Part 2 - Restu

4 0 0
                                    

9 Januari 2022. Aku sampai ke Jakarta malam. Sambil menunggu grab aku chatingan dengan Hamran. Aku kasih kabar dia kalau aku sudah mendarat dengan selamat dan lagi nunggu grab untuk kekos. Aku selalu ngabarin dia tentang perjalanan aku, dan pas sampai dikospun masih aku kabarin. "yaudah dek, istirahatla. capekan abis perjalanan" seperti itulah kira-kira bunyi chat darinya. Setelah itu komunikasi kami jalan seperti biasa, yang jarang chatingan dan video call juga sesekali pas lagi kangen-kangennya aja. Kami memang bukan tipe pasangan yang harus chatingan setiap saat, laporan setiap saat. Jadi memang sudah seperti kebiasaan aja kami seperti itu komunikasinya. bisa dibilang agak kurang sehat, apalagi untuk kami yang LDR-an. waktu itu aku chat dia, aku bilang kalau mau ke Bogor, ada meeting disana. Aku dibogor 3 hari, rabu sampai jum'at. Nah, waktu itu aku buat story. Kebiasaan aku lagi, aku suka lihat siapa aja yang udah seen story aku. terus nama akun yang dipakai kakaknya buat kepoin aku masih muncul dilist itu. Terus aku mikir, oh masih dipantengin nih. Walau sebenarnya aku juga tidak tahu pasti yang makai akun itu saat itu siapa. Cuma kesimpulan sepihak dariku aja waktu itu. 

Masih seperti biasa, seakan-akan keadaan baik-baik saja. Aku cerita, sharing sama Seorang Mba rekan kerjaku yang udah aku anggap kayak kakak sendiri lah dirantauan ini. Sebut saja dia Mba Fina. Aku cerita tentang kisah cinta aku, aku nanya masukan saran dan lain sebagainya. Mengingat suami dia juga orang J, dan dia orang kota D, sukunya sama pula denganku. Sama bangetlah kayak aku. Mba Fina itu share banyak hal ke aku, dia juga cerita tentang kisah percintaan dia yg sempat kandas dan sampai akhirnya dipertemukan dengan suaminya yg sekarang. Aku masih optimis dengan semua cerita yg aku sampaikan. Karena memang aku dan dia baik-baik saja. Kami masing sangat dan saling mencintai. Waktu disana itu aku sempet cerita ke Hamran yang aku mau dipindahin posisinya tapi tidak jadi. Aku sempat galau karena waktu itu diminta untuk nentuin sendiri posisi jabatan yang aku mau. Aku hanya masih bingung dengan kapasitas diri aku, yang apakah aku mampu mengemban amanah lebih dari posisi aku sekarang?. Kemudian Hamran ngasih aku masukan dan nasehat. Dia selalu sukses sebagai orang yang bisa aku ajak bicara, entah itu hanya hal-hal kecil, hiburan, kerjaan atau apapun lah. Udah senyaman dan se-klop itulah kami. Jadi aku tidak ada berpikiran yang enggak enggak.

Singkat cerita, aku pulang dari Bogor. Sabtu itu aku leha-leha nonton, drakor on going kesukaan aku. Sebelumnya, Jadi awal tahun itu saudaranya dia yang di kota D pulang. Jadi posisinya keluarga mereka lagi ngumpul dirumah mereka dikota C. Awalnya aku mikir dia dirumah dikota C. Jadi aku tidak menghubungi dia, dan hanya menunggu kalau-kalau dia video call aku. Terus aku chat, "kak, adek kangen. kita video call-an yuk" dia bilang "besok aja ya dek, keluarga kakak lagi dikota A semua nih". Okelah aku mengerti mereka lagi kumpul keluarga, dan aku juga tidak ingin mengganggu moment itu. Aku mengalah, masih dengan pikiran aku yg sangat positif. Saat itu kondisinya aku kepo dengan kelanjutan cerita setelah dia ngenalin aku ke keluarganya dan kelanjutan kisah setelah aku bertemu ibunya. Karena setelah itu kami memang tidak ada membahas sedikitpun tentang itu. Aku sempat pernah mau bahas, tapi dia ngehindar seperti masih mau belum bahas, dan mengalihkan ke pembahasan lain. Aku dan rasa penasaranku hanyut dalam pemikiran yang udah traveling kemana-mana. Apakah keluarganya bisa nerima aku? suka gak ya ibunya sama aku? kalau jumpa keluarganya aku harus gimana ya? dan pemikiran-pemikiran lainnya. 

Malam minggunya dia nelpon aku di jam yang tidak biasa menurutku. Waktu itu jam 11-an atau set 12-an malam dia nge-video call aku. Aku memang biasa tidur malam, jadi jam segitu emang masih melek. Tapi dia biasanya suka tidur lebih awal, karena kadang dia harus bangun subuh dan berangkat kerja pagi. Tapi aku ngerasa, oh yaudah sih. karena waktu itu lagi rindu juga sudah lama tidak lihat wajahnya. Awalnya kami video call-an seperti biasa, ngobrol basa-basi. Tapi karena dia diluar jadinya agak berisik. Dia kesulitan mendengar suara aku. Akhirnya kami berganti ke mode call biasa. Tapi entah kenapa ternyata jaringan tidak bersahabat, suaranya putus-putus. Jadinya kami nelpon biasa aja. Aku aneh dong, jam segitu dia masih bangun, diluar pula. Aku tanya dia lagi dimana dan sama siapa. Jadi, dia lg diluar sama temennya. Katanya sih dia suntuk dirumah, karena keluarganya itu lagi dikota A semua. Terus aku tanya  kelanjutan setelah perkenalan kemaren itu gimana. Tanpa basa-basi, karena kayak udah capek aja dengan semua pemikiran dan pertanyaan aku yang aku tidak tahu jawabannya. Dengan suara berat dan sedikit serak dia jawab "itu yang sebenarnya mau kakak bahas". Seketika badan aku dingin. Feeling aku itu kabar buruk. "kenapa?" kata aku. Lalu dia langsung to the poin, dia bilang "ternyata gak sesuai harapan dan ekspektasi kita dek" aku diem sejenak, lalu aku mengatur nafas "gak direstuin ya?" ini kondisinya suara aku udah mulai berat, mata aku udah mulai panas, detak jantung aku udah mulai kencang. Kemudian dia jawab "iya dek. Sebenarnya dari awal gak ada yang setuju dek. Bahkan ibu jumpa adek kemaren aja setelah dibujuk beberapa kali. Bu, ini aku mau ngenalin aja loh, temuin sebentar aja kenapa?" Wah, badan aku udah kayak kesetrum. Aku udah ngeblank. Jadi ibunya mau jumpa aku karena mungkin udah gak enak mau nolak anaknya gimana lagi. Pikiranku menerawang jauh. Terus dia bilang, "waktu itu adek bilang adek gak mau buang buang waktu. Jadi kakak ngerasa gaenak. Sekarang adek maunya gimana? atau adek bisa nunggu kakak berapa lama? kakak masih mau usaha buat yakinin orang tua kakak". Aku diam, Air mata aku udah netes. Suara aku udah berubah, dada aku udah sesak. Aku tidak kebayang aja ternyata yang pernah aku pikirkan akan jadi keyataan. Padahal itu hanya skrenario terburuk yg aku gambarkan dikepalaku. Lalu aku jawab "kak, gak apa-apa, adek bisa kok nunggu kakak. Yang penting kakak masih mau perjuangin adek" "iya dek, kakak coba bicara lagi sama keluarga kakak. Tapi gak sekarang. Suasana dirumah lagi gak enak. Ini aja kakak mau nelpon adek harus keluar dulu. Kakak alasan pergi main sama kawan". Begitu katanya. Aku bisa mengerti posisi dia waktu itu. Aku bilang, "iya kak gak apa-apa" dia jelasin lagi ke aku. "Adek, kakak bisa lawan bapak kakak, tapi kakak gak bisa lawan ibu kakak. Minimal kakak harus dapat restu dari ibu kakak." "Iyaa, adek paham kok kak. Adek juga gak mungkin maksa kakak buat jadi anak durhaka. Gak apa-apa jalanin aja dulu, adek gak apa-apa nunggu". sebanyak itu aku bilang "gak apa-apa" waktu itu aku hanya takut kehilangannya. Terus telpon kami sudah seperti banyak diamnya. Karena kondisinya juga aku sudah hanyut dalam tangis yang aku sembunyikan darinya. Dan dia, mungkin dalam kefrsutasiannya. Setelah itu tidak lama telponnyapun berakhir. Malam itu tangisku pecah lagi. Aku nangis sendiri dikamar. Aku kepikiran tentang mengapa keluarganya tidak menerima aku. Apa kurang aku, aku seperti bisa perbaiki semua. kenapa mereka tidak memberiku kesempatan?

