Giselle, seorang siswi baru di SMA Harapan Bangsa, tak sengaja bertemu kembali dengan Lee Jeno, cinta pertamanya yang populer. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia mengetahui rahasia kelam keluarga: Jeno dituduh sebagai penyebab kecelakaan maut yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Giselle masih terpaku menatap layar ponselnya. Jemarinya gemetar kecil saat menelusuri rentetan pesan dari Jeno yang baru saja ia sadari. Rasa bersalah karena telah mengabaikan pangeran sekolah itu kini meleleh, berganti dengan debaran aneh yang menghangatkan dadanya di tengah udara dingin.
"Ternyata... Kak Jeno yang mencariku sejak subuh," bisiknya pelan. Senyum lebar tak tertahankan terukir di bibirnya. Kekesalan pada Renjun menguap begitu saja, digantikan oleh rasa euforia yang meluap-luap.
Namun, kebahagiaan itu perlahan terusik oleh kesunyian rumah yang mencekam. Suara detak jam dinding beradu dengan deru badai di luar, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. "Daripada mati kebosanan di sini, lebih baik aku mencari sesuatu yang hangat," pikirnya.
Dengan jaket tebal dan payung lipat di tangan, Giselle nekat menembus tirai hujan menuju minimarket di ujung blok. Di sana, di antara aroma kopi dan rak-rak makanan, ia menikmati semangkuk ramen instan yang uapnya mengepul hangat. "Ah, ini baru hidup," gumamnya sembari mengusap perutnya yang kini terasa nyaman.
Ia menatap keluar jendela kaca yang berembun. Langit masih pekat, kilatan petir sesekali membelah angkasa dengan suara menggelegar. "Kapan hujan ini akan berhenti?" batinnya ngeri. Merasa suasana semakin tidak menentu, ia memutuskan untuk segera pulang, berharap Renjun sudah kembali dan rumah tidak lagi terasa seperti bangunan kosong yang angker.
Giselle berjalan kaki dengan hati-hati, memegangi payungnya erat agar tidak terbawa angin kencang. Namun, saat ia berbelok di sebuah tikungan sepi yang jalannya sedikit licin, langkahnya mendadak terhenti.
Di atas aspal yang basah, sebuah motor besar tergeletak menyamping. Di sisinya, seorang pria tampak mengerang kesakitan sembari memegangi lututnya.
"Astaga! Anda tidak apa-apa?" teriak Giselle panik. Ia segera berlari mendekat, mengabaikan payungnya yang kini miring tak beraturan. "Ayo, mari saya bantu berdiri!"
Giselle mengerahkan seluruh tenaganya, membahu pria yang tampak kesulitan itu untuk bangkit dari himpitan motor beratnya. Di tengah deru hujan, suara pria itu terdengar lirih namun sangat akrab di telinganya.
Pria itu perlahan membuka helm full-face yang menutupi wajahnya. Air hujan segera membasahi rambutnya yang hitam, namun sorot matanya tetap tajam dan hangat.
"Ini aku, Jeno."
"Kak Jeno?!" seru Giselle, suaranya nyaris tertelan suara guntur. "Kenapa Kakak bisa ada di sini? Bagaimana bisa terjatuh seperti ini?"
Jeno mencoba tersenyum, meski gurat kesakitan jelas terlihat di sudut bibirnya. "Jalannya licin sekali, aku kehilangan kendali. Terima kasih sudah membantuku."
"Sudah kewajiban manusia untuk saling menolong, Kak! Tapi lihat, lukamu cukup parah," ucap Giselle tulus, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. "Kakak tunggu di bawah pohon rindang itu sebentar. Aku akan mencari taksi dan obat-obatan!"
Giselle berlari secepat kilat kembali ke arah minimarket, meninggalkan Jeno yang bersandar pada batang pohon besar. Jeno menatap punggung gadis itu yang perlahan menghilang di balik tirai hujan. Sebuah tawa kecil yang getir sekaligus bahagia lolos dari bibirnya.
"Sial, Han Jisung benar-benar berbakat jadi peramal," batin Jeno. "Dia bilang bidadari yang akan menolongku... ternyata bidadari itu benar-benar Giselle."
Tak butuh waktu lama bagi Giselle untuk kembali. Ia datang dengan napas terengah-engah, namun tangannya sigap membawa kantong plastik berisi obat. "Kak! Taksi onlinenya sudah sampai di depan. Dan aku sudah memanggil jasa derek untuk mengurus motormu!"
Jeno terpaku melihat betapa cekatannya gadis di depannya ini. Giselle membimbing Jeno yang pincang untuk masuk ke dalam taksi, memastikan pria itu duduk dengan nyaman. "Tolong pak, teman saya terluka. Kita ke alamat ini, ya," pinta Giselle pada sopir taksi dengan nada mendesak.
Sesampainya di rumah, suasana hangat segera menyambut mereka, kontras dengan badai yang masih mengamuk di luar.
"Kakak harus segera ganti baju. Kakak basah kuyup, bisa-bisa nanti masuk angin sebelum lukanya sempat diobati," perintah Giselle tegas, namun terselip perhatian yang lembut.
"Ganti baju?" Jeno menoleh, matanya berkilat jahil sejenak meski ia sedang menahan nyeri. "Maksudmu... aku harus telanjang di sini?"
Wajah Giselle seketika berubah merah padam. Ia mematung, lalu menepuk dahinya keras-keras. "Astaga! Bukan begitu! Maksudku... aku akan meminjamkan baju Kakakku!"
Jeno terkekeh pelan, merasa gemas melihat reaksi Giselle yang salah tingkah. Ia pun berjalan pelan menuju kamar mandi sesuai arahan Giselle, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk bersih yang diberikan gadis itu.
Tak lama kemudian, Giselle mengetuk pintu kamar mandi dengan ragu. Ia membawa setumpuk kaus oversized dan celana training milik Renjun. "Ini, Kak. Ukurannya pasti muat di badan Kakak. Pakailah dulu sementara baju Kakak dikeringkan."
Giselle menyerahkan pakaian itu dengan pandangan tertunduk, tak berani menatap Jeno langsung. Di dalam kepalanya, ia hanya bisa berdoa agar jantungnya tidak berdetak terlalu keras hingga terdengar oleh pria yang kini berada di balik pintu kamar mandinya itu.