Sudah dua bulan pembelajaran tahun baru pelajaran dimulai. Kampus yang sebelumnya sibuk dengan kegiatan OSPEK dalam rangka menerima mahasiswa baru, kini kembali normal seperti sebelum diadakannya OSPEK. Namun, kini sibuknya diganti oleh para pengurus organisasi atau ekstrakulikuler untuk acara perekrutan anggota baru.
Hendra dan Yasa tergabung dalam kepengurusan yang sama di UKM Badminton di kampusnya, dengan Hendra sebagai koordinator dan Yasa sebagai anggota dari divisi Hendra. Mereka berdua tengah sibuk menyiapkan formulir perekrutan anggota baru untuk segera disebarkan besok.
"Yas, tolong ya buat nyebarin formulir ke anak-anak besok," ucap Hendra yang tengah duduk di sofa ruang sekretariat.
"Siap, Kis. Oh iya, tadi lo habis dicariin sama Koh Tony," jawab Yasa yang tengah mengeprint formulir.
"Koh Tony?" tanya Hendra mengernyit.
Tony adalah ketua dari UKM Badminton. Mahasiswa semester 5 jurusan Agribisnis. Sikapnya yang baik, jiwa kepemimpinannya yang patut diacungi jempol, dan tak kalah karena prestasi-prestasi yang membanggakan membawa nama kampusnya sehingga banyak yang memilih Tony sebagai ketua.
"Iya, gue tadi ketemu di koridor terus nanya lo dimana," jawab Yasa.
"Dia sekarang ada dimana?"
"Katanya, kalo gue udah ketemu lo, disuruh buat ngehubungin dia, soalnya tadi waktu ketemu, dia mau pulang"
Hendra langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dengan cekatan, ia membuka WhatsApp untuk menghubungi Tony, "Berdering doang Yas, gak dijawab-jawab" ucap Hendra sambil menunjukkan layar ponselnya ke Yasa.
"Lagi di perjalanan kali, Kis. Lo hubungin aja nanti"
"Iya mungkin" Hendra mengakhiri panggilan itu. Direbahkannya tubuhnya kembali ke dalam empuknya sofa.
Tidak bohong lagi, kini bayang-bayangnya tetap teringat pada empat jam di malam pekan raya itu. Pria mungil yang baru dikenalnya itu, merubah hidup Hendra sampai saat ini. Pikirannya berkecamuk tentang bagaimana dia saat ini, dimana dia meneruskan sekolahnya, dan uang paling penting, apakah dia masih mengingatnya.
Lamunannya dihancurkan oleh nada dering dari ponselnya. Nama 'Koh Tony' terpampang di layarnya. Ya, Tony menghubunginya. "Halo, Hen?" suara Tony dari seberang.
"Iya, Koh. Ada apa?" jawab Hendra dengan memposisikan ponselnya di dekat telinganya.
"Maaf, tadi ga ke angkat, soalnya masih diperjalanan"
"Iya Koh, gak apa-apa kok"
"Saya cuma kasih tahu aja, Hend. Kamu sama yang lain tolong ya buat ngambil alih saat tes perekrutan. Kita tiga hari lagi harus keluar kota. Waktunya tidak cukup nanti kalau nunggu saya dan yang lain pulang dan latihan juga harus segera dilaksanakan,"
Hendra yang mendengar manggut-manggut, "Mendadak banget Koh berangkatnya. Siap Koh, nanti saya beritahu yang lain juga dan sebisa mungkin kami akan berusaha dengan maksimal"
Tony dan kawan-kawannya dipanggil sebagai perwakilan dari kampusnya untuk mengikuti pelatihan badminton di sebuah klub di Jawa Tengah. Mereka akan berangkat tiga hari lagi dan akan stay di klub selama tujuh hari ke depan. Mau tidak mau, Ia harus menyerahkan tanggung jawabnya ke adik tingkatnya supaya badminton di kampusnya tetap berjalan.
"Iya nih, Hend, kemarin baru dapet kabar. Oh ya, formulir udah disebar semua?"
"Rencananya besok disebarnya, Koh"
"Bisa disebar sekarang aja gak, Hend? Biar anak-anak juga punya waktu lebih untuk mikir. Kalau besok, takutnya kurang waktu"
Hendra memikirkan sejenak keputusannya, "Bisa Koh, bisa. Nanti saya sama Yasa yang akan atur"

KAMU SEDANG MEMBACA
Me and you - Ahsan Hendra
FanfictionDia tidak pernah menang, semuanya terjadi karena dunia atau Tuhan yang berkehendak, Apa bedanya? Besarnya harapan, empatinya, dan secuil doa yang mampu membuatnya bertahan. Apakah berbicara tentang satu pihak? Tidak, satu sama lain akan berhubungan...