Malam itu aku tidak bisa tidur, kepikiran. Semua skenario negatif bermunculan dikepalaku. Aku paksain untuk tidur, tapi enggak bisa, susah ternyata. Sampai subuh aku hanya bisa menangis. diatas kasur dan mendekap tubuh didalam selimut. Dari yang bersuara sampai ke yang udah capek lahir batin. yang cuma muka datar tapi air mata masih meleleh. Akhirnya subuh aku baru bisa tidur sebentar. Saat bangun pagi, aku keinget dan nangis lg. Waktu itu aku denger musik dikos, musik sedih gitu juga, tapi ternyata itu lagu rohani. Aku cepat-cepat istighfar dan menenangkan diriku.  Jadi hari minggu itu, seharian aku cuma nangis. Awalnya aku pendam sendiri aku enggak cerita ama siapa siapa. Tapi aku tidak kuat lagi, Akhirnya aku cerita sama kakak aku. 

Malam seninnya aku masih murung, air mata meleleh sendiri enggak ngerti juga kenapa. kayak sakit aja hati itu. Dan aku susah tidur lagi. Tapi aku harus tidur, besok senin dan aku harus kerja, masuk kantor pula. Kebetulan besok itu ada agenda morning briefing yang diisi sama Dirut perusahaan tempat aku kerja. Terus aku ketiduran, mungkin karena udah capek nangis. Tapi sekitar jam 1-an malam aku kebangun dan enggak bisa tidur lagi. Akhirnya aku udah yang kayak "capek banget sih nangis mulu. Jana kau ni kenapaaaa?" terus aku bangun, aku wudhu lalu sholat tahajud. Aku baca doa, Aku udah sedikit tenang dan aku mutusin buat puasa besok (eh hari itu), puasa sekalian ngontrol emosi aku. Selesai shalat dan do'a akhirnya aku tidur. Paginya aku kesiangan. Aku bangun  udah sekitaran jam 8-an. Aku mandi, siap-siap dan pergilah aku ke kantor. Sesampainya dikantor, Aku Mba Fina dan Pak bos keruang meeting. Jadi kami briefingnya online pakai zoom. Mereka cerita-cerita ngobrol ringan sambil nungguin waktu buat briefing. Cuma aku kan agak lemes lesu gitu, mungkin mereka berdua mikir kek ni anak kenapa? terus aku ditanya "Jana kamu kenapa?" "dek kamu kenapa?" terus aku senyum, aku gabisa bilang aku gak apa-apa pak, aku baik-baik aja mba. Karena waktu mereka tanya, aku ngerasa seperti. Oh mereka peduli sama aku, mereka ini orang-orang yang bisa aku andalin disini. Aku sendiri di kota antah berantah ini. Terus aku senyum dengan menahan tangis, aku bilang "mau cerita boleh gak?" dengan muka yang udah nahan air mata untuk tidak jatuh kepipi. "boleh dek, cerita aja. kenapa?" aku jawab "Jana gak direstuin" dan disitu tangisku pecah lagi.


Tobe contiued..

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 01, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Akankah menjadi kita?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang