Di balik rasa sedih yang Allah kasih akan ada kebahagiaan yang menanti. Karena yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya yang buruk menurut manusia belum tentu buruk menurut Allah.
// About Readiness //
Ayra dan Akhtar tampak duduk di sebuah bangku yang berada di halaman rumah lelaki itu. Keduanya duduk di bangku tanpa sandaran yang di tengah-tengah mereka terdapat meja bundar kecil. Di saat Akhtar sibuk memperhatikan Oya yang sedang bermain ayunan, maka lain halnya dengan Ayra yang menatap sendu ke arah Akhtar.
"Kak Akhtar beneran udah ngelamar perempuan lain, ya?"
Pertanyaan Ayra berhasil membuat lelaki itu refleks menoleh ke arahnya. Raut wajahnya yang seolah mengatakan 'bagaimana kamu tahu?' tergambar jelas dan sangat mudah untuk Ayra baca.
"Jadi beneran, ya, Kak?" lirih Ayra seraya menundukkan kepalanya, memutus kontak mata dengan Akhtar yang lebih lama dari biasanya.
"Siapa yang kasih tahu kamu?"
"Penting, ya, Kak Akhtar tahu yang ngasih tahu aku berita ini siapa?" tanya Ayra pelan seraya meremas kedua tangannya. "Apa selama ini Kak Akhtar nggak sadar, ya sama sikap aku ke Kak Akhtar ...?"
Akhtar mengerutkan dahinya bingung, lantaran tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Ayra barusan. "Maksud kamu apa?"
Gadis yang tidak menggunakan jilbab itu mendongak, kemudian menatap tepat ke netra Akhtar. "Maaf, Kak ... aku nggak bisa kayak Sayidah Fatimah yang bisa tahan dengan cinta diam-diamnya kepada Ali bin Abi Thalib. Aku juga tidak seberani Bunda Khadijah yang melamar Rasulullah lebih dulu ... yang kubisa hanya menjadi seperti Zulaikha yang dengan terang-terangan menunjukkan jika dia mencintai Yusuf ...."
"Maksud kamu ...."
"Apa selama ini Kak Akhtar nggak benar-benar sadar kalau sebenarnya aku suka dan cinta sama Kakak?" Ayra memotong ucapan Akhtar dengan mengucapkan kalimat frontal yang membuat Akhtar seketika terdiam. "Selama ini aku berusaha jadi Zulaikha yang terus-terus mengejar Yusuf, lelaki yang dia cintai. Aku pikir, tanpa aku ungkapin perasaan aku ke Kakak, Kak Akhtar bakalan tahu kalau sebenarnya aku ada rasa sama Kak Akhtar," lanjutnya dengan mata yang memerah.
"Ayra, maaf ... tapi tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu sama lelaki yang sudah memiliki calon istri."
Nada yang diucapkan Akhtar memang pelan dan penuh pengertian, tetapi tetap saja perkataannya itu bagaikan bilah tajam yang menyayat hati Ayra. Perih sekali rasanya.
Ayra menunduk saat merasakan air matanya yang sudah ingin menetes. "Maaf, Kak ... tapi aku cuman mau ngasih tahu perasaan aku ke Kak Akhtar sebelum Kak Akhtar jadi milik perempuan lain, walaupun udah terlambat. Tapi sebelum aku memutuskan sesuatu, aku mau nanya sama Kak Akhtar, tapi aku harap Kak Akhtar mau menjawabnya dengan jujur."
Akhtar hanya diam sembari kembali menatap Oya yang masih sibuk dengan ayunannya. Jujur saja, Akhtar tidak kuat jika harus melihat seorang perempuan menangis, apalagi jika itu karenanya.
"Apa Kak Akhtar pernah ngerasain perasaan yang sama kayak yang aku rasain, walaupun itu cuman sebentar?"
Akhtar kembali menoleh dengan raut keterkejutan. Namun, detik berikutnya raut wajahnya berubah diiringi dengan embusan napas kasar yang keluar dari hidungnya. "Ayra ... maaf kayaknya aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu." Akhtar bangkit dari duduknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Readiness (END)
EspiritualSpiritual-fiksiremaja "Maaf, aku nggak bisa kayak Sayidah Fatimah yang bisa tahan dengan cinta diam-diamnya kepada Ali bin Abi Thalib. Aku juga tidak seberani Bunda Khadijah yang melamar Rasulullah lebih dulu ... yang kubisa hanya menjadi seperti Zu...
