Chapter 7

105 16 79
                                        

Memang bukan rahasia semesta lagi jika yang terlihat lemah akan ditindas oleh orang yang terlihat kuat dan berkuasa.

// About Readiness //

"Hoaaam ...."

Bintang menoleh ke sebelahnya dan mendapati Ayra yang tengah mengolesi minyak aroma terapi di samping kedua mata juga keningnya. Ini sudah kelima kalinya Ayra menguap dalam kurun waktu tiga menit. Sepertinya gadis bermata bulat itu sangat mengantuk, ditambah lagi dengan mata pelajaran yang begitu membosankan membuat kantuknya tidak lagi tertahankan. Baru saja, Ayra hendak menidurkan kepalanya di atas meja, tetapi terurungkan saat Bintang mencubit lengannya dengan tidak berperi kemanusiaan.

"Apa, sih, Bi?" tanya Ayra yang terlonjak kaget dan menatap sepupunya itu dengan kesal.

"Jangan tidur, Bego! Lo mau dimarahin Pak Amir lagi, kayak minggu kemarin?" tanya Bintang sedikit berbisik agar suaranya tidak didengar oleh guru yang terkenal super killer di SMA Nusa Bangsa--yang sedang menjelaskan di depan sana.

"Ngantuk, Bintang," ujar Ayra setengah merengek, kemudian mengucek kedua matanya yang sudah memerah karena sudah sedari tadi dia menahan kantuknya.

"Sana, lo ke toilet."

"Hah? Ke toilet? Ngapain?" tanya Ayra kebingugan, "oh ... maksud kamu, kamu nyuruh aku tidur di toilet gitu?" lanjut Ayra.

Bintang menepuk keningnya, kemudian menatap geram ke arah Ayra. "Bukan, Ra. Gue nyuruh lo ke toilet untuk cuci muka biar nggak ngantuk lagi, bukan nyuruh tidur. Astaga ...."

"Yang lagi cerita di sana sepertinya ingin menggantikan saya menjelaskan di sini, ya?"

Sontak Bintang dan Ayra mematung di tempat saat mendengar sindiran dari Pak Amir, belum lagi tatapan pria paruh baya itu begitu tajam dan menusuk sehingga membuat keduanya kesulitan hanya untuk menelan ludah.

"Mampus!" gumam Bintang sangat lirih dan hanya Ayra yang bisa mendengarnya. "Nggak, Pak. Ini, Pak si Ayra katanya kebelet banget mau ke toilet, tapi dianya takut minta izin ke Bapak," jawab Bintang pada akhirnya.

Ayra sontak melototkan matanya, baru saja dia ingin mengelak jika yang diucapkan Bintang tidaklah benar, seketika tidak jadi saat Bintang sudah lebih dulu menarik tangannya, dan membisikan pada Ayra agar dia diam saja. Mau tidak mau Ayra hanya bisa menurut, karena ini juga kesalahannya. Namun, tetap saja dia merasa kesal karena Bintang memfitnahnya.

"Benar begitu, Ayra?" tanya Pak Amir.

"Be ... benar, Pak," jawab Ayra seraya memberikan cengiran anehnya.

"Ya sudah, silakan."

Ayra segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan kelas setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Amir. Saat sudah jauh dari kelasnya, Ayra mendengkus kesal, kemudian memberenggut dan menghentakkan kakinya beberapa kali. "Dasar Bintang, nggak berperi kesahabatan dan kesepupuan banget. Aku pecat jadi sahabat sama sepupu, baru tahu rasa dia!" dumelnya sembari berjalan menuju toilet.

Setelah tiba di toilet Ayra segera mencuci wajahnya, kemudian mengeluarkan tisu dari saku baju untuk mengeringkan air yang ada diwajahnya. Usai itu dia segera keluar dari toilet, tetapi saat baru keluar dari toilet samar-samar telinganya mendengar suara tawa beberapa orang.

Sejenak Ayra berhenti, lalu mengedarkan pandangannya. Koridor toilet sangat sepi dan hanya dia seorang di sana. Ayra menajamkan pendengarannya guna mencari tahu di mana asal suara tawa itu terdengar. Ayra yang notabenenya orang yang memiliki kekepoan yang terbilang tinggi tentu saja akan penasaran mengapa beberapa suara tawa itu terdengar.

About Readiness (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang