Pagi hari pukul delapan. Udara masih segar, tapi di depan gerbang KosuFams sudah ramai. Beberapa pemuda dan pemudi berbondong-bondong datang membawa koper, kardus, dan tas jinjing. Mereka siap menempati kamar yang sudah disediakan.
Di tengah keramaian itu, berdiri seorang wanita paruh baya yang tampak galak tapi penuh wibawa. Ariella Chalista Ichwan, atau yang lebih akrab disapa Mpok Eril, sang pemilik kos.
"Yok sini-sini! Ambil kuncinya masing-masing, perwakilan kamar yee!!!" teriak Mpok Eril sambil mengacungkan setumpuk kunci.
Sebagian orang sudah mulai antre. Tapi di pojokan, dua pemuda justru sedang ribut.
"Eh, lu ambil tuh!" ucap Wildan, mendorong bahunya.
"Lu dong, Tong. Yang muda ambilin. Yang tua capek nih," balas Fahmi malas.
"Lah, lu lah, Kak. Biasanya yang tua jadi ketua, kan?" Wildan tidak mau kalah.
Tiba-tiba langkah kaki cepat menghampiri mereka.
"Eh, ntu bedue mo ngekos ape debat doang nih? Beduaan ae kek homo. Buruan sini barengan!!!" teriak Mpok Eril.
Keduanya langsung diam dan menghampiri.
"Name lu berdue siapeh?" tanya Mpok Eril sambil menyipitkan mata.
Wildan masih bingung. "Nama saya siapa?"
Fahmi langsung menyela dengan nada ledek, "Yeuh goblog. Nama saya Kevin Viano ya, Mpok." Dia bahkan menirukan intro YouTuber.
Mpok Eril langsung mengancam, "Yeng bener! Upin Ipin mo ngekos? Kagek kalo kagek mo dikasih nih kamar buat yang laen."
"Canda, Mpok. Biar gak tegang. Nama saya Wildan Fauzi Jamal," kata Wildan cepat.
"Iye, Mpok. Ah, jan marah-marah terus. Nanti cantiknya maju-mundur kaya Syahrini. Nama saya Fahmi Taufiqul Hakim," tambah Fahmi sambil cengengesan.
Mpok Eril hanya menghela napas panjang lalu menyerahkan satu kunci. "Pas bener. Lu bedua sekamar nih. Kuncinya."
"Makasih, Mpok," ucap mereka berdua serempak sebelum masuk ke kamar nomor 6—kamar yang letaknya paling dekat dengan ruang santai dan tangga.
Tak lama setelah mereka pergi, datanglah sosok yang jauh lebih... unik.
Seorang cowok berjalan goyah sambil membawa daun yang sudah digulung dan dibakar. Matanya sayu, wajahnya linglung, dan napasnya berbau aneh.
"Eheee... Mpok, kamar saya mana yaaa... Huft... Fyuuuhh..." ucapnya sambil menghisap dalam-dalam.
Mpok Eril langsung mengernyit. "Lu nape, Tong? Sehat? Emang lu ngekos sini? Asaan aye gak nerima orang kaya elu."
"Oh iya... itu mama saya yang daftarin, Bu... Ya... jadi nama saya Bardha..." jawabnya pelan, masih seperti setengah sadar.
Mpok Eril bergumam sendiri, "Oh, Bardha. Ada sih. Pantes emaknya nyuruh dia di kamar sendiri. Modelannya si kaga ada yang mau emang."
Dia langsung menyerahkan kunci. "Nih kuncinya. Elu di kamar nomor 4. Tau kaga elu nomor 4 di mana?"
"Ooo... 4. Tau lah saya, Mami... Yaudah teh, saya ke kamar dulu ya... Huuphh... Fyuuuuh..." Bardha pergi sambil masih menghisap "rokok" kertasnya, bahkan sempat memanggil Mpok Eril dengan sebutan mami dan teh.
Mpok Eril hanya menggeleng. "Idih, gile tu anak. Bukan main. Kek orang ngeganja bener. Ah, bodo ama tu bocah. Yang penting bayar rutin. Dia boking setahun sih, makanya aman ae."
Dia menghela napas lagi. "Nah, tinggal dikit lagi nih yang cewe. Pada kemane nih? Ngaret bener gw liat-liat."
Belum sempat Mpok Eril selesai mengomel, datanglah rombongan besar. Bukan satu atau dua orang, tapi hampir sekeluarga besar. Kakek, nenek, ayah, ibu, paman, bibi, bahkan sepupu. Dan di belakang mereka, ada seorang cewek yang tampak sangat malu sambil mengekor pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
KosuFams (END)
Historia CortaMenceritakan tentang lika liku kehidupan didalam kosan Silahkan dibaca mohon maaf masih baru nulis banyak kata2 kurang pas atau gaenak dibaca
