si pengemudi brengsek itu menurunkan kaca depannya, menjulurkan kepala lalu berkata dengan suara datar, “Kalau mau menyeberang tolong perhatikan jalan, oke. Jangan seenaknya."

Setelah itu dia kembali menutup rapat kaca mobilnya. Menyaksikan itu aku merasa emosiku melonjak seketika. Ingin sekali menyemburnya dengan air comberan atau melempar mobil bagus itu dengan kotoran. Benar-benar tidak tahu diri.

“Woii, dasar brengsek! Nggak liat lampunya masih merah, hah?!!” seruku dengan suara keras dan pecah ke arahnya, sembari memukul bagian depan mobilnya dengan rasa marah Tetapi dia acuh saja bahkan tak melihat ke arahku yang masih berdiri di samping. Pikirku sombong sekali dia.  Andai aku punya mobil yang lebih gagah dari miliknya, mungkin sudah balas kulindas dia. Biar tahu rasa!

Beberapa saat kemudian kendaraan di kanan kirinya mulai bergerak maju. Menyadari itu terpaksa aku menyudahi kemarahan yang rasanya belum terpuaskan. Kembali bergegas. Mengabaikan tatapan bertanya beberapa pasang mata yang masih berminat menyaksikan insiden itu. Ujung sepatuku sudah basah sepenuhnya lantaran menabrak genangan air di lekukan jalan. Sepertinya gerimis akan berlangsung lama jika dilihat dari bentangan langit yang pucat.

Pukul 10. 35 mal kelas menengah atas itu sedang ramai-ramainya. Langkahku mengarah ke lantai dua. Memburu waktu. Menyibak kerumunan pengunjung yang memenuhi eskalator. Tiba di lantai dua mataku nyalang mencari papan nama toko yang disebutkan Teh Mila. Untuk menemui seseorang bernama Rina. Dia yang memberi kabar baik ini lewat teman satu kos ku itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 28, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I Love You, Mr. Boss!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang