#3 ; Penasaran

59 2 0
                                        

11 November 2013

Selepas Isya, aku berguling malas di ranjang. Kedua tanganku menggenggam ponsel kesayangan. Bola mataku naik turun membaca cuitan ribuan orang yang lalu-lalang di timeline twitter. Jari-jariku seperti ga ada bosannya scrolling sosmed ini. Aplikasi yang satu ini semakin hari semakin liar. Segala macam pikiran manusia berseliweran dengan ganasnya tanpa sensor yang melindungi. Tapi dari sekian banyak topik yang dibahas orang-orang di sosmed ini, topik ngebucin adalah yang paling banyak memenuhi timelineku. Banyak kalimat-kalimat puitis berbau mellow. Anehnya, tulisan seperti ini justru banyak peminatnya. Beberapa akun yang gemar menulis cuitan semacam ini mulai mendapatkan panggung. Mereka mendapat julukan baru, 'seleb tweet'.

Dari ribuan tweet yang menghiasi timeline-ku, ada satu tweet yang tertangkap jelas oleh mataku. Tweet ini tidak mellow, tapi receh.

"Hidup di twitter itu keras. Kita harus banting jempol demi sesuap retweet," bunyi tweet itu. Arka yang menulisnya.

Tak bisa ku sembunyikan, muncul segaris lengkung di ujung bibirku. Dalam hati aku tertawa. aku akui tweet Arka memang menghibur. Seperti beberapa contoh tweet lainnya;

@Arndud: Makan kari ayam rasa mie instan

@Arndud: Galau itu pertama kali dipopulerkan oleh captain Tsubasa. Coba liat.. sebelum nendang bola, dia bahas masa lalu sampe dua episode.

@Arndud: Ngebayangin Taylor Swift lagi naek ojek, terus tiba-tiba dia miringin pantat dikit, abis itu kentut.

Ada juga beberapa tweet yang narasinya percakapan seperti ini;

@Arndud: dek, disunat rasanya gimana?? | rasa kari ayam bang | lah kok gitu?? | soalnya guntingnya bekas gunting indomie bang |...

Terkadang tulisan puitis nan galau ikut menghiasi cuitan twitternya;

@Arndud: Berusaha tetap sabar, tapi dianya malah gasadar-sadar.

@Arndud: Saya stlakermu yang paling tabah.

@Arndud: Aku hanyalah seorang pelupa yang tak mudah melupakanmu.

@Arndud: Dekat tetapi tetap merasa hening.. lebih menyakitkan daripada jarak.

Dan banyak tweet puitis-galau lainnya. Dari beberapa tweet ini, aku dapat menilai, Arka tengah jatuh cinta kepada seseorang, sayangnya cinta yang tak berbalas. Mungkin perempuan yang ia cintai adalah teman sekolahnya? Entahlah.

Sudah 4 bulan ini aku mutualan dengan Arka. Pertemuan yang tidak sengaja terjadi melalui dunia maya. Beberapa kali ku beranikan membalas tweetnya. Terkadang, Arka juga membalas tweetku. Sejauh ini, hampir semua cuitan Arka di akun twitternya sangat menghiburku. Aku tidak ingat apa kami pernah berkenalan secara resmi. Obrolan-obrolan selama ini, semuanya mengalir begitu saja. Semakin lama kami semakin terbuka satu sama lain. Obrolan-obrolan berkenaan tentang hal pribadi berlanjut di DM.

Dari obrolan kami di twitter, aku jadi tau kalau selain hobi basket, Arka juga lagi seneng-senengnya menjadi seorang comica. Ia sering mengisi panggung sekolahnya dengan menampilkan perform stand up comedy. Arka juga pernah pergi ke Senayan, Jakarta untuk menghadiri perhelatan comica se-Indonesia. Wajar sih, dari cuitannya di twitter udah kelihatan kalau Arka adalah sosok humoris. Selain itu, ia juga tengah disibukkan dengan kegiatan Osis.

Dan aku? Aku pun mulai percaya menceritakan Bayu pada Arka. Bercerita tentang perasaanku ke Bayu dan menanyakan hari-hari Bayu selama di sekolah. Tau kalau aku menaruh rasa pada Bayu, lantas menjadi senjata Arka untuk ceng-cengin aku.

"Cieee Rara, jadi gimana nih sama Bayu? Ada perkembangan ga?," goda Arka.

"Dih, apaan sih Arka. Biasa aja kali. Temenan doang. Udah ga ada perasaan lagi, juga," jelasku panik. Gengsi mengakui.

Bukan Salah Jarak (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